Lima belas tahun yang lalu.
Mereka bilang ini adalah detik-detik paling menegangkan dalam fase hidup seseorang. Ketika seorang perempuan bertaruh dengan takdir di atas sebuah ranjang, kamar operasi, atau bahkan pelbagai tempat yang mungkin tidak terpikirkan. Untuk menyambut sebuah kehidupan baru yang telah bersarang di dalam rahimnya, membuat sebuah nyawa yang telah hidup lebih lama dipertaruhkan keselamatannya.
Bahkan dalam kasus tertentu, bilamana ada pilihan yang mengharuskan mereka memutuskan di mana hanya ada satu yang selamat di antara bayi atau sang ibu. Tentu saja. Mereka akan rela mengorbankan nyawa dan siap merasakan kepedihan agar sang bayi bisa selamat. Lantas tanpa berpikir panjang tentang apa yang akan bayi itu pikirkan ketika dewasa kelak mengetahui bahwa dia tumbuh tanpa seorang ibu.
Alih-alih memiliki seseorang yang rela mati untukku, aku lebih mengharapkan seseorang yang rela hidup demi aku.
Namun, mereka bilang rasa-rasanya perih yang menggerogoti seisi tubuh itu dibayar impas ketika melihat sesosok mungil berhasil menyambut dunia dengan tangisan di detik pertamanya—meskipun boleh jadi itu menjadi detik terakhir dalam hidup mereka.
Lalu mengapa bayi yang baru lahir selalu menangis? Barangkali menangis adalah satu-satunya cara bagi mereka mempertahankan kepentingannya, tetapi karena orang dewasa tidak memahaminya sehingga mereka hanya bisa menangis. Akan tetapi, apa kepentingan yang coba mereka pertahankan? Mungkin itu adalah bentuk penolakan agar tidak merasakan pahit pedihnya dunia. Ketika suatu hari nanti tidak ada lagi orang yang membuainya. Satu-satunya cara untuk berpendapat agar sang ibu tidak harus mengorbankan dirinya. Karena pada dasarnya mereka lebih membutuhkan seorang ibu yang rela hidup ketimbang rela mati untuknya.
Barangkali mengapa proses kelahiran itu sulit adalah karena hasil upaya mereka mencurangi kematiannya sendiri—sebagai satu-satunya bentuk cinta yang bisa ditunjukkan kepada sang ibu. Dengan saling mengorbankan diri. Sebab sebagian orang merasa bahwa cinta paling besar itu lahir dari sebuah pengorbanan. Bukankah begitu?
“Persalinan di dalam cukup lama, ya?” celetuk seorang lelaki yang mengenakan kardigan berbahan rajut di sebelahku. Widianto Pramana, asisten fotografiku. Kedua tangannya sibuk memutar-mutar cincin fokus pada kamera yang dikalungkan di lehernya.
Perkataan tersebut membuyarkan lamunanku. Lantas aku kembali menyadari bahwa sedari tadi kami—termasuk beberapa anggota keluarga pasien—sedang terduduk di selasar ruang operasi. Hanya menunggu. Aku mulai merasakan kecemasan yang ditunjukkan sang suami dengan harapan kuat bahwa dua nyawa di dalam sana bisa diselamatkan. Sedangkan ada raut kekecewaan yang terpotret pada air muka sang ibu mertua ketika kalah perdebatan beberapa waktu lalu dengan anak laki-lakinya. Raut itu seolah mengisyaratkan “Apa kata orang nanti ketika mengetahui bahwa cucu pertamaku lahir tidak melalui persalinan normal?” Mungkin baginya persalinan normal adalah hal yang lebih penting meskipun harus dibayar dengan keselamatan menantunya.
Cekrek! Lampu kilat menyorot ke arahku dari sisi kanan. Aku langsung menoleh ke lelaki di sampingku yang sedari tadi sibuk menyetel kamera yang akan kami gunakan nanti. Dia menyengir sambil mengatupkan kedua tangannya setelah melihat tatapan sinis dari wajahku.
