Sedarah Daging, Sebangkai Tulang

Adnareth
Chapter #2

Bisikan Sunyi

Malam semakin larut, beringsut menuju dini hari yang paling pekat, namun tak ada satu pun mata di dalam gubuk itu yang berhasil terpejam. Kesunyian tidak lagi terasa menenangkan, ia berubah menjadi monster kasatmata yang duduk di dada setiap penghuni rumah, mencekik aliran napas mereka perlahan-lahan.

Lampu teplok di ruang tengah mulai meredup, nyalanya berkedut sekarat karena kehabisan minyak. Cahayanya yang keemasan kini berubah menjadi jingga redup, melemparkan bayangan-bayangan panjang yang menari liar di dinding anyaman bambu, seolah roh-roh keputusasaan sedang mengelilingi mereka. Sesekali, angin lereng gunung menyusup lewat celah-celah dinding yang lapuk, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, membuat nyala api itu semakin bergetar hebat.

Di ruang depan, Jarot duduk bersandar pada tiang penyangga utama yang kayunya sudah mulai keropos. Matanya merah, menatap kosong ke arah pintu depan yang telah dikuncinya rapat-rapat, meski ia tahu sepotong balok kayu tidak akan pernah bisa menahan orang-orang Suroto. Kepalanya dipenuhi suara tawa lirih Suroto dan aroma bunga kantil yang seakan masih menempel di pori-pori kulitnya. Ia benci pada dirinya sendiri. Ia benci pada tangannya yang gemetar, pada lututnya yang lemas, pada kenyataan bahwa sebagai anak sulung laki-laki, ia tak memiliki daya apa pun untuk melindungi keluarganya dari cengkeraman lintah darat.

Di pojok lain yang lebih gelap, bunyi pemantik api yang diputar kasar berulang kali memecah sepi. Ctrek. Ctrek. Trisno menyulut lintingan tembakaunya yang entah ke berapa malam itu. Ia mengisapnya dalam-dalam hingga bara di ujung rokok memerah terang, menerangi wajahnya yang tirus dan dipenuhi gurat keras. Trisno tidak takut pada Suroto. Yang ia rasakan hanyalah amarah—amarah yang mendidih, pekat, dan beracun. Ia benci pada almarhum kakak iparnya yang mewariskan neraka ini, benci pada Jarot yang menurutnya terlalu lemah, dan benci pada nasib yang mengurungnya di desa jahanam ini.

"Kau mau diam saja sampai pagi, Rot?" serak suara Trisno memecah keheningan, membelah udara pengap di antara mereka.

Jarot hanya mendengus pelan, matanya tidak beralih dari pintu depan. "Bisa tidak Paman diam dulu? Kepalaku rasanya mau pecah."

Trisno tertawa hambar. Tawa yang kering dan tidak bersahabat. "Kepalamu mau pecah memikirkan apa? Memikirkan cara mencari uang puluhan juta dalam tujuh hari? Kau pikir Suroto itu cuma menggertak? Matamu buta kalau kau tidak melihat bagaimana preman-preman itu menelanjangi dan memukuli Kardi dari desa sebelah bulan lalu, cuma karena telat bayar bunga tiga hari."

"Lalu aku harus bagaimana?!" Jarot setengah berteriak, suaranya tertahan oleh rasa frustrasi yang memuncak. Ia menoleh menatap pamannya dengan mata memerah. "Membunuh Suroto?! Kau pikir gampang? Dia punya mata dan telinga di mana-mana! Kita bahkan tidak punya apa-apa untuk dijual!"

"Kita," Trisno memelankan suaranya, membuang asap rokoknya ke udara dengan perlahan. Matanya menyipit, menatap lurus ke arah Jarot. "Punya sesuatu yang berharga. Sesuatu yang tadi disebut Suroto sendiri."

Seketika, darah di nadi Jarot terasa membeku. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis. "Jangan gila," desis Jarot, giginya bergemeretak, tangannya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Mereka itu adik-adikku. Darah dagingku. Lebih baik aku mati dicincang daripada menyerahkan Lastri dan Sari pada bajingan-bajingan itu!"

Trisno mengendikkan bahu, wajahnya sedingin ubin tanah liat di bawah kakinya. "Kau pikir kalau kita semua mati dicincang, Lastri dan Sari akan selamat? Suroto akan tetap mengambil mereka, Rot. Bedanya, mereka diambil setelah melangkahi mayat kita. Pikir pakai akal sehatmu. Bapakmu yang brengsek itu mengorbankan kita semua demi perutnya sendiri. Kenapa kita harus mengorbankan nyawa kita demi utangnya?"

"Tutup mulutmu, Paman!" Jarot melompat berdiri, napasnya memburu beringas. Jari telunjuknya teracung lurus ke wajah Trisno. "Sekali lagi kau bicara begitu, aku sendiri yang akan merobek mulutmu sebelum Suroto datang ke sini!"

Lihat selengkapnya