Angin malam berembus menembus kerah baju Jarot, membawa hawa dingin yang mengigit kulit. Di Desa Sumbersepi, malam bukan sekadar pergantian waktu ketika matahari tenggelam. Malam di sini adalah selimut pekat yang membungkam segalanya. Jarak antar rumah teramat jauh, membentang hingga satu kilometer jauhnya, hanya disela oleh rimbunan kebun jati yang gelap, semak belukar liar setinggi dada orang dewasa, dan pohon-pohon besar yang rantingnya menjulur menutupi langit.
Listrik tidak pernah menyentuh tempat ini. Tidak ada tiang listrik yang berbaris di pinggir jalan, tidak ada kabel yang melintang. Penerangan satu-satunya di jalan desa yang bergelombang ini hanyalah sisa cahaya bulan yang susah payah menembus celah dahan-dahan pohon. Sesekali, terdengar suara jangkrik dan burung malam yang saling bersahutan, menambah kesan purba dan terisolasi dari desa yang seolah dilupakan zaman ini.
Jarot mempercepat langkahnya. Tangannya merapatkan jaket tipis yang sudah lusuh, warnanya pudar termakan waktu. Dinginnya lereng gunung mulai menusuk tulang, tapi bukan hanya udara dingin yang membuatnya ingin segera sampai di rumah. Ada perasaan tidak enak yang sejak tadi mengganggunya. Perasaan diawasi dari balik pepohonan gelap di sisi kiri dan kanan jalan setapak yang ia lewati.
Napas Jarot memburu. Kaki kasarnya yang terbungkus sandal jepit tipis berulang kali tersandung batu, namun ia tidak peduli. Tapi, langkah kakinya mendadak mati saat matanya menangkap sebuah siluet. Di depan sana, tepat di bawah pohon randu raksasa yang usianya mungkin sudah puluhan tahun—batas sebelum pekarangan rumahnya—seseorang berdiri mematung.
Dalam keremangan malam, bayangan itu memanjang. Ujung rokoknya menyala merah, kembang kempis diisap perlahan, menciptakan titik api kecil di tengah kegelapan yang menelan segalanya.
"Malam-malam begini dari mana, Mas Jarot?"
Suara itu pelan. Sangat lembut. Nada bicaranya mendayu, nyaris seperti orang yang sedang bersenandung. Tapi mendengar suara itu, bulu kuduk Jarot seketika meremang. Bau tembakau murahan yang menyengat bercampur dengan wangi bunga kantil yang entah dari mana asalnya, mendadak memenuhi udara di sekitar mereka. Hawa dingin lereng gunung seakan berubah menjadi hawa kematian.
"Suroto," gumam Jarot, suaranya nyaris tertahan di tenggorokan. Mulutnya terasa kering.
Pria itu melangkah maju, keluar dari bayang-bayang pohon randu. Wajahnya kini tersorot samar cahaya bulan pucat. Suroto tersenyum. Sebuah senyum yang tidak menyentuh matanya yang gelap dan sedingin es. Rambutnya klimis, disisir rapi ke belakang, sangat kontras dengan penampilannya yang mengenakan kemeja gelap bersahaja. Di pinggangnya, samar-samar terlihat tonjolan dari balik bajunya—entah senjata tajam atau sesuatu yang lebih mematikan.
"Dingin begini memang paling enak kumpul keluarga, Mas," Suroto kembali berbicara, masih dengan kelembutan yang sama. "Apalagi keluargamu selalu lengkap di rumah. Ada ibumu yang sudah sepuh itu... pamanmu si Trisno yang keras kepala..."
Suroto menghentikan kalimatnya. Ia mengisap rokoknya dalam-dalam, lalu mengembuskan asap tebal yang mengaburkan wajahnya sejenak.
"...ada Lastri sama Sari juga. Adik-adik perempuanmu itu, makin hari kulihat makin manis saja mereka. Kasihan kalau harus hidup miskin terus di gubuk beralas tanah."
Jarot mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kukunya menancap di telapak tangan hingga terasa sakit. Meski lututnya gemetar hebat, ia memaksa dirinya untuk menatap mata Suroto. "Mau apa kau ke sini, To? Urusan kita sudah selesai bulan lalu saat kuberikan sisa panen jagungku."
Suroto tertawa kecil. Tawa yang sangat pelan, keluar dari hidungnya, tidak bernada riang sama sekali. "Panen jagung, katamu? Mas Jarot... Mas Jarot..." Ia menggeleng pelan, seolah sedang berbicara dengan anak kecil yang tidak mengerti matematika dasar. "Uang jagungmu itu bahkan tidak cukup untuk membayar bunga dari bunga utang almarhum bapakmu. Utang bapakmu itu sudah beranak pinak, Mas. Berkembang biak mengalahkan gulma di kebunmu. Tanahmu, rumah gubukmu yang reot itu, seluruh isi perutnya, nggak bakal cukup buat nutup walau seperseratusnya."
Suroto menjentikkan jarinya, membuang puntung rokoknya ke tanah berdebu. Ia menginjaknya pelan dengan ujung sepatu kulitnya yang mengkilap, memutar tumitnya hingga bara rokok itu mati sepenuhnya.
"Aku cuma mau ngingetin," suara Suroto kini turun satu oktaf, menjadi bisikan serak yang mengancam. "Bosku sudah mulai kehilangan kesabaran. Beliau orang baik, tapi kebaikannya ada batasnya. Kalau minggu depan belum ada uangnya, sekadar untuk mencicil pokoknya... ya, nyawa adik-adikmu itu bisa jadi gantinya. Toh, perempuan seperti Lastri dan Sari pasti laku mahal di luar sana. Banyak cukong yang suka barang dari desa."