SECRET BETWEEN US

Dimas Nugraha
Chapter #2

Chapter 1: Gue benci Senin

Gue adalah manusia normal. Dan seperti manusia normal pada umumnya, gue benci hari Senin. Terlebih lagi pagi hari Senin di Kota Bandung yang suhunya masih berkisar dua puluh satu derajat Celsius. Ditambah sekolah gue yang berdiri di daerah kaki bukit. Kombinasi udara dingin, jalanan macet, dan rasa malas yang belum sepenuhnya hilang setelah akhir pekan sukses bikin gue mempertanyakan keputusan buat bangun pagi setiap minggunya.

Motor tua gue meraung pelan saat memasuki gerbang SMA Cakrawala. Seperti biasa, parkiran sekolah ini lebih mirip pameran kendaraan daripada tempat parkir siswa. Mobil-mobil mewah berjajar rapi di sana. Beberapa bahkan harganya mungkin cukup buat beli rumah beserta penghuninya. Sementara motor gue berdiri di antara mereka seperti anak magang yang nyasar masuk rapat direksi.

Gue hampir selalu datang jam enam lewat empat puluh lima menit. Lima belas menit sebelum bel pertama berbunyi. Bukan karena rajin atau punya semangat belajar yang tinggi. Justru kebalikannya. Kalau bisa, gue pengen berangkat lebih siang. Masalahnya, jarak rumah gue ke sekolah hampir sepuluh kilometer. Buat orang yang hobi touring mungkin itu deket. Buat anak sekolah yang harus berangkat tiap pagi? Jauh banget.

Rumah gue ada di pinggiran Kota Bandung, dekat daerah perbatasan kota. Sementara SMA Cakrawala berdiri di salah satu kawasan paling elit di Bandung. Jadi setiap pagi gue harus menempuh perjalanan yang cukup panjang cuma buat duduk di kelas dan berusaha memahami pelajaran yang bahkan gue bingung gurunya ngomong apaan waktu nerangin. Makanya jangan heran kalau hampir tiap hari gue datang dengan tampang orang yang baru selesai mengikuti ekspedisi lintas provinsi.

Ada satu lagi peraturan menyebalkan di sekolah ini. Entah siapa orang jenius yang mencetuskannya, tapi SMA Cakrawala melarang siswa memakai jaket di lingkungan sekolah. Padahal ini Bandung. Pagi hari. Di daerah kaki bukit. Suhu dua puluh satu derajat aja udah cukup buat bikin gue mempertanyakan kenapa manusia nggak punya fitur hibernasi. Yang lebih parah, semua orang di sekolah ini seolah bekerja sama menegakkan aturan itu. Guru pengawas negur. Satpam negur. Bahkan staff kebersihan kadang ikut negur. Awalnya gue pikir setelah dua tahun sekolah di sini gue bakal terbiasa. Ternyata nggak. Dingin tetap dingin. Dan pagi ini rasanya lebih parah dari biasanya.

Gue mengembuskan napas pelan sambil melepas jaket yang sedari tadi jadi benteng pertahanan terakhir gue melawan udara Bandung. Kacamata gue sampai sedikit berembun. Entah karena udara dingin atau karena gue terlalu lama berdiri sambil mengutuk peraturan sekolah dalam hati. Dengan terpaksa gue melipat jaket itu dan memasukkannya ke dalam tas. Tas ransel hitam yang warnanya udah mulai pudar dimakan umur. Kalau dibandingin sama tas anak-anak Cakrawala yang mereknya bikin dompet gue sesak napas, tas gue mungkin lebih cocok dipajang di museum sejarah. Tapi gue tetap memakainya. Tas itu hadiah terakhir dari nyokap sebelum beliau meninggal. Jadi selama tas ini masih bisa dipakai dan talinya belum putus jadi dua bagian, gue nggak punya alasan buat ganti yang baru.

