Sedarah Daging, Sebangkai Tulang

Adnareth
Chapter #4

Panas Tuba dan Bayangan Panjang

Matahari tengah hari seakan turun sejengkal tepat di atas ubun-ubun, memanggang jalanan tanah berbatu yang membelah Desa Sumbersepi. Angin yang biasanya berembus dari lereng bukit kini mati tak berbekas, menyisakan hawa gerah yang meremas paru-paru. Jarot berjalan menyeret kakinya yang hanya beralaskan sandal jepit tipis. Debu kuning beterbangan setiap kali tumitnya menghantam tanah gersang, menempel pada kulit kakinya yang kering dan pecah-pecah.

Keringat mengucur deras membasahi dahi, leher, hingga menembus jaket lusuhnya, menyebarkan bau kecut yang bercampur dengan debu jalanan. Namun, Jarot tidak memedulikan rasa panas yang menyengat kulitnya. Pikirannya jauh lebih mendidih. Ia sedang mempertaruhkan sisa-sisa harga dirinya demi satu tujuan: rumah bertembok putih di desa seberang.

Jarak dari Sumbersepi ke Desa Wringinasri memakan waktu tempuh berjalan kaki lebih dari satu jam. Semakin dekat Jarot dengan tujuannya, pemandangan pepohonan jati yang liar perlahan berganti menjadi petak-petak sawah hijau yang tertata rapi. Tiang-tiang listrik mulai terlihat menjulang di pinggir jalan, membawa kabel-kabel hitam yang mengalirkan kehidupan ke rumah-rumah warga. Perbedaan dua desa yang hanya dibatasi sebuah bukit kecil itu terasa sangat menyakitkan. Di sini, orang-orang bernapas lega. Sementara di rumahnya, keluarganya sedang menunggu giliran untuk disembelih nasib.

Langkah Jarot akhirnya terhenti di depan sebuah pagar besi bercat hijau. Di baliknya, berdiri gagah sebuah rumah bata beratap genteng merah yang mengilap, berlantaikan keramik putih bersih yang seolah menertawakan ubin tanah liat di gubuknya. Itulah rumah Haji Bidin, tuan tanah sekaligus lintah darat berkedok tengkulak hasil bumi.

Jarot menelan ludah. Tenggorokannya terasa dipenuhi pasir. Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan sepanjang jalan, ia mendorong pagar besi itu, berjalan menunduk melewati halaman yang ditanami pohon mangga berbuah lebat, lalu duduk bersimpuh di lantai teras depan, bahkan tidak berani duduk di kursi kayu berukir yang tersedia.

Sepuluh menit ia menunggu bagai pengemis, sebelum pintu kayu jati berlapis pelitur itu terbuka. Haji Bidin keluar mengenakan sarung pelekat mahal dan kaus putih bersih. Pria paruh baya itu berperawakan subur, wajahnya licin, dan sebatang cerutu kecil terselip di antara jari telunjuk dan tengahnya.

"Tumben siang-siang bolong mampir, Rot," sapa Haji Bidin. Suaranya berat dan tenang, khas orang yang tak pernah kekurangan isi piring. Ia mengambil duduk di kursi kayu, menatap Jarot dari atas ke bawah. Pandangannya merendahkan, menguliti setiap keputusasaan yang melekat di baju lusuh Jarot.

"Maaf mengganggu waktu istirahat Pak Haji," Jarot menunduk semakin dalam. Kedua tangannya bertumpu di atas paha yang gemetar. "Saya... saya datang bermaksud meminta tolong, Pak. Sangat mendesak."

Haji Bidin menghisap cerutunya pelan. Asap putih mengepul tebal, membaur dengan udara panas. "Pertolongan itu banyak jenisnya, Rot. Kalau kau minta air minum, pembantuku bisa ambilkan di belakang. Kalau kau minta pekerjaan, panen padiku baru bulan depan. Tapi dari caramu menunduk, dari caramu gemetar... ini urusan perut yang lebih besar, kan?"

