Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #7

Potret Curah Pendapat

Pada akhirnya aku menyepakati untuk mengambil proyek dari Rianti. Setelah berdiskusi panjang dengan Pram, kami menemukan alternatif solusi yang mungkin bisa ditawarkan kepada pihak Rianti dan Matera pada curah pendapat hari ini.

Aku sedang berada dalam perjalanan menyusuri selasar kantor Rianti menuju ke ruang meeting saat ponselku berdering untuk pertama kalinya. Rupanya telepon dari Pram yang masih tertahan macet di dalam taksi online. Aku duga dia pasti mulai kelimpungan karena terlambat bangun pagi tadi.

“Ratih,” sapa Rianti yang sedang melongok keluar dari pigura pintu. Dia melambaikan tangan memintaku menghampirinya.

Senyum merekah di wajahku setelah akhirnya menemukan Rianti. Aku segera menghampiri Rianti sehingga tidak menghiraukan panggilan dari Pram. “Apakah sudah mulai?” tanyaku memastikan, meskipun pada dasarnya jadwal meeting kami masih akan dimulai lima menit lagi.

Rianti menarik gagang pintu dan mempersilakan aku masuk lebih dulu. Aku melihat seisi ruangan yang sudah diisi oleh empat orang lainnya. Dari seragam yang mereka kenakan aku bisa menerka bahwa dua orang diantara mereka berasal dari Matera, sedangkan dua lainnya merupakan rekan kerja Rianti. Rianti berhasil menangkap kerisauan pada wajahku setelah melihat bahwa orang-orang tersebut sudah datang lebih dulu menungguku. Kemudian dia menggelengkan kepala, “Mereka juga baru datang. Masuk saja.”

Aku menjabat tangan mereka satu per satu. Lalu menarik salah satu kursi kosong di samping Rianti.

“Mbak Ratih sendirian saja hari ini?” tanya salah satu rekan kerja Rianti yang menyebutkan bahwa nama panggilannya Linda saat aku menjabat tangannya tadi.

“Iya, Mbak Linda. Bisa dimulai saja, Mbak,” ujarku setelah menangkap sinyal bahwa orang-orang di sana memiliki hal penting lain setelah rapat curah pendapat ini selesai. Dalam hal ini tentu yang aku maksud adalah mengabaikan keberadaan Pram yang sedang ada dalam perjalanan ke mari. Aku tidak yakin Pram akan tiba dalam waktu dekat. Membuat orang-orang ini menunggu kedatangannya aku rasa adalah hal yang kurang pantas.

“Mana asistenmu itu?” bisik Rianti. Meskipun Pram dan Rianti belum pernah bertemu secara langsung, tetapi aku sering kali menyebutkan nama mereka satu sama lain sehingga rasa-rasanya mereka sudah saling kenal hanya dari mendengar ceritaku.

Aku mengangkat kedua bahu. “Terjebak macet. Aku rasa dia akan tiba di sini tiga puluh menit lagi atau lebih. Kita mulai dulu saja.”

Linda menoleh ke arah Rianti, memberikan sinyal untuk memulai presentasi. Segera saat itu juga Rianti meraih kabel HDMI dan memasang ke salah satu lubang pada laptopnya. Layar televisi di ruangan tersebut menampilkan pantulan dari layar laptop Rianti. Deck presentasi yang sempat Rianti presentasikan padaku beberapa hari lalu itu kembali masuk ke dalam pandanganku. Namun, aku rasa Rianti menambahkan beberapa detail pada deck kali ini.

Rianti memulai presentasi dengan penjelasan gambaran konsep awal pameran sama seperti yang dia presentasikan kepadaku hari itu. Hingga di tengah presentasi, Rianti memegang pundakku untuk memperkenalkan kembali diriku kepada peserta rapat. “Dan proyek ini akan kembali di-handle oleh Mbak Ratih. Sebelumnya pihak kami dan Matera juga sudah pernah menjalin kerja sama dengan Mbak Ratih dalam proyek kampanye Bring Back Printed Magazine, bilamana Mas dan Mbak ingat.”

Aku merekahkan senyum kembali dan menatap satu per satu orang di samping dan depanku. “Mohon bantuannya, Mas, Mbak.” Mereka menimpali dengan anggukan.

“Baik untuk selanjutnya kami persilakan kepada Mbak Ratih mempresentasikan rencana pengambilan gambar yang akan dilakukan berdasarkan deck yang telah kami paparkan sebelumnya,” ujar Rianti sembari memberikan kabel HDMI untuk aku ganti tancapkan ke laptop milikku.

Aku menghela napas, lalu menancapkan kabel HDMI tersebut pada lubang laptop. Layar televisi berganti memantulkan proyeksi layar laptopku. Seharusnya aku mempresentasikan hasil diskusi ini bersama dengan Pram. Namun, hingga saat ini lelaki itu belum muncul batang hidungnya.

“Baik, selamat siang, Mas, Mbak. Saya izin untuk memulai presentasinya,” ujarku sembari memperlihatkan storyboard yang telah aku susun untuk memperjelas alur pameran ini.

Pada storyboard tersebut terdapat ada empat bagian besar yang dihubungkan oleh tiga tanda panah. “Dari presentasi yang telah dilakukan sebelumnya terkait konsep besar pameran kali ini yang mengulik terkait bagaimana suara ibu membersamai perjalanan hidup manusia dan menghidupkan kenangan yang ada di dalamnya. Saya mengadaptasi konsep itu menjadi empat proses memori yang manusia lewati sepanjang hidupnya. Mulai dari prenatal memory, infantil memory