SMA Cakrawala. Kalau denger nama itu, kebanyakan orang langsung mikir tentang sekolah elit, prestasi segudang, dan masa depan yang cerah. Setelah setahun sekolah di sini, gue bisa memastikan satu hal. Mereka nggak salah. Bahkan menurut gue, tempat ini jauh lebih elit dari yang orang-orang bayangin. Nama gue Asra Mahendra. Siswa kelas sebelas yang secara teknis adalah murid SMA Cakrawala. Secara teknis. Karena kalau ngomong soal standar anak-anak di sini, gue merasa lebih cocok jadi figuran yang nyasar masuk ke lokasi syuting daripada jadi pemeran utama.
Anak-anak di sini datang ke sekolah diantar mobil mewah atau naik kendaraan yang harganya mungkin lebih mahal dari rumah gue. Mereka ganti handphone lebih sering daripada gue ganti foto profil. Tas mereka merek luar negeri. Sepatu mereka edisi terbatas. Dan uang saku harian mereka? Yah... cukup buat biaya jajan gue selama sebulan. Sementara gue datang ke sekolah naik motor tua yang kalau dipaksa ngomong mungkin bakal minta pensiun. Setiap pagi motor itu selalu ngeluarin suara yang terdengar seperti teriakan minta tolong. Sampai sekarang gue masih heran kenapa dia belum bubar jalan. Mungkin karena nasib kami sama-sama keras.
Kadang gue masih bingung kenapa bisa berakhir di tempat ini. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, alasannya cukup sederhana. Beasiswa. SMA Cakrawala punya program khusus yang bisa membuka jalan ke perguruan tinggi negeri favorit, terutama jurusan kedokteran. Portofolio dari sekolah ini bahkan udah dianggap nilai plus di banyak universitas. Jadi waktu kesempatan itu datang, gue ambil tanpa banyak mikir. Meskipun sekarang gue mulai curiga kalau itu mungkin salah satu keputusan paling nekat yang pernah gue buat. Karena kurikulum di sini benar-benar nggak manusiawi. Saat sekolah lain masih sibuk belajar materi ujian sekolah, anak-anak Cakrawala udah dikasih soal yang rasanya dibuat langsung buat mahasiswa tingkat akhir yang sedang frustrasi terhadap hidup.
Kadang gue baca soal ujian selama lima menit penuh. Bukan buat nyari jawabannya, tapi buat memahami pertanyaannya. Dan sering kali gue tetap gagal. Jadi sampai hari ini, gue masih belum yakin. Apakah pelajarannya memang sesulit itu, atau emang gue aja yang dongo kebangetan. Lagian serius deh, gue liat soalnya aja udah kayak bahasa alien. Untung nilai gue masih bisa nyangkut pas KKM, jadi setidaknya gue bisa menghindari tinggal kelas dan tetap mempertahankan status sebagai manusia normal.
Kadang gue baca soal ujian selama lima menit penuh. Bukan buat nyari jawabannya, tapi buat memahami pertanyaannya. Dan sering kali gue tetap gagal. Jadi sampai hari ini, gue masih belum yakin. Apakah pelajarannya memang sesulit itu, atau emang gue aja yang dongo kebangetan. Lagian serius deh, gue liat soalnya aja udah kayak bahasa alien. Untung nilai gue masih bisa nyangkut pas KKM, jadi setidaknya gue bisa menghindari tinggal kelas dan tetap mempertahankan status sebagai manusia normal.