Aku terduduk di salah satu kursi gereja bersama dengan pria paruh baya yang mulai memiliki uban pada seperempat bagian rambutnya. Kemarin malam setelah berhasil menutup kepingan-kepingan yang berurusan dengan Dharma, Paman menghubungiku untuk mengunjunginya karena hari ini adalah peringatan dua puluh tahun sepeninggalan Ayah. Satu telepon singkat dari Paman itu membuatku menempuh perjalanan selama hampir dua jam menggunakan transportasi umum untuk mengunjunginya di sudut lain kawasan megapolitan ini.
Paman menyikutku dengan lengannya saat sempat melihatku tidak khidmat lewat ekor matanya yang tajam. Aku mengaduh sejenak sebelum akhirnya kembali fokus pada dakwah yang disampaikan oleh seorang Romo di depan sana. Hari ini aku dan Paman mengenakan setelan berwarna hitam dan duduk di bangku terdepan di antara jemaat lainnya.
Rutinitas tahunan yang biasa Paman lakukan dan mengajak aku untuk terlibat di dalamnya—dalam rangka memperingati sepeninggalan ibunya, Ayahku, dan wanita yang dia sebut sebagai Adik itu—adalah dimulai dengan ibadah ke gereja terdekat dari rumahnya, lalu mengunjungi makam, dan menjamuku di rumah dengan masakannya yang aku akui dari tahun ke tahun mengalami peningkatan dari segi rasa. Meskipun aku tidak pernah hadir lagi ketika Paman mengundangku untuk memperingati sepeninggalan adiknya semenjak aku pergi merantau untuk berkuliah dan lanjut bekerja.
Kebetulan tahun ini, hari sepeninggalan ayahku bertepatan dengan hari Minggu sehingga gereja sedang menyelenggarakan ibadah berjamaah. Selepas melaksanakan ibadah, Paman biasanya akan mengunjungi orang yang mengurus gereja ini dan memberikan amplop kecil berisikan sedekah untuk gereja. Namun, tahun ini aku memintanya untuk menyimpan uangnya dan memberikan aku kesempatan untuk berganti melakukan hal tersebut.
“Kamu tidak perlu melakukan ini. Sudah menjadi kewajiban Paman,” ujar Paman setiap kali aku mengajukan diri untuk membayar pengeluarannya.
Tetapi Paman langsung terdiam ketika aku balas mengatakan, “Kewajiban mana yang mengharuskan Paman untuk selalu mengeluarkan uang? Tidak ada, bukan? Jadi biarkan aku yang membayar ini sekarang.”
Begitu pun hal yang sama terjadi ketika aku berniat menggantikan Paman untuk membayar juru kunci makam tempat anggota keluarga kami disemayamkan—termasuk ibunya Paman, Ayah, dan adiknya Paman—setiba di permakaman tersebut.
Belakangan ini semenjak aku sudah memasuki usia kepala dua, sedang Paman sudah memasuki usia kepala lima. Aku rasa Paman lebih banyak menurut dan mengalah padaku. Kami jarang berdebat. Mungkin itulah yang orang-orang bilang bahwa semakin tua diri kita semakin kita kembali ke sosok masa kecil yang lebih banyak memilih hidup dengan kesederhanaan dan menghindari kompleksitas dari pertikaian.
Seluruh fase hidupku selalu diisi oleh keberadaan Paman. Dari yang aku yakini bahkan sebelum memasuki usia lima tahun—di mana seperti kata Pram bahwa saat itu kita mengalami amnesia infantil yang membuat tidak ada ingatan yang terbawa dari masa tersebut—Paman selalu ada untuk merawat dan membesarkanku. Tentunya sembari mengurus barang-barang loak di kiosnya.
