Seorang gadis kecil berumur 7 tahun melirik sahabatnya dengan kerlingan mata penuh arti. "Aku mau menunggu kejutan-kejutan cerita yang bakal ditulis sama kamu, Haqi," ujarnya sembari merebut scrapbook dari tangan sahabatnya, lalu menjadi yang pertama menulisnya di sana: MY HAQEE, MY LAST GATEKEEPER.
Beberapa tahun kemudian...
"Il, puisi-puisi lo di binder daripada terbengkalai, mending gue abadiin di scrapbook aja, ya?"
Tanpa menoleh dengan kesibukan di bangkuku, aku berkata, "Oh. Iya, terserah lo deh, Qi. Aman aja, thanks, ya."
Haqi pun mencomot beberapa puisi dari buku binderku.
"Loh, Il. Puisi lo tentang laptop mana? Kok enggak ada?"
"Oh, di binder lama, tapi ilang, gatau dimana."
"Hmm.. sayang banget. Padahal bagus puisi laptop lo."
Haqi benar. Puisiku tentang kefrustasianku akibat belum kesampaian memiliki benda penting untuk mengerjakan tugas karena masih proses menabung, entah hilang kemana tertelan bumi.
***
SCRAPBOOK: MY HAQEE, MY LAST GATEKEEPER
Roden, .............................
Halaman 107
Puisi ini adalah puisi terakhir Ilma yang gue simpen di scrapbook. Gue sengaja nggak tulis tanggal hari ini, karena waktu gue sebagai ksatria sudah habis, jadi hari ini adalah hari paling melankolis.
Roden, 29 Desember 2025
PANGERAN PILIHAN ALLAH
Pangeranku Datang,
Hatiku Tenang.
Dimana dia, Ya Allah?
Belum kutemukan pangeran yang sudah Engkau pilihkan untukku.
Hmm ... aku harus mencarinya di antara milyaran manusia. Tapi dimana kuharus mencarinya?