Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #6

Potret Bahan Rajut

“Menurutmu bagaimana, Pram? Apakah aku harus mengambilnya?” tanyaku pada laki-laki yang duduk bersila di hadapan laptop itu. Dia mengenakan sweter rajut berwarna biru laut dengan cuaca yang terik di luar sana. Aku sempat memintanya melepas sweter tersebut, tapi dia enggan karena meskipun cuaca sedang terik di luar, tapi di dalam apartemen ini aku menyalakan pendingin dengan suhu enam belas derajat.

Kami sedang menuntaskan proyek pemotretan yang kami lakukan di rumah sakit selumbari. Sejauh ini aku belum memiliki studio sendiri untuk tempat kami bekerja sehingga kalau kami tidak sedang mengerjakan pemotretan, maka Pram selalu datang ke tempatku untuk melakukan penyuntingan dan finalisasi foto. Aku memanfaatkan ruang tengah untuk tempat kerja kami. Lagi pun yang biasanya kami lakukan hanya menyunting foto. Bilamana ada keperluan khusus seperti menerawang objek pada hasil foto berupa rol film, barulah kita pergi ke kamar karena alat pencahayaan, lensa pembesar, dan mejanya aku letakkan di sana. Meskipun begitu ruang tengah ini cukup ideal untuk disebut sebagai tempat kerja kami. Aku menyediakan meja kerja bagi kami berdua—walaupun Pram lebih suka duduk bersila di atas lantai—dan beberapa peralatan kantor lainnya, bahkan ada mesin kopi.

Namun, aku tidak memahami mengapa Pram memaksa bekerja denganku. Yang aku katakan tidak salah. Memang benar dia yang mengirim surat lamaran ke alamat surelku bahkan saat aku tidak membuka lowongan apapun. Lagipula aku juga baru berkecimpung di dunia fotografi secara profesional—setelah lulus dari status mahasiswa—masih sekitar dua tahun. Akan tetapi dia benar-benar pantang menyerah hingga mengirim beberapa kali surel tersebut dan mengatakan bahwa dia sangat ingin belajar padaku setelah mengikuti karya-karya fotografi yang aku ikutsertakan dalam beberapa pameran kolaboratif baik saat aku masih mahasiswa maupun setelah aku lulus. Terutama karyaku dalam kampanye yang berkolaborasi dengan agensi kreatif Rianti berhasil memperkuat keyakinannya untuk bersikukuh meminta bekerja denganku. Bahkan aku tidak bisa menjanjikan gaji—diambil dari pembagian persentase tiap kali ada projek masuk—dan tempat kerja yang layak padanya saat itu. Herannya dia tetap sepakat. Lalu, suatu waktu saat aku sudah mempekerjakannya dengan status pekerja lepas, dia menceritakan bahwa ayahnya yang mengenalkan karya-karyaku kepadanya.

“Pram apakah kamu mendengarkanku?” tegasku setelah mendapati bahwa sedari tadi dia sangat fokus pada pekerjaannya—tidak ada salahnya, tapi posisinya aku sedang bertukar pendapat dengannya yang termasuk ke dalam bagian dari pekerjaan.

Pandangan Pram tidak teralihkan dari laptop yang membuka software photoshop dengan tampilan objek foto seorang ibu sedang menggendong bayinya untuk pertama kali. Pram terlihat mengatur exposure dan kontras dari foto tersebut, setelah kami lakukan proses culling atau pemilihan foto melalui diskusi singkat sebelumnya untuk membuang foto-foto yang dirasa buram atau gagal. Aku cukup bangga karena Pram sudah bisa diandalkan untuk melakukan proses penyuntingan lanjutan itu sendiri.

Aku menyikut perutnya dengan lenganku. Sikutku bisa merasakan betapa lembutnya bahan rajut yang digunakan pada sweter Pram itu. Dia mengaduh lalu menoleh ke arahku yang sedari tadi duduk di sebelahnya.

“Iya, aku mendengarkan sedari tadi. Lalu apa alasanmu tidak mau mengambilnya? Bukankah itu peluang yang bagus?” ujar Pram dengan memutar bola matanya. “Setidaknya untukku juga sebagai asistenmu yang setia ini?” imbuhnya.

Aku mendengus. Dengan dia menanyakan alasan kenapa aku tidak mengambil projek tersebut itu saja sudah menjelaskan bahwa dia tidak mendengarkan celotehanku tadi. “Ah, menyebalkan. Kamu tidak mendengarkan,” gerutuku.

Dia tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuk kepala yang aku yakin tidak gatal sama sekali. “Oke aku akui tadi aku tidak mendengarkan dengan baik. Tapi kamu harus bangga. Coba lihat, aku sudah selesai menyunting semua foto ini.” Pram mengarahkan layar laptopnya kepadaku. Setidaknya dia mengerjakan tugasnya dengan baik dan berhasil meredam kekesalanku.

Pram menutup setengah layar laptopnya dan memutar posisi duduknya sembilan puluh derajat untuk menghadap ke arahku. “Oke, jadi Rianti memberikanmu—atau bisa dibilang kita—sebuah proyek,” tukasnya mulai mencoba menjelaskan kembali apa yang sudah dia tangkap dari ceritaku tadi. “Proyek ini berupa pameran tunggalmu. Mengangkat judul Mitokondria yang berfokus untuk mengeksplorasi kehadiran ibu di setiap fase perkembangan manusia dan di pameran ini hal itu direpresentasikan melalui suara. Rianti meminta ceritamu juga menjadi salah satu objek yang diangkat dalam storyline pameran ini. Sampai sini apa yang mungkin aku lewatkan dan membuatmu ragu?”

Aku menghela napas. “Bagian terakhir. Rianti meminta agar ceritaku masuk ke dalam pameran ini. Sentuhan personal yang aku rasa tidak terlalu penting.”

“Penting,” sahut Pram seolah menyangkal argumenku. “Pernah mendengar nama Frida Kahlo?”

Aku pernah mendengar nama itu. “Seorang seniman aku rasa?” ujarku menerka.

Pram menganggukkan kepala. “Pintar sekali.” Terkadang ucapan-ucapan Pram membuatku lupa terkait batasan profesional di antara kami sebagai atasan dan asisten—meskipun aku tidak terlalu menjunjung senioritas—yang cukup menjengkelkan sekaligus lucu dalam satu waktu. “Asal kamu tahu, karya-karya Frida berasal dari cerita personalnya. Banyak lukisannya yang mengeksplorasi rasa sakit fisik akibat kecelakaan yang pernah dia alami dan patah hati dalam pernikahannya.”

Lihat selengkapnya