“Gak! Kamu gak boleh ngekos!” bentak Bagas yang langsung memalingkan wajahnya. Hatinya terasa memanas dan membuatnya menghela napas kasar. “Buang-buang uang aja!”
Pikiran Yuda menjadi tak menentu. Lagi-lagi ia harus menelan segala impian yang sudah dibayangkannya sejak kemarin diterima di universitas. Dirinya sudah memikirkan akan mendatangi kos demi kos, akan ke kampus lebih dekat, bisa pulang lebih malam, dan poin pentingnya: tidak perlu memikirkan orang lain, Yuda hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Semua pikiran itu seketika menjadi hancur layaknya manik-manik kaca yang baru saja dipecahkan.
“Tapi iya, lho, nak! Lagian bisa kok pulang-pergi, ‘kan gak selama itu juga perjalanan dari sini ke kampus! Ya … Paling satu jam,” lanjut Windy dengan nada lembut. “Mamah juga takut kalau ngelepas kamu, di sini aja hidup kamu gak karuan, gimana di luar! Belum lagi bisa aja kamu boros hidupnya. Ah, pokoknya gak usah ngekos deh!”
Yuda hanya bisa mengangguk pasrah. Pikirannya masih berkecamuk. Hatinya yang hancur itu perlahan mendapatkan sebuah ide untuk melarikan diri: menginap di rumah Uak Arya jika diperlukan (meski tentu saja Yuda ingin selamanya di rumah Uak Arya). “'Kan di rumahnya lebih deket juga tuh kalau ke kampus, jadi gak perlu pagi-pagi banget aku berangkatnya, belum Mamah juga nantinya repot kalau aku harus berangkat pagi-pagi!”
Suasana ruang keluarga seketika hening untuk beberapa detik. Yuda terus memerhatikan sinar lampu di teras yang mati-nyala agar bisa berhenti fokus pada suara detak jantungnya. Dirinya tak mampu memandang wajah kedua orang tuanya, takut mendambakan harapan besar untuk kesekian kalinya. Suara Bagas akhirnya memecahkan keheningan. Suara yang tenang dan dalam itu menenangkan hati Yuda yang bergejolak sejak tadi.
Akhirnya, aku bisa kabur juga! Batin Yuda yang kini sedang tersenyum puas. Karena malam semakin larut, Windy dan Bagas memutuskan untuk pergi dan masuk ke kamar, menyisakan Yuda dan Rara—anak Windy dari pernikahan sebelumnya—di ruang keluarga. Rara yang sedari tadi hanya memerhatikan arah perbincangan, kini memilih untuk tidak berdiam diri lagi.
Dirinya mendekat ke arah Yuda dan berbisik, “Tau gak sih? Kamu itu jago banget menghancurkan perdamaian! Gara-gara kamu tau gak, keluarga kita ribut terus!”
Lampu ruang tamu dimatikan oleh Rara yang berlalu pergi ke kamarnya. Yuda, dalam kegelapan, hanya bisa memandang bayang-bayang Rara dengan tatapan sinis agar tidak menimbulkan kericuhan lainnya.
***
Setelah kesenangan sekejap yang langsung dihancurkan kakak tirinya, Yuda masuk ke kamar dan mengambil buku diary milik ibunya yang ada dalam laci di lemari pakaian. Buku bersampul coklat itu disimpannya di atas meja belajar dengan penuh hati-hati. Tulang duduknya kini bersentuhan dengan dinginnya kursi. Setelah menarik napas panjang, Yuda menarik sampul buku dan langsung disuguhkan dengan robekan koran yang menampilkan gambar ibunya dengan kalimat yang dicetak tebal di atasnya:
Dyah Kartika, Atlet Bulu Tangkis Nasional, Resmi Berhenti dari Dunia Bulu Tangkis Akibat Cedera yang Dialaminya