“Aku rasa tidak perlu menggunakan lampu kilat.” Aku meraih kamera yang ada di tangannya, melihat hasil foto dengan ekspresiku yang konyol karena terkejut. Tanganku dengan sigap memutar-mutar cincin fokus pada kamera tersebut, lalu mematikan lampu kilat dan berganti memotret lelaki tersebut. “Sudah bagus. Jangan diganti lagi setelannya,” pintaku.
Suasana kembali hening.
“Kenapa aku selalu merasa kalau kamu tampak tidak senang ketika kita mendapatkan proyek untuk memotret kelahiran?” ujar lelaki itu pelan, agar tidak didengar oleh pihak keluarga pasien.
“Terlihat jelas, kah?”
Dia mengangguk. “Terus kenapa kamu memutuskan untuk kita ambil?”
Aku mengernyitkan dahi. Tanganku seolah ingin menjitak dahi lelaki itu. Tentu saja alasannya adalah karena uang. Semenjak aku merantau, meninggalkan Paman di rumah lama sendirian untuk mengurus kios barang bekas yang masih dia pertahankan itu. Aku bertekad untuk membeli rumah bagi kami berdua kelak. Agar setidaknya kami bisa melupakan kenangan yang tumbuh di rumah tersebut. Namun, aku mengurungkan niat untuk mengatakan hal tersebut pada Pram. Bukan karena enggan merasa terbuka dengan rekan kerja yang sudah hampir setahun membersamaiku ini, tetapi lebih karena enggan membahasnya.
Aku menghela napas. “Hanya saja proses kelahiran bagiku adalah hal yang cukup aneh untuk diabadikan. Apa yang perlu kita abadikan? Tangisan bayi, kah? Wajah sang ibu yang bahkan kita tidak tahu sudah sadar atau belum, kah?”
“Justru itu adalah momentum pentingnya, bukan? Ketika tangis haru sang ayah pertama kali menyambut tangisan anaknya yang datang ke dunia. Atau mungkin kita juga bisa mengabadikan raut wajah ibu mertuanya nanti,” celetuknya sambil terkekeh pelan mencoba mencairkan suasana.
Aku tersenyum. “Tapi coba kamu pikirkan. Mereka berdebat sebegitunya untuk menentukan proses kelahiran apa yang harus ditempuh. Lalu, kamu dengar sebelumnya tadi bahwa di rumah mereka sudah menyiapkan sebuah perayaan untuk welcoming home bayi kecil itu. Apakah bahkan bayi itu akan mengingat peristiwa-peristiwa seperti ini ketika dia beranjak dewasa kelak?”
“Tentu saja tidak. Ya, memori manusia baru matang ketika kita ada di usia 5 tahun ke atas mungkin. Aku juga tidak bisa mengingat apa yang terjadi di masa awal kehidupanku. Ada yang namanya amnesia infantil. Ketidakmampuan kita untuk mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa awal kehidupan. Bukankah itu gunanya kita di sini? Untuk membantu mereka menciptakan pengkodean memori agar kelak pengalaman ini bisa diceritakan dan mungkin memantik memori infantil itu,” jelasnya dengan penuh percaya diri.
Aku cukup kagum mendengar penjelasan cerdas itu keluar dari seorang lelaki yang sejauh ini aku kenal tidak bisa serius. “Ada ingatan yang berhasil kamu selamatkan di masa-masa itu?”
Dia tiba-tiba terkekeh. “Aku mendengar ini dari cerita sebenarnya. Tapi, ini fakta lucu yang harus kamu ketahui.” Belum saja semenit aku terkagum akan kecerdasannya, lihat saja dia sudah kembali dengan kekonyolannya. “Kedua orang tua dan dokter kandungan meyakini pasti bahwa jenis kelaminku adalah perempuan hingga beberapa jam sebelum akhirnya aku lahir.”
Aku mengatupkan tangan ke depan mulutku berusaha menahan tawa.
“Tunggu. Belum selesai sampai di situ. Bayangkan mereka sudah membeli pelbagai peralatan hingga baju bayi untuk perempuan. Aku kira kedua orang tuaku akan segera membelikan peralatan dan baju baru untuk bayi laki-laki setelah mengetahui itu. Tapi ternyata tidak.” Kedua mata Pram memelotot saat menceritakan itu. “Aku harus memakainya sampai baju itu sudah tidak muat lagi. Tapi aku menyimpannya sampai sekarang. Jadi kalau aku melihat baju-baju itu dan salah satu foto ketika aku mengenakannya, ingatanku seolah ditarik kembali ke waktu-waktu tersebut. Meskipun tentu saja aku tidak mengingatnya. Hanya berbekal cerita dan foto dari Ibuku.”
Aku terkekeh mendengar cerita tersebut. Pram selalu berhasil mencairkan suasana.
“Kalau kamu? Memangnya ada memori yang benar-benar kamu ingat sebelum usia 5 tahun? Barangkali ini bisa menjadi penemuan unik,” celetuk Pram.
Aku terdiam. Pertanyaan itu tentu saja akan membangkitkan salah satu memoriku di masa-masa awal kehidupan tersebut. Meskipun aku sepakat terkait dengan teori amnesia infantil yang dijelaskan oleh Pram, tetapi aku juga sepakat bilamana selalu ada setidaknya satu pemantik yang mungkin berhasil menghidupkan memori tersebut. Namun, berbeda dengan Pram yang hanya memotret memori tersebut lewat imajinasinya ketika mendengar cerita dan foto dari orang lain. Aku benar-benar bisa mengingat kejadian tersebut di umurku yang masih lima tahun kala itu.
“Ratih?” Pram memecah keheningan di antara kami.
Aku menatapnya seraya mencoba menunjukkan ekspresi berpikir keras. “Em … Aku tidak memiliki hal-hal berkesan seperti yang kamu ceritakan. Tidak ada pengkodean, entah itu foto, barang, maupun cerita.” Perkataanku menjadi ujung pembahasan kami berdua mengenai memori infantil itu terutama ketika ponselku berdering. Aku beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Pram sejenak ke ujung selasar.
“Halo, ada apa, Ti?” sapaku pada orang di ujung sana. Rianti namanya. Tidak jauh berbeda dengan nama panggilanku. Sebab itu kami sepakat agar aku memanggilnya “Ti” dan dia memanggilku “Rat” bilamana ingin menyingkat nama panggilan kami.
“Rat, aku ada proyek besar untuk kamu. Hari ini bisa ketemu?” tukasnya.
Kedua mataku berbinar setelah mendengar hal tersebut. Tentu saja proyek dari Rianti selalu berskala besar. Dia bekerja sebagai kurator di salah satu agensi kreatif ternama, Mandala Kreatif. Terakhir kali aku bekerja sama dengannya adalah untuk membuat kampanye #BringBackPrintedMagazines. Aku menjadi salah satu fotografer yang memotret untuk section ‘Gaya Hidup’ kala itu. Lewat proyek tersebut, Rianti berhasil dipromosikan untuk naik jabatan karena berhasil menaikkan penjualan majalah cetak hingga dua puluh lima kali lipat dari penjualan sebelumnya di era digital saat ini. Kampanye tersebut juga masif, berhasil memengaruhi beberapa perusahaan majalah lainnya yang sudah lama tidak memproduksi versi cetak untuk ikut serta menerbitkan kembali majalah cetak.
“Bisa, Ti. proyek seputar apa, ya?”
“Akan aku jelaskan nanti waktu kita ketemu, ya. Cukup panjang jika harus dibahas di telepon. Tapi aku yakin proyek ini akan bagus jika aku eksekusi denganmu. Kita ketemu di tempat biasanya jam 6 malam, oke?”