“Da, kamu berhenti main badminton, ya.” Ungkapan dari Bagas lima tahun lalu terulang lagi dibenak Yuda. Kenangan lantas melesat pada pertemuan terakhirnya dengan pelatih, teman-teman, dan raket tercintanya. Rasa sakit harus berpisah dengan semua hal itu kembali memenuhi hatinya.
Memori saat dirinya kehilangan kesempatan menjadi atlet abadi itu terus memenuhi isi pikirannya. Apalagi saat muka Windy yang memerah dan matanya yang menatap tajam saat Yuda hendak pergi bermain badminton kembali melintas. “Mau kemana kamu, Yuda? Udah dibilangin jangan lagi bawa-bawa raket! Kamu tuh ya, bandel banget!”
“Lagian bakat kamu bagus sekarang emang di masa depan nanti bakal bangus? Cih, belum tentu juga!” Kalimat yang keluar dari mulut Rara juga ikut memasuki isi pikirannya. Napas Yuda semakin tidak teratur dan keringat yang keluar dari tangannya semakin banyak. Belum sempat memori buruk lain bermunculan, pikirannya kembali terpusat pada masa kini saat Naufal berkata bahwa Yuda tidak lagi terlihat di dunia badminton semasa SMA.
“Kamu istirahat, ya? Asik banget, deh! Iri aku,” ungkap Naufal sambil menepuk kedua bahu Yuda. “Jadi gimana? Mau mulai lagi di sini gak? Nanti kita barengan! Asik juga ‘kan kalau belum mulai ikut udah punya temen, jadi gak khawatir banget pas first meet!”
Yuda terdiam sejenak. “Aku … Pikirin dulu deh.” Yuda lantas mengambil brosur yang tersedia dan berpamitan pada Naufal dan kakak penjaga stand itu. Brosur yang ada di tangannya itu menjadi sedikit basah.
***
Peristiwa tadi siang membuat Yuda jadi tertarik mengikuti badminton lagi. Meskipun minat itu tidak pernah hilang selamanya, tetapi Yuda tak pernah tertarik untuk melawan kedua orang tuanya. Dirinya yang sedang melihat brosur UKM yang sudah penuh dengan lipatan sedikit terkejut saat handphone-nya bergetar. Dengan cepat tombol telepon ia geser ke kanan.
“Gimana, Da? Ospeknya seru?” tanya Bagas di telepon yang dijawab Yuda seadanya.
Perbincangan antara anak dan ayahnya ini berlangsung tidak lama. Setelah menjawab akan pulang setelah orientasi fakultas dan berjanji tidak akan merepotkan Uak-nya, Bagas menutup telepon. Tarikan napas panjang Yuda lakukan untuk menenangkan diri sejenak.
Karena merasa tidak semangat untuk orientasi fakultas besok, Yuda memilih untuk mengambil buku diary ibunya dari ranselnya. Buku kecil berisikan catatan tentang masa muda ibunya itu ditaruh perlahan di atas meja. Dirinya lantas menarik sampul buku dan halaman pertama. Halaman kedua ternyata berisikan masa sedih Tika karena tidak bisa menjadi atlet lagi.
Hai,