See You In My Late 20s

Yajma Sadida
Chapter #5

4: Secara Rahasia

Daun-daun yang berguguran membuat Yuda tak sadar bahwa Sisi sudah memanggilnya sedari tadi. Yuda yang masih terkejut meminta maaf dan menyapa Sisi dengan canggung. Setelah percakapan singkat soal kelas pertama mereka, Yuda dengan ragu-ragu bertanya tentang pendapat mengikuti UKM badminton pada perempuan di depannya itu.

“Ya, kenapa enggak sih? Ikut aja! Itu juga hal favorit kamu, gak sih?” ungkap Sisi sambil tersenyum. “Selama didukung ortu why not sih, Da.”

“Tapi … ortu aku gak setuju, Si.” Sisi membeku sejenak sesaat setelah lelaki berkemeja kotak-kotak berwarna hijau itu berucap. Suasana seketika di isi oleh samar-samar suara orang sekitar keduanya.

***

“Eh, Yuda! Ketemu lagi kita!” sapa Naufal setelah jamaah salat dzuhur bubar. Yuda yang hendak mengambil sepatu seketika terhenti dan membalas sapaan orang yang dikenalnya seminggu lalu itu. Keinginannya untuk mengambil sepatu mau tidak mau ia singkirkan saat Naufal mengajaknya duduk di koridor masjid untuk berbincang sebentar.

Obrolan tentang persiapan orientasi jurusan masing-masing pun dimulai. Naufal mulai bercerita tentang orientasi jurusan yang mulai memasuki era-era tugas pra-orientasi, ditambah lagi orientasi fakultas yang masih berjalan membuatnya tak bisa lagi bebas bermain game. Berbeda dengan lelaki di hadapannya, Yuda yang sudah selesai orientasi fakultasnya merasa sedikit bebas serta tugas-tugas pra-orientasi jurusannya juga tidak begitu berat.

“Eh, betewe, kamu jadi ikut badminton gak? Aku udah join grupnya, lho!” Naufal membuka aplikasi pengirim pesan dan menunjukkan grup badminton kampus pada Yuda.

“Gak tau nih, masih bingung. Gak diizinin ortu,” jawab Yuda sambil mengusap-usap lantai yang tak basah.

“Ah, elah! Santai aja gak sih?” Naufal menepuk bahu Yuda sedikit kencang. “Kita udah gede juga! Ngapain coba minta izin ke ortu? Kuliah itu masa kebebasan, bro! Gak perlulah kita ngikutin banget larangan ortu, this is our life, bro!”

Yuda mengalihkan pandangannya ke sekitar masjid setelah sedari tadi pandangannya tertuju pada lelaki berdahi lebar itu. Pikirannya kembali diliputi rasa keraguan dan khawatir. Tak lama setelahnya, Naufal buru-buru pamit karena akan ada kumpul dengan kelompok di orientasi jurusannya.

Melihat Naufal pergi secara perlahan, Yuda pun seketika berdiri dan mengambil sepatunya. Ia berusaha kembali ke kegiatan sebelum bertemu dengan Naufal tadi.

***

Lihat selengkapnya