"Suroto menagih sisa utang almarhum Bapak, Pak Haji." Jarot akhirnya melepaskan bom di dadanya. Suaranya serak dan pecah. "Minggu depan. Semuanya harus lunas. Kalau tidak..." Jarot tak sanggup meneruskan kalimatnya. Bayangan Lastri dan Sari diseret paksa preman-preman itu membuat tenggorokannya terkunci.

Haji Bidin tersenyum tipis. Bukan senyum simpati, melainkan senyum seseorang yang sudah menebak akhir dari sebuah drama murahan. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kayu.

"Bapakmu itu," Haji Somad memulai dengan nada mendayu yang justru terdengar seperti irisan sembilu, "dulu pernah bersimpuh di teras ini juga, tepat di tempatmu berlutut sekarang. Dia menangis, minta uang buat modal tanam tembakau. Kubilang, tanah kalian itu berbatu, tidak cocok ditanami tembakau. Tapi bapakmu keras kepala. Uang melayang, panen gagal, lalu dia lari meminjam pada Suroto untuk menutupi malunya."

Pria tua itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tajam ke sepasang mata merah Jarot. "Suroto itu iblis, Rot. Semua orang tahu itu. Iblis tidak peduli kau menangis darah. Jadi, berapa yang kau butuhkan?"

"Dua puluh juta, Pak Haji," bisik Jarot parau. Angka itu terdengar sangat besar, sangat mustahil.

Haji Bidin tertawa tertahan, lalu mendecakkan lidah. "Dua puluh juta. Uang segitu bisa untuk beli setengah hektar ladang jagung di desamu. Lalu, apa yang mau kau jadikan jaminan? Sertifikat tanah? Tanah yang rumahmu tempati sekarang itu sudah bukan milik keluargamu, kan? Suratnya sudah dipegang orang lain sejak tiga tahun lalu. BPKB motor? Kau saja ke mari jalan kaki bersandal jepit."

"Tolong, Pak Haji," Jarot merangkak maju selangkah, menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Harga dirinya sudah hancur lebur tanpa sisa. Ia memohon layaknya hewan yang menanti kapak penjagal. "Saya akan bekerja pada Pak Haji seumur hidup. Tanpa dibayar. Tenaga saya utuh. Siang malam saya akan menggarap ladang Pak Haji. Asal... asal adik-adik saya selamat."

Tawa Haji Bidin lenyap perlahan. Wajahnya berubah dingin dan kaku. Ia menatap Jarot seolah sedang melihat hama menjijikkan yang merusak pemandangan teras keramiknya.

"Tenagamu itu murah harganya, Jarot. Sangat murah," kata Somad pelan namun mematikan. "Laki-laki sepertimu, dengan tenaga kasar, bisa kucari puluhan orang di terminal dalam setengah jam. Kau tidak punya nilai apa-apa di mataku. Aku ini pedagang, bukan panti asuhan."

Haji Bidin berdiri. Ia merapikan lipatan sarungnya, lalu membuang sisa cerutunya tepat ke tanah berumput di dekat lutut Jarot.

"Pulanglah, Rot. Selesaikan urusan keluargamu sendiri. Jangan bawa-bawa penyakit Suroto itu ke pekaranganku. Kalau kau tidak bisa bayar utang bapakmu, ya serahkan saja apa yang Suroto mau. Namanya juga utang, harus ada yang dibayar. Kalau uang tidak ada, barang. Kalau barang tidak ada... nyawa."

Pintu kayu jati itu tertutup rapat bersamaan dengan bunyi langkah Haji Bidin yang menjauh. Mengunci segala harapan Jarot di luar. Jarot masih berlutut di atas keramik panas itu untuk waktu yang lama. Tubuhnya kaku. Hatinya seperti digiling hidup-hidup oleh kalimat terakhir lintah darat tadi. Kalau uang tidak ada, barang. Kalau barang tidak ada, nyawa. Kewarasan Jarot retak sedikit demi sedikit. Di bawah terik matahari siang yang membakar, laki-laki malang itu bangkit berdiri dengan tatapan kosong. Hancur sudah. Pintu neraka benar-benar terkunci, dan ia beserta seluruh keluarganya terkurung di dalam bersama iblis.

Lihat selengkapnya