Ada kalanya Paman memarahiku karena saat kecil berlarian di area toko dan tanpa sengaja menyenggol rak berisikan barang-barang loak tersebut. Namun, kemarahan Paman tidak pernah berangsur-angsur. Dia selalu langsung memelukku saat menyadari bahwa nadanya meninggi barang hanya lima detik. Pun ketika aku menolak untuk hadir ke peringatan tahunan sepeninggalan adiknya. Aku tidak pernah tahu apakah dia sebenarnya memendam kekesalan padaku. Lagi-lagi aku tidak mengerti jalan pikiran Paman.
“Kalau ayahmu masih ada, mungkin dia akan menyekolahkanmu menjadi dokter seperti yang ibumu harapkan,” ujar Paman sembari menuangkan air dari bawah ke atas pada lambang salib pada makam yang kami kunjungi.
Aku mendengus pelan. Kata Paman, saat mengandungku, wanita itu berharap agar aku kelak bisa menjadi dokter. Karena dari cerita Paman, waktu Ayah di dunia habis akibat dari penyakit campak yang kian menggerogoti tubuhnya dan terlambat diberikan pertolongan. Ayah pergi dari dunia ini sebelum aku lahir—masih dalam kandungan. Sulit bagiku untuk menemukan alasan tidak menyukainya begitu pun untuk menyukainya. Datang ke permakamannya seperti mengunjungi kerabat jauh Paman yang aku kurang kenali.
***
Sudah dua bulan terakhir aku tidak menapakkan kaki ke tempat ini lagi. Silih berganti waktu rasa-rasanya aku semakin jarang mengunjungi Paman. Bukan karena aku tidak mau bertemu dengannya, tetapi sebisa mungkin aku mengurangi intensitas untuk datang ke tempat ini.
Aku duduk di meja makan. Segalanya masih sama. Susunan perabotan hingga penempatannya tidak berubah sama sekali. Aku sudah beberapa kali meminta Paman untuk mengganti perabotan yang usang. Barangkali aku bisa segera membeli rumah bagi kita berdua, perabotan baru tentu juga akan berguna di rumah baru nanti. Satu hal yang tidak pernah Paman singkirkan dari meja makan itu adalah jumlah kursi. Lima kursi berjajar melingkari meja makan tersebut. Padahal Paman tinggal sendiri di rumah ini. Aku juga tidak sepenuhnya yakin bahwa Paman duduk di sini tiga kali sehari.
Kedua mataku menyelidik. Dinding-dinding rumah itu kosong, kecuali jika dua cicak yang inggap di atasnya masuk ke dalam hitungan. Tidak ada satupun foto di pigura yang digantung pada dinding bercat hijau tersebut. Namun, aku yakin sempat ada yang mengisi setelah melihat lebih jeli bahwa di beberapa bagian permukaan dinding tersebut terdapat bekas lembap menyerupai bentuk-bentuk persegi panjang.
“Ke mana hilangnya jam dinding yang ada di situ, Paman?” tanyaku dari meja makan kepada Paman yang sedang menghangatkan masakan di dapur.
Paman melongok dari sela-sela dinding dapur, “Oh tidak. Baterainya habis. Paman belum sempat mengganti setelah melepasnya kemarin.”
Aku beranjak menghampiri Paman yang sedang ada di dapur.
“Sup buntut sapi kesukaanmu,” ujar Paman ketika menangkap sinyal kehadiranku.
Uap mengepul dari panci yang sedang menghangatkan sup tersebut. Aroma kaldu bercampur beberapa rempah-rempah mulai merasuk ke dalam indera penciumanku. Paman bersungguh-sungguh dengan acara penyambutanku hari ini. Karena aku yakin memasak sup buntut itu agar dagingnya seempuk yang aku lihat di dalam panci itu membutuhkan waktu yang sangat lama. Pasti dia sudah mempersiapkan ini semua dari fajar.
“Wah menarik. Perutku semakin berteriak kelaparan rasanya,” ujarku menggoda Paman.
Dia terkekeh pelan. Tangannya menyendok sedikit kuah lalu menyeruputnya untuk memastikan bahwa tingkat rasanya sudah pas. Paman mengambilkanku sendok baru lalu menyendokkan sedikit kuah ke mulutku. “Oke, kan?”