Setelah berhasil melewati gerbang sekolah bersama ratusan siswa lain yang datang dengan obrolan riang mereka, gue mulai berjalan menuju gedung utama. Seperti biasa, topik pembicaraan mereka berkisar antara tren terbaru, drama media sosial, sampai gosip yang entah kenapa dianggap penting. Sementara gue cuma bisa lewat sambil pura-pura nggak denger. Bukan karena nggak mau ikut ngobrol, tapi karena setengah dari apa yang mereka bahas terdengar seperti bahasa asing buat gue. Kelas gue ada di lantai dua. Kelas XI IPA 4. Tempat gue menghabiskan sebagian besar waktu buat berpura-pura memahami pelajaran dan sebagian kecil waktu buat benar-benar memahami pelajaran. Jujur aja, persentasenya nggak terlalu menggembirakan.

Begitu masuk kelas, gue langsung menuju meja langganan gue di pojok belakang. Bukannya gue suka tempat itu. Kalau boleh milih, gue lebih suka duduk dekat jendela kayak tokoh utama komik yang hidupnya damai. Sayangnya hidup gue nggak sedamai itu. Jadi gue milih meja pojok belakang karena lokasinya paling strategis. Dekat pintu belakang. Kalau suatu hari ada keadaan darurat, kebakaran, serangan zombie, atau guru matematika tiba-tiba ngadain kuis mendadak, gue bisa jadi orang pertama yang kabur. Sekolah ini juga menerapkan sistem satu siswa satu meja. Jadi gue nggak punya teman sebangku. Awalnya gue pikir itu menyedihkan. Tapi setelah dua tahun, gue sadar ada banyak keuntungan dari duduk sendirian. Salah satunya, nggak ada yang bisa ngeluh kalau gue tidur pas jam istirahat dan ngiler di meja.

"Pagi, Sra. Udah belajar buat kuis Biologi hari ini?"

Suara itu datang dari depan meja gue. Gue mendongak dan menemukan Irwan Hidayat yang lagi berdiri sambil bawa buku Biologi setebal dosa umat manusia. Dia adalah satu-satunya cowok di kelas yang masih rutin nyapa gue setiap pagi. Entah karena dia emang ramah atau karena belum sadar kalau berteman sama gue nggak ada untungnya. Ngga kayak gue yang cuma pura-pura jadi kutu buku, Irwan adalah kutu buku asli. Rambutnya selalu rapi, kacamata tebalnya hampir nggak pernah lepas, dan isi tasnya lebih banyak buku daripada manusia normal pada umumnya. Topik obrolan favoritnya cuma ada dua, gaming dan komputer. Gue bahkan pernah denger dia debat hampir setengah jam cuma gara-gara kartu grafis.

"Hari ini ada kuis?"

Gue nanya sambil bengong. Irwan langsung diem. Tatapannya berubah jadi tatapan seseorang yang baru sadar kalau temennya lupa bawa parasut setelah pesawat udah keburu terbang.

"Iya. Bu Siska kan udah bilang pas jam terakhir minggu lalu. Tapi santai aja, kok. Cuma kuis ringan." Jawab Irwan dengan santai.

Bangsat, gue nggak denger. Kayaknya gue ketiduran pas Bu Siska ngumumin itu. Gue langsung melirik jam dinding yang tergantung di atas papan tulis. Lima belas menit lagi pelajaran pertama dimulai. Secara teori, gue masih punya waktu buat belajar. Secara praktik, otak gue masih loading sejak turun dari motor tadi pagi. Jangankan ngapalin materi Biologi, nama lengkap gue sendiri rasanya baru setengah masuk.

"Gue rasa kalau gue panik sekarang, nilai kuisnya tetap bakal jelek deh."

Irwan menghela napas panjang. Dia emang udah paham kalau gue sering ketiduran di kelas. Untungnya selama ini gue masih bisa nutupin dosa-dosa akademik gue dengan belajar rutin di rumah. Jadi nilai gue nggak pernah benar-benar anjlok. Masalahnya, semalem situasinya agak berbeda. Gue begadang main game bola bareng temen-temen ajaib gue di rumah Rangga. Awalnya cuma satu pertandingan. Terus nambah satu pertandingan lagi. Terus satu lagi. Sampai akhirnya si Gentong ngelarang ada yang pulang sebelum dia menang.

