Aku mengatakan bahwa aku butuh waktu untuk mempertimbangkannya kepada Rianti. Barangkali aku bisa menemukan konsep alternatif supaya tidak perlu mengaitkan cerita personalku ke dalam pameran yang bisa diterima oleh Matera. Dia sepakat. Kami berpisah beberapa waktu lalu, karena aku harus berpindah tempat setelah teringat bahwa hari ini ada janji makan malam dengan Dharma.
Lelaki itu melambaikan tangannya dari kejauhan setelah melihatku melewati pigura pintu restoran. Aku membalas lambaiannya dan segera berjalan menuju ke arahnya.
“Maaf aku belum sempat pulang dan berganti baju,” ujarku sambil meletakkan tas jinjing besar berisikan beberapa properti yang aku gunakan untuk pemotretan hari ini. Lalu aku turut melepas tas berisikan kamera yang tersampir pada salah satu bahuku.
Aku masih mengenakan kemeja bermotif kotak-kotak dengan kancing yang kubiarkan terbuka sehingga memperlihatkan kaos putih polos yang aku kenakan. Kedua tanganku membelai rambut pendekku sebahu untuk merapikannya. Sementara aku melihat Dharma yang memakai setelan kemeja rapi berwarna biru pastel, seharusnya itu adalah kode warna yang kami sepakati untuk makan malam hari ini—setidaknya sebelum aku tidak menepatinya. Aku merasa sedikit bersalah karena hal itu.
Dharma tersenyum, tapi aku melihat rasa getir di wajahnya. “Terlambat lima belas menit. Seperti biasanya,” ujarnya sembari membantu menarikkan kursi untukku duduk.
Aku mengatupkan bibir. “Maafkan aku. Hari ini sangatlah panjang. Tapi tentu itu bukan menjadi alasan.” Aku menyodorkan sebuah kotak parfum beraroma lavender. “Selamat ulang tahun, Dharma.”
Dia tertegun menatap hadiah pemberianku itu selama beberapa waktu. Lalu mengambil dan menyimpannya. Senyum merekah di wajahnya. “Terima kasih, Sayang.”
Dharma Putra W. Sebagaimana yang tertulis di nama dada yang biasanya terjepit di sisi kanan kemejanya—tetapi hari ini dia tidak memakainya, karena aku yakin dia sudah sempat pulang dan berganti baju. Kami sudah menjalin hubungan selama empat tahun terakhir. Aku juga tidak menyangka akan ada dalam hubungan seperti ini untuk pertama kalinya dengan lelaki tersebut. Namun, satu hal yang membuatku yakin agar mencoba hal ini bersamanya.
“Aku sudah memesankanmu Loco Moco. Tanpa telur mata sapi tentunya,” ujar Dharma. Sesuai janjinya dia membawaku untuk pergi ke restoran kesukaannya yang bernuansa semi eropa ini. Aku bisa melihat di atas piring itu terdapat nasi ditindih dengan patty daging dan siraman gravy yang aku tidak tahu pasti terbuat dari apa saus berwarna cokelat itu. Seharusnya menu ini biasanya disajikan dengan telur mata sapi dari yang aku tangkap lewat ucapan Dharma sebelumnya. Di seberang sana aku melihat Dharma memesan menu yang sama denganku—tanpa telur mata sapi juga.
“Kenapa kamu tidak memakai telur mata sapi?” tanyaku.
Dia menggeleng dan merekahkan senyum kembali. “Agar sama denganmu.”
Di awal kami menjalin hubungan, dari yang aku ingat Dharma hampir selalu memesan menu makan berat dengan additional telur mata sapi. Namun, seiring berjalannya waktu, aku tidak pernah melihat benda itu ada di atas piring makannya ketika bersamaku. Aku tahu bahwa dia pasti masih menyukai hal tersebut.
“Selamat makan, Sayang,” ujarnya sembari bersiap mengiris patty di piringnya menggunakan pisau di tangan kanannya.
Aku mengangguk. Sebenarnya perutku masih sangat kenyang karena beberapa waktu sebelumnya sudah menghabiskan setengah porsi nasi goreng yang aku pesan saat bertemu dengan Rianti. Mungkin aku hanya akan menyantap ini beberapa suap. Aku sudah merasa cukup buruk pada Dharma hari ini dan tidak mau menambah kekecewaan di hari ulang tahunnya hanya karena enggan memakan hidangan yang sudah dia pesankan.
