“Ya aku tau lah! Nama kamu itu agak khas, terus wajah kamu juga … Gimana ya deskripsiinnya … Ya … intinya beda, deh! Khas juga!” jelas Sisi sesaat setelah Yuda bertanya dirinya yakin bahwa orang disampingnya tadi pagi adalah Yuda. Setelah seharian berkutat dengan perkenalan fakultas dan jurusan, Yuda dan Sisi memutuskan untuk berjalan bersama menuju gerbang kampus. Hangatnya mentari sore membuat perjalanan mereka menuju gerbang terasa seperti dalam sebuah drama. Kendati demikian, mereka berdua masih canggung, apalagi Yuda yang hanya bisa tersenyum tipis setiap kali mendengarkan penjelasan dari Sisi.
“Sayang banget yak tadi pagi kita gak lama banget kenalannya, keburu fokus sama kelompok masing-masing sih!” keluh Sisi sembari melihat ke tanah. Dalam sekejap, pandangannya kini kembali ke arah Yuda. “Ah, iya! Kamu masih suka sama badminton, gak? Kalau masih, boleh kali kita main bareng!”
Hati Yuda sedikit terusik mendengar pertanyaan itu. Melihat ujung gerbang yang semakin dekat, dirinya memutuskan untuk mengalihkan topik obrolan dengan bertanya, “Kamu pulang naik apa?”
“Aku? Kayanya sih dijemput, kamu?” Pertanyaan Sisi dijawab Yuda dengan menunjuk jajaran motor yang ada di seberang mereka. Setelah memastikan Sisi akan dijemput, Yuda meminta untuk pamit terlebih dahulu agar bisa beristirahat lebih cepat. Tepat sebelum Yuda menghilang dari pandangan, Sisi kembali berbicara.
“Aku gak tau kamu masih suka atau enggak, tapi kalau kamu masih tertarik badminton, coba ikutan aja UKM-nya, i think that’s gonna be great for you.”
***
Dua hari orientasi fakultas telah berlalu. Kini, Yuda sedang merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu di rumahnya. Saat hendak tertidur, pikiran Yuda tetiba melayang pada percakapan dirinya dengan Sisi kemarin. Kemarin, Yuda yang mulai berani berbicara mengenai keraguannya untuk ikut UKM badminton pada Sisi mendapatkan kata-kata istimewa yang membuat hatinya sedikit berdebar.
“Kalau dari aku sendiri sih, daripada nyesel, mendingan ikut. Tapi ya terserah, kalau kamu ngerasa ragu banget, mending gak usah. Apapun yang kamu pilih, aku dukung, kok. Aku bakal jadi the number one yang dukung kamu selama itu gak menyalahi hukum!”
Yuda tersenyum lebar mengingat percakapan itu lagi. Meskipun ujungnya dipatahkan dengan argumen Sisi mendukungnya karena teman masa kecil yang telah lama hilang kontak akhirnya ditemukan, tetapi Yuda tak peduli. Satu paragraf penuh itu akan selalu diingatnya untuk menjadi sebuah penyemangat dikala sedih.
Namun, kebimbangan mengikuti UKM Badminton kembali mengisi benaknya. Setelah satu helaan napas, pikiran yang menganggu itu perlahan menemukan jawaban: melihat kembali brosur badminton yang didapatkannya tiga hari lalu dan menghubungi contact person yang tertera. Dengan cepat, tubuhnya dibangkitkan dan digerakkan menaiki satu demi satu anak tangga. Baru saja tiba, matanya seketika terbuka lebar saat mendapati Windy sedang berdiri di depan kamarnya sambil menggenggam sebuah brosur kecil berwarna oranye dengan tulisan ‘Badminton Club’ di paling atasnya.