Tentu aja Rangga yang sifatnya lebih dekat ke iblis daripada manusia nggak bakal ngasih kemenangan itu dengan mudah. Setiap kali Fauzi hampir menang, dia malah makin serius mainnya. Alhasil pertandingan yang seharusnya selesai sebelum jam sebelas berubah jadi perang saudara yang berlangsung sampai lewat tengah malam. Dan karena gue cukup bodoh buat tetap bertahan di sana, gue baru sampai rumah hampir jam dua pagi. Jadi pagi ini gue datang ke sekolah dalam kondisi hampir telat, kurang tidur, dan kemampuan berpikir yang setara sama komputer jadul yang baru dinyalain setelah sepuluh tahun disimpan di gudang.

Bel masuk akhirnya terdengar nyaring di seluruh gedung sekolah. Nggak lama kemudian siswa-siswa dari setiap kelas mulai keluar dan berjalan menuju lapangan untuk upacara pagi. Suasana koridor yang tadi masih dipenuhi obrolan langsung berubah jadi arus manusia berseragam putih abu-abu yang bergerak ke arah yang sama. Gue menghela napas pelan sambil berdiri dari kursi.

Sial.

Upacara.

Artinya gue harus berdiri hampir satu jam penuh sambil berpura-pura mendengarkan pidato kepala sekolah. Kepala sekolah SMA Cakrawala, Pak Cahyono, adalah orang yang baik. Setidaknya gue rasa begitu. Masalahnya, setiap beliau mulai pidato, durasinya sering bikin gue curiga kalau beliau sebenarnya lagi latihan jadi presiden. Dan hari ini, dengan kondisi otak gue yang masih setengah mati akibat begadang semalam, mendengarkan pidato panjang Pak Cahyono terdengar seperti metode penyiksaan yang dilarang organisasi hak asasi manusia. Semoga aja hari ini beliau lagi nggak punya banyak hal buat disampaikan. Saat gue lagi bersiap buat ikut arus manusia menuju lapangan upacara, seseorang tiba-tiba berhenti di samping meja gue.

"Pagi, Asra. Kamu udah sarapan belum? Mata kamu kok kayak mata panda gitu?"

Kepala gue langsung nge-hang. Kalau otak manusia punya tombol restart, mungkin barusan tombol itu kepencet. Bella Larasati. Ketua kelas gue. Sekretaris OSIS. Siswi berprestasi. Dan tanpa diragukan lagi, salah satu cewek paling populer di angkatan gue. Rambut panjangnya jatuh rapi di bahu, kulitnya putih, dan mata hitamnya selalu terlihat hidup setiap kali dia ngobrol sama orang lain. Masalahnya, sekarang dia lagi ngobrol sama gue.

Gue.

Asra Mahendra.

Penghuni tetap meja pojok belakang. Jujur aja, gue tahu Bella memang akrab sama semua orang. Dia tipe orang yang bisa masuk ke kelompok mana aja dan langsung nyambung dalam hitungan menit. Tapi tetap aja, setiap kali dia nyapa gue, rasanya selalu aneh. Soalnya di kepala gue, orang kayak Bella dan orang kayak gue hidup di dua dunia yang berbeda. Dan sejauh yang gue tahu, dua dunia itu seharusnya nggak pernah bersinggungan.

"Iya... ini..."

Gue bahkan nggak tahu mau jawab apa. Untungnya Bella keburu melirik buku Biologi yang masih terbuka di atas meja gue.

"Kamu segitunya belajar buat kuis hari ini? Rajin banget, ya."

Rajin dari mananya? Boro-boro belajar. Semalem bukannya ngeliatin buku, kepala gue malah ngeliatin lapangan hijau di layar laptop milik si Gentong selama berjam-jam. Kalau Bu Siska tiba-tiba ngeluarin soal tentang formasi empat-tiga-tiga atau cara nge-counter serangan balik, mungkin gue bisa dapat nilai sempurna. Sayangnya ini Biologi. Dan setahu gue, mitokondria nggak pernah main sepak bola.

"Oh... iya. Lumayan."

Keluar juga jawaban paling nggak meyakinkan yang pernah diucapkan manusia. Bella malah tersenyum.

"Nggak heran nilai kamu selalu bagus."

Nah. Kalimat itu berhasil bikin rasa bersalah gue naik drastis. Karena kalau Bella tahu semalem gue begadang sampai jam dua pagi demi nyaksiin Fauzi kalah tiga belas kali berturut-turut dari Rangga, dia mungkin bakal menarik kembali pujiannya.

Lihat selengkapnya