Dharma makan dengan lahap. Sementara aku mencoba untuk mengilhami bumbu-bumbu yang tersimpan di dalam patty tersebut pada setiap suapanku.
“Apa yang kamu lakukan hari ini, Sayang?” tanyanya memecah keheningan yang terjadi beberapa menit di antara kami. Hanya ada suara instrumental jazz yang diputar oleh pihak restoran dan obrolan dari meja-meja sebelah sebelum Dharma memulai percakapan ini.
Aku menghela napas. Terlalu panjang rasanya jika harus menceritakan seluruhnya pada Dharma setelah melewati hari yang melelahkan ini. Jadi aku hanya menjawab, “Hanya bekerja, melakukan pemotretan seperti biasanya. Kamu?” Aku merasa lebih baik mengakhiri penjelasan dengan ganti bertanya kepadanya agar dia tidak mencecarku dengan pertanyaan lainnya. Sebenarnya ada untungnya jika aku menjelaskan lebih lanjut apa yang aku lewati hari ini termasuk dengan proyek yang Rianti berikan karena Dharma bisa membantuku untuk curah pendapat. Dharma bekerja di salah satu production house sebagai seorang videografer. Menurutku itu adalah kemiripan dari kami berdua, bekerja di bidang yang hampir sama. Tapi tidak ada tenaga untuk memulainya. Sejujurnya pikiranku masih tertinggal pada obrolan dengan Rianti.
“Aku hari ini tidak pergi ke kantor. Jadi aku memutuskan untuk mengunjungi kediaman Ibu. Dia sedang tidak enak badan,” jelasnya.
“Oh ya? Kenapa?” tanyaku.
Dharma mengangkat bahunya. “Biasa. Orang tua yang merindukan anaknya.” Dia selalu mengatakan hal tersebut bilamana menemuiku setelah dari rumah ibunya, tapi aku tidak pernah mengerti bagaimana rasanya orang tua yang merindukan anaknya itu. Dharma sudah pisah rumah dengan sang ibu, meskipun bisa dibilang masih dalam satu kawasan megapolitan. Namun Dharma memilih untuk mencari apartemen yang lebih dekat dengan kantor tempatnya bekerja.
“Dia menanyakanmu, Rat,” imbuhnya. “Lebih tepatnya tentang kita.”
Aku tahu pasti ke mana arah percakapan setelah ini. Sudah berkali-kali kami membahasnya dan Dharma yang selalu memulai. Aku hanya terdiam sembari meneruskan makan.
“Aku rasa sudah saatnya kita membahas hubungan ini ke arah yang lebih serius, Rat. Umurku sudah dua puluh delapan tahun,” ujar Dharma membuatku menghentikan makan setelah dia meraih salah satu tanganku.
Aku mencoba memproses kejadian ini dan menebak langkah apa yang selanjutnya dia lakukan. Tidak mungkin bukan jika dia tiba-tiba mengeluarkan kotak berisikan cincin untuk melamarku. Ada benarnya bahwa tahun ini Dharma sudah memasuki usia dua puluh delapan tahun—umur kami terpaut lima tahun, aku lebih muda.
Sungguh kemungkinan yang ada di kepalaku itu benar akan terjadi. Ketika salah satu tangan Dharma merogoh celananya untuk mengeluarkan sesuatu yang aku tahu pasti dugaanku benar bahwa Dharma ingin membuat malam ulang tahunnya ini menjadi momen tidak terlupakan dengan konotasi yang mungkin berbeda bagiku dan baginya.
Aku melepaskan genggaman tangannya. “Tidak. Aku belum bisa melakukan ini.”
Dharma terlihat kebingungan. “Maksudnya, Rat?” Tangannya yang merogoh saku celananya tadi sudah kembali ke atas meja dengan menggenggam sebuah jam tangan berwarna perak. “Ibuku ingin kamu memiliki jam tangan ini sebagai simbol perkenalan. Dia ingin aku membawamu ke rumah untuk berkenalan. Hanya itu.”
Aku terkesiap. Sepertinya aku salah menilai tindakan Dharma kali ini. Pikiranku salah bahwa dia akan melamarku hari ini. Aku melihat wajah Dharma yang mulai menangkap apa yang sebenarnya aku pikirkan.