Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #1

Prolog

Pada satu titik di mana kedua pasang mata kami bertemu, lamunanku buyar seketika. Lantas sudut bibirku perlahan terangkat, membentuk simpul senyum yang aku yakini diikuti oleh kerutan halus di kedua sudut mataku. Lalu aku kembali menyadari bahwa di dalam mulutku sedang melumatkan sesuap nasi yang bercampur dengan sup kaldu buntut sapi.

Aku menganggukkan kepala padanya sambil mengangkat kecil sendok dan garpu yang ada di tanganku—mengisyaratkan padanya untuk melanjutkan makan. Dia menyambutnya dengan mengukir senyuman manis pada mulut kecilnya yang penuh. Namun, dari mulut kecil itu, membuat ingatanku ditarik kembali ke perbincangan singkat pada malam kemarin. Biasanya di malam hari—setelah kami menyantap hidangan makan malam yang sudah aku siapkan lalu disambut dengan empat piring penuh melingkar di meja makan—kami akan menyisihkan waktu untuk berkumpul di ruang keluarga sebelum masuk ke kamar masing-masing. Akan tetapi, malam kemarin sedikit berbeda, kami memutuskan untuk istirahat lebih awal dan melewatkan percakapan kecil setelah makan karena telah menjalani hari yang cukup panjang.

Aku mengantarkan si bungsu masuk ke kamarnya, lalu memilih salah satu buku cerita tentang kawanan domba sebagai pengantar tidur. Biasanya dia akan menyambut dengan antusias cerita anak apapun yang aku bawakan, tetapi malam kemarin sepanjang aku mendongeng, tatapannya kosong menghadap ke langit-langit ruang kamarnya yang temaram. Lantas sebuah pertanyaan terlontar padaku, kalimat sederhana yang sudah aku ketahui sejak awal—sedari waktu rahimku menjadi tempat berteduh sosok mungil yang dirinya panggil sebagai kakak sekarang—bahwa setidaknya suatu hari nanti satu diantara mereka atau bahkan keduanya akan menanyakan hal ini.

Bagaimana bentuk dunia tanpa Ibu di dalamnya?

Aku tercekat saat pertanyaan tersebut terlempar dari mulut bocah lelaki berusia delapan tahun itu. Lantas dia menceritakan bahwa hari ini dia baru mengenal konsep tentang keberadaan manusia yang fana di dunia ini setelah salah seorang ibu dari teman kelasnya dikabarkan wafat selumbari.

Barangkali aku hanya perlu menjawab dengan mengedepankan perasaanku yang sesungguhnya—bahwa ‘bentuk dunia tanpa Ibu’ adalah tentang bagaimana seluruh hal di dalamnya seolah berhenti sedangkan sialnya hidup terus berlanjut, padahal nyatanya diri kita sendiri sedang tidak ingin berjalan hingga akhirnya lambat laun menyadari kalau yang selama ini kita lakukan hanyalah untuk bertahan. Namun, tentu saja bukan itu yang akan keluar dari mulutku untuk menjawab pertanyaan bocah lelaki tersebut, bahkan tangannya yang kecil belum terlalu kokoh untuk menggenggam semangkuk sup buntut sapi apalagi jika itu dunia.

Aku mengalihkan pandangan sejenak ke arah foto yang terpampang di dinding kamar itu. Sebuah foto yang aku potret menggunakan kamera analog medium format saat dia berumur enam tahun di atas sepeda pertamanya. Hari pertama ketika dia berhasil mengayuh sepeda roda duanya. Kualitas kamera dengan film gulung 120 itu tentu saja berhasil mengabadikan ekspresi gembiranya—senyuman paling lebar yang pernah aku lihat diikuti dengan kedua mata yang menyipit menghadap ke kamera dan salah satu tangan mengacungkan ibu jari sedang tangan yang lain memegang erat hand grip—dengan jelas dan tajam karena bokeh sinematiknya yang detail fokus menonjolkan objek utama foto tersebut tanpa mengurangi estetika latarnya.

Belum sempat aku lontarkan sepatah kata, lantas dia menyusulkan pertanyaan lainnya.

Bagaimana cara kita mengingat orang yang sudah tiada? Apakah sama seperti domba yang bila waktunya di dunia sudah habis akan berubah menjadi gumpalan awan, sehingga kita hanya perlu melihat ke langit-langit?

Itu pertanyaan sulit. Tentu saja aku tidak berpikir bahwa bocah lelaki dengan pemikiran cerdas itu benar-benar mengira bahwa cerita domba di dongeng yang baru saja aku bacakan tadi nyata adanya—bahwa mereka akan mengubah dirinya menjadi gumpalan awan ketika habis masanya di dunia. Akan tetapi, salah satu hal menyeramkan menjadi orang tua adalah saat di mana anak yang kita besarkan mulai mencecar kita dengan puluhan bahkan ratusan pertanyaan untuk memuaskan rasa ingin tahunya. Hingga tibalah di penghujung percakapan malam itu, dia melontarkan pertanyaan ketiganya.

Apakah suatu hari nanti Ibu juga akan meninggalkanku?

Satu kalimat pamungkas itu seolah menghujam anak panah tepat ke bagian terdalam pada bilik jantungku. Aku mengerti dari sorot matanya, bahwa itu bukan pertanyaan terakhir karena dia pasti akan menyusulkannya dengan pertanyaan-pertanyaan lainnya, seperti: ‘lalu siapa yang akan membuatkan dua telur mata sapi untukku? siapa yang akan membersihkan noda peluh di seragam putihku karena menghabiskan jam istirahat dengan bermain petak umpet di sekolah? siapa yang akan membacakan dongeng pengantar tidurku? dan siapa yang akan menjadi tempatku bertukar cerita tentang hari-hari panjang yang aku lalui?

Namun, keheningan di antara kami berdua semenjak pertanyaan pertama tadi dilontarkan ternyata lebih keras daripada niat bocah lelaki itu untuk mengucapkan pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Aku mencoba mengurai senyum di wajahku dengan kedua mata yang berbinar, “Anak Ibu pintar sekali,” tanganku mencoba meraih rambutnya lalu kubelai dengan lembut. “Bolehkah Ibu menjawabnya besok? Ibu harus memikirkan jawaban yang bagus, barangkali setelah membacakanmu dongeng pengantar tidur besok, jawaban cemerlang akan muncul di kepala Ibu,” tukasku.

Dia mengangguk dan membalas senyumanku. Aku mengecup dahinya sebelum benar-benar beranjak dari kamar tersebut. Kedua mataku terpejam saat memberikan kecupan tersebut sembari bergumam di dalam hati—Ibu akan berusaha hidup lebih lama dan berumur panjang untukmu.

Lihat selengkapnya