See You In My Late 20s

Yajma Sadida
Chapter #6

5: Antara Ketakutan dan Kesenangan

“UDAH DIBILANGIN JANGAN, YUDA!” Bagas melempar dirinya ke sofa. Matanya dipejamkan sambil ujung jempol dan telunjuknya memijit pelipisnya. “Langgar aja semua, Da, LANGGAR!”

Lantai yang dipandangi Yuda perlahan-lahan memburam. Apa yang dipikirkannya tadi malam, tak disangka akan langsung terjadi keesokan harinya. Dadanya kini terasa ditekan oleh batu besar. Meskipun begitu, dirinya tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, karena memang ini adalah konsekuensi yang harus ia terima bila melanggar larangan kedua orang tuanya.

Suara Bagas kini terdengar kembali. Akan tetapi, Yuda tak begitu memerhatinan setiap kata yang keluar dari mulut papanya itu dan sibuk mengalihkan pandangannya ke arah raket kesayangannya yang telah rusak, apalagi stringed area-nya. Bulu-bulu berwarna putih juga bertebaran di sekelilingnya. Perlahan-lahan, Yuda mengalihkan perhatian ke arah mama dan kakak tirinya yang berada di sebelah kanan papanya. Keduanya menatapnya dengan sinis, membuatnya tak kuasa bertatap mata lama-lama saat tak sengaja bertemu pandang.

“Yuda, bisa gak sih kamu hormati satu keinginan mamah kamu? Kamu gak nganggep dia orang asing lagi, ‘kan?” Yuda menggeleng saat Bagas mengambil jeda. “Nah, kalau gitu hormatin dong! Lagian, mamah kamu yang itu ‘kan udah hancurin hidup kamu, Da! Kenapa sih masih kebayang orang yang udah gak ada!”

TET-TET-TET-TET

Alarm pagi seketika membuat matanya terbuka dan kembali ke dunia nyata. Dalam keadaan setengah sadar, Yuda menekan tombol off pada layar handphone dan menekan saklar lampu. Merasa benda cair yang dingin membasahi area sekitar kedua matanya, Yuda seketika menggosok-gosok area tersebut. Dirinya lantas mengambil napas beberapa kali untuk menenangkan detak jantung yang tak beraturan sambil mengingat-ingat peristiwa dalam alam bawah sadarnya tadi. Teguran kah itu?

***

“Kamu! Jam segini masih aja rebahan!” Windy tiba-tiba muncul di depan pintunya. Yuda yang sedang merebahkan diri buru-buru terduduk. “Gak ke kampus? Lihat kakak kamu dong, udah berangkat dari tadi!”

Yuda lantas berbicara bahwa hari ini tiada kelas pagi. Mendengar pernyataan anaknya, Windy membentuk huruf “o” di mulutnya tanpa suara. Windy yang sedikit bersalah karena membentak anaknya seketika membuat suasana menjadi canggung. Yuda yang merasa pembicaraan telah terhenti mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela. Awan-awan putih mulai mewarnai langit biru. Sinar mentari yang belum begitu terik membuat pemandangan indah itu nyaman dipandang.

“Hm, kamu nih suka banget ngebantah orang tua!” Windy berbicara sambil perhatiannya tertuju pada sapu yang menjangkau setiap debu di lantai. “Sana gih, cuci baju kamu! Udah mamah pisahin, tuh!”

Satu tarikan napas panjang diambilnya. Kepala Yuda lanta naik-turun dengan cepat untuk merespons ucapan ibunya. Setelah kakinya menyentuh dinginnya lantai dan meregangkan seluruh badannya, Yuda melangkahkan kaki untuk mengambil keranjang cucian miliknya. Dirinya lantas mencuci satu per satu pakaiannya di kamar mandi, berbanding terbalik dengan mesin pencuci yang sedang memutar-mutar pakaian ketiga manusia lain di rumah tersebut.

Lihat selengkapnya