Sedarah Daging, Sebangkai Tulang

Adnareth
Chapter #3

Sayat Senyap Pagi Buta

Sinar matahari pagi nyaris tak mampu menembus kabut tebal yang membungkus Desa Sumbersepi. Udara terasa lebih dingin dari semalam, menggigit kulit hingga ke tulang sumsum. Di dalam gubuk keluarga Jarot, pagi tidak membawa harapan baru. Pagi hanyalah perpanjangan dari teror yang belum usai.

Di atas piring seng yang penyok dan pinggirannya berkarat, tergeletak potongan singkong rebus yang mulai mengeras. Asap tipis masih mengepul dari sana, membawa aroma tanah yang manis namun hambar. Tidak ada yang menyentuhnya.

Nenek duduk meringkuk di atas tikar pandannya. Tangan keriputnya memegangi dada. Terdengar suara batuk yang menyiksa. Kering, serak, dan berdahak.

"Uhuk! Uhuk!"

Tubuh ringkih itu berguncang hebat. Lastri yang duduk tak jauh darinya buru-buru menyodorkan segelas air putih hangat dalam gelas blirik.

"Minum dulu, Bu," ucap Lastri pelan. Suaranya serak, sisa tangis semalaman. Matanya sembab dan bengkak.

Nenek menepis pelan gelas itu. Ia menunduk, meludah ke sehelai kain lap kotor. Ada bercak merah samar di sana. Darah.

Trisno, yang duduk bersandar pada tiang utama, hanya mendengus melihat pemandangan itu. Tangannya sibuk melinting tembakau. "Batuk begitu tidak akan sembuh cuma pakai air putih, Las. Ibumu butuh obat. Butuh dokter. Tapi boro-boro dokter, beli beras saja kita tidak mampu."

"Paman bisa diam tidak?" Jarot yang sejak tadi duduk termenung di ambang pintu, tiba-tiba bersuara. Rahangnya mengeras. Matanya memerah kurang tidur. "Kalau Paman tidak ada niat membantu, mending tutup mulut."

Trisno menyalakan lintingannya. Asap tebal mengepul. Ia tertawa pelan. "Membantu? Membantu apa, Rot? Membantu mencari puluhan juta dalam seminggu? Aku ini cuma numpang. Yang punya utang bapakmu. Yang ditagih kau, sebagai anak laki-laki tertua."

Tangan Jarot mengepal. Kukunya menancap ke telapak tangan. Ia menatap pamannya dengan sorot kebencian. "Paman ini..."

"Sudah, Mas Jarot. Paman," sela Sari dari arah dapur. Suaranya datar. Tidak ada intonasi takut seperti semalam.

Tak. Tak. Tak.

Sari kembali mengayunkan pisau daging berkarat itu ke atas talenan kayu. Memotong sisa singkong mentah. Matanya menatap lurus ke punggung Parman yang duduk mematung tidak jauh dari Lastri.

Parman menelan ludah. Bunyi pisau itu membuat bulu kuduknya meremang. Sejak pertengkarannya dengan Lastri semalam, ia merasa seluruh isi rumah ini sedang mengawasinya.

Tak. Tak. Tak.

"Pisau itu sudah tajam, Sar. Tidak usah ditekan keras-keras," tegur Lastri tanpa menoleh.

Sari berhenti memotong. Ia menatap bilah pisaunya. "Pisau tajam ini berguna, Mbak. Siapa tahu ada babi hutan yang masuk ke rumah kita."

Parman tersentak. Kepalanya refleks menoleh ke arah dapur. Ia mendapati mata Sari sedang menatapnya lekat-lekat. Dingin. Kosong. Parman buru-buru memalingkan wajah, menunduk menatap ubin tanah liat. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

"Babi hutan apanya," gerutu Trisno, kembali mengisap rokok. "Babi yang datang minggu depan itu namanya Suroto. Dan dia tidak mempan diiris pakai pisau dapur berkarat."

Jarot berdiri tiba-tiba. Dingklik kayu yang didudukinya terpelanting ke belakang. Ia melangkah ke lemarinya, mengambil jaket lusuh dan sebilah golok pendek bersarung kayu. Ia menyisipkan golok itu ke balik sabuk celananya.

"Mau ke mana kau bawa-bawa golok?" tanya Trisno, matanya menyipit.

"Ke desa seberang," jawab Jarot ketus. Sambil mengancingkan jaketnya, ia menatap ibunya yang masih terbatuk pelan. "Aku dengar Haji Bidin baru saja menjual tanah warisan istrinya. Mungkin dia punya uang kas. Aku mau pinjam."

Trisno tertawa keras. Tawa yang sumbang dan memuakkan. "Haji Bidin? Kau mau utang ke lintah darat berkedok agama itu untuk nutup utang lintah darat yang lain? Pintar sekali otakmu, Rot!"

"Terus aku harus diam saja nunggu Suroto datang menjemput adik-adikku?!" bentak Jarot. Suaranya menggelegar, memantul di dinding anyaman bambu. "Aku harus berusaha! Bapak memang keparat, tapi aku bukan Bapak!"

"Ya kau memang bukan bapakmu. Kau lebih bodoh dari dia," balas Trisno tenang, mengembuskan asap tepat ke arah Jarot. "Haji Bidin tidak akan meminjamkan sepeser pun padamu tanpa jaminan sertifikat. Dan kau tidak punya apa-apa."

Jarot melangkah maju. Tangannya mencengkeram kerah baju Trisno, mengangkat tubuh kurus pria tua itu hingga separuh berdiri. "Kutunggu sampai Suroto datang. Kalau dia tidak dapat uangnya, biar kuserahkan kau sebagai gantinya!"

"Lakukan saja!" tantang Trisno, matanya melotot. "Cincang aku sekalian! Kau pikir aku takut?!"

"Mas Jarot! Paman! Sudah!" teriak Lastri sambil bangkit berdiri, berusaha menengahi. Namun tenaganya kalah jauh.

"Uhuk! Uhuk! Hoooeekkk!"

Pertengkaran itu terhenti seketika saat Nenek memuntahkan cairan kental ke lantai tanah. Darah pekat. Banyak sekali. Wanita tua itu terkulai lemah, wajahnya pucat pasi seperti mayat.

Lihat selengkapnya