Hari itu hujan badai di luar sana. Aku masih seorang bocah perempuan yang berusia kurang lebih lima tahun dengan rambut panjang hingga di bawah pinggang. Wanita itu bilang bahwa dia ingin memiliki anak perempuan dengan rambut panjang, maka seingatku dia jarang sekali memotong rambutku. Justru sehari sekali dia tidak pernah luput untuk membelai rambutku dengan minyak kemiri. Aku masih mengingatnya karena di malam tersebut aroma minyak kemiri itu sangat kuat menusuk ke indra penciumanku.
Kami berdua, aku dan seorang pria dewasa yang lebih tua sedikit dari wanita itu—aku menyebutnya Paman, duduk di meja makan sembari menunggu wanita tersebut selesai memasak di dapur. Dia bilang kita tidak memiliki bahan makanan selain tiga butir telur dan secawan beras malam itu. Aku meminta agar telur tersebut diolah menjadi telur mata sapi saja sebagaimana biasanya.
Aku mengingat ketika kilat menyambar untuk ketiga kalinya di luar sana, wanita itu datang bergabung ke meja makan bersama kami dengan membawa satu piring berisikan 3 butir telur dan satu bakul nasi. Sementara Paman pergi ke dapur untuk mengambil alat makan bagi kami.
Dalam ingatanku, malam itu adalah pertama kali kami bertiga makan bersama kembali di meja makan setelah satu pekan aku ditinggal hanya bersama dengan Paman di rumah bercampur kios barang bekas yang dikelolanya. Wanita itu sudah seminggu pergi tanpa kabar. Hal itu sejatinya menimbulkan pertanyaan bagiku tentang apa yang aku ingat saat ini, jika wanita itu pergi selama tujuh hari kala itu siapa yang memakaikan minyak kemiri padaku sebelum tidur? Aku tidak pernah menanyakannya kepada Paman tentang apakah dia yang selalu memakaikan minyak kemiri di rambutku jika wanita itu tidak bermalam di rumah hingga detik ini.
Malam itu, kami menghabiskan makan malam dengan sunyi. Tidak ada perbincangan sama sekali. Bahkan seingatku Paman tidak pernah menanyakan kepada wanita tersebut tentang ke mana dia minggat beberapa hari yang lalu. Jika aku bertanya pada Paman tentang ke mana wanita itu pergi, dalam ingatanku Paman selalu menjawab, “Dia sedang bekerja. Katanya banyak orang di kota yang memesan jasanya untuk membersihkan rumah mereka.” Lantas dia akan mengantarku tidur dan membacakan dongeng tentang kawanan domba dan gembalanya—cerita kesukaanku maka dari itu aku mengingatnya.
Dari yang aku tahu, memang benar pekerjaan wanita itu adalah sebagai penyedia jasa untuk membersihkan kediaman orang lain. Namun bukan seperti housekeeper pada umumnya, dia cenderung membersihkan barang-barang dari orang yang sudah meninggal—sebutan untuk orang yang sudah habis waktu hidupnya di dunia, begitu penjelasan Paman padaku. Tidak jarang setelah bepergian untuk bekerja, wanita itu membawa beberapa barang bekas yang bisa paman loak di kios barang bekasnya.
Ini juga melahirkan pertanyaan baru di kepalaku kepada Paman yang enggan aku bahas hingga saat ini, kalau wanita itu pergi selama berhari-hari apakah berarti ada banyak rumah yang harus dibersihkan dan berarti banyak orang yang meninggal waktu itu? Atau sebenarnya Paman cuman bersikap tak acuh tentang ke mana wanita itu sebenarnya pergi? Hanya saja Paman yang aku kenal selalu peduli padaku. Mungkin wanita itu pengecualian, karena aku juga tidak peduli padanya sama seperti dia yang tidak peduli padaku. Aku tidak pernah memahami jalan pikiran Paman.
Seusai makan, wanita itu baru mengeluarkan suara. Dia berbicara kepadaku. “Ratih, bantu Ibu membereskan piring ke dapur.” Orang yang dia sebut sebagai Ibu dalam ucapannya adalah dirinya sendiri.
Aku menatap kedua matanya cukup lama waktu itu. Ini pertama kali dia memintaku untuk membantunya membereskan makanan, aku rasa.
Kami hidup bertiga di rumah yang sekaligus menjadi kios barang bekas itu. Lebih tepatnya sisa bertiga dari yang aku yakini. Karena dari yang aku ingat, aku pernah melihat foto seorang wanita tua yang Paman dan wanita itu sebut sebagai Ibu-nya mereka terpampang di dinding selasar. Sebelum akhirnya wanita itu melepas foto tersebut dan entah memindahkannya ke mana. Aku juga pernah melihat foto wanita itu mengenakan gaun putih bersanding dengan seorang lelaki dalam setelan jas hitam yang Paman bilang padaku nama panggilannya Ayah ada di salah satu dinding selasar sisi lainnya. Namun di satu waktu aku melihat kembali dinding itu sudah kosong dan ada bekas lembap berbentuk persegi panjang yang tertinggal di permukaannya.
Aku tidak pernah tahu ke mana dua orang di foto tersebut menghilang dari rumah ini. Hingga aku mengetahui arti kata ‘meninggal’ dari penjelasan Paman. Mungkin itu yang terjadi pada mereka pikirku kala itu. Lalu aku meyakini hal tersebut dengan sendirinya setelah beranjak remaja.