Sedarah Daging, Sebangkai Tulang

Adnareth
Chapter #5

Darah Pertama di Atas Ubin

Malam menelan Desa Sumbersepi utuh-utuh, tanpa menyisakan seberkas pun cahaya bintang di langit. Kabut tebal merayap turun dari lereng bukit, menyelimuti tajuk-tajuk pohon jati dan masuk mengendap-endap ke pekarangan rumah berumput liar. Di luar sana, suara jangkrik dan burung hantu bersahut-sahutan, menyanyikan kidung kematian yang terasa sangat dekat. Angin malam berembus membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sungsum tulang, menerobos masuk melalui celah-celah dinding bilik bambu gubuk peninggalan keluarga Jarot.

Gubuk reyot itu berdiri miring, seolah kelelahan menahan beban penderitaan orang-orang di dalamnya. Dari luar, hanya terlihat pendar cahaya lampu minyak kuning kemerahan yang berkedip lemah, berjuang sendirian melawan kepungan gulita.

Langkah kaki yang berat terdengar menyeret di tanah berbatu pekarangan depan. Jarot pulang. Pria itu berdiri sejenak di depan pintu kayu lapuk, mematung bagai arca. Kepalanya menunduk, napasnya memburu cepat. Keringat dingin sisa perjalanan panjang dari Wringinasri telah mengering di balik jaketnya, meninggalkan bau kecut keputusasaan. Tangan kanannya masuk ke dalam balik jaket, mencengkeram erat gagang kayu goloknya. Ia tidak melepaskan barangnya sedetik pun, seolah benda tajam itu adalah satu-satunya nyawa yang tersisa untuknya.

Terdengar bunyi derit engsel karatan yang melengking saat pintu didorong terbuka.

Keheningan di ruang tengah langsung menyergap wajah Jarot bagai tamparan es. Udara di dalam sana terasa jauh lebih pengap, dipenuhi bau apak keringat, napas sengal orang sakit, dan jelaga dari lampu teplok.

Di atas tikar pandan yang robek pinggirannya, Nenek terbaring dengan dada bergemuruh. Setiap tarikan napas wanita tua itu terdengar seperti suara kertas amplas yang digesekkan ke papan kayu—kasar, basah, dan putus-putus. Lastri duduk bersimpuh di sebelahnya, menyeka keringat dingin di dahi ibunya dengan selembar kain kusam. Mata Lastri sembab, wajahnya pias tak berdarah, lelah meratapi nasib yang tak kunjung terang.

Di sudut ruangan yang lebih gelap, Trisno menyandarkan punggung bungkuknya pada tiang kayu keropos. Kepulan asap putih keluar dari hidungnya, tebal dan berbau cengkeh murahan. Pria tua itu menatap keponakannya yang baru datang dari balik tabir asap, tatapannya tajam menelanjangi, menagih hasil dari sebuah perjalanan yang ia yakini sedari awal hanya akan membuahkan kehinaan.

Sedangkan Parman, laki-laki itu duduk memeluk lutut tak jauh dari pintu kamarnya. Rambutnya acak-acakan, kemejanya basah oleh peluh yang berbau tengik. Begitu pintu terbuka, Parman mendongak cepat. Matanya merah dan liar, menyapu sosok Jarot dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ada ketakutan hewan buruan di dalam manik mata Parman, ketakutan yang membuat seluruh tubuhnya bergetar hebat. Pikirannya berlarian tanpa arah, dihantui oleh sepatu raib dan parang Suroto yang menari-nari di pelupuk matanya.

Jarot masuk tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia menutup pintu di belakangnya, lalu melangkah gontai menuju dingklik kayu di tengah ruangan. Ia duduk, menjatuhkan tubuhnya seolah seluruh tulang di tubuhnya telah dilucuti. Kepalanya menunduk dalam-dalam. Tangannya masih berada di balik jaket, membelai gagang golok dalam diam.

Kesunyian merajai gubuk itu selama beberapa menit yang terasa bagai berjam-jam. Tidak ada yang berani bertanya. Tidak ada yang berani memecah kebisuan. Semua orang di ruangan itu bisa membaca raut wajah Jarot dengan sangat jelas. Kepulangan tanpa sapaan dan tanpa amarah yang meledak itu sudah menjadi jawaban yang paling nyaring: Haji Bidin menolak meminjamkan uang. Harapan terakhir mereka telah hangus menjadi abu yang berserakan di jalanan.

Di tengah keheningan yang menyiksa itu, Parman terus menggeser duduknya, merapatkan punggung ke dinding bilik dengan gelisah. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga nyaris menjebol tulang rusuknya. Ia merasa terperangkap. Ia seperti tikus tanah yang dikurung dalam toples kaca tanpa celah udara. Rencananya untuk kabur malam ini membelah hutan telah hancur lebur hanya karena sebelah sandal kulitnya lenyap bagai ditelan bumi.

Tanpa sengaja, pandangan Parman bergeser ketakutan melewati ruang tengah, menembus cahaya remang menuju area dapur yang gelap.

Di sana, di dekat tumpukan abu perapian yang telah sedingin mayat, Sari duduk di atas bangku kayu pendek. Gadis itu tidak sedang melakukan apa-apa. Tangannya tertumpu di atas pangkuan, menggenggam erat sebuah pisau daging yang ujung berkaratnya memantulkan kilat keemasan dari lampu minyak.

Napas Parman tercekat di tenggorokan. Sari sedang menatapnya.

Bukan tatapan takut yang biasa ia lihat dari adik iparnya itu. Bukan pula tatapan memelas minta diselamatkan. Sari menatap lurus menembus keremangan, tepat ke dalam kedua bola mata Parman, tak berkedip sama sekali. Di bibir tipis gadis itu, tersungging sebuah senyum kecil—sangat tipis, sangat kaku, namun memancarkan kengerian murni yang membuat darah di sekujur tubuh Parman serasa beku.

Dalam satu detik yang terasa menarik jiwanya keluar dari raga itu, Parman menyadari segalanya.

Pertanyaan yang sejak siang menyiksa isi kepalanya terjawab sudah. Bukan Lastri yang mengambil sandalnya. Bukan Trisno si pria tua penggerutu. Bukan pula Jarot yang sedang pergi mencari pinjaman. Gadis pendiam yang selama ini selalu menunduk ketakutan dan tidak pernah banyak bicara itulah pelakunya. Senyum ganjil di bibir Sari adalah sebuah pernyataan tanpa suara yang menyayat kewarasannya: Kau tidak akan bisa lari ke mana pun, Mas. Sari telah memotong kakinya sebelum ia sempat melangkah keluar dari pekarangan. Sari sengaja mengurungnya di rumah ini untuk memastikan mereka semua menemui ajal yang sama.

Parman menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca berkarat. Tangannya meremas celana kainnya dengan kuat hingga kuku-kukunya memutih. Ia ingin berteriak histeris, ia ingin menerjang gadis gila di dapur itu dan mencekik lehernya, namun aura mematikan yang menguar dari tubuh Jarot di tengah ruangan memaksanya untuk menahan diri. Laki-laki pengecut itu kini benar-benar terpojok ke sudut yang paling gelap. Suroto menunggu di luar sana untuk mengulitinya di akhir minggu, sementara di dalam rumah ini, keluarga istrinya diam-diam mulai mengasah pisau.

"Jadi," suara serak Trisno mendadak membelah udara yang tegang, mengejutkan seisi ruangan. Pria tua itu membuang putung rokoknya ke ubin tanah liat, lalu menginjaknya pelan dengan tumit. "Kau pulang dengan tangan kosong, kan, Rot?"

Jarot tidak bergerak seinci pun. Kepalanya masih menunduk menatap tanah di bawah kakinya.

Lihat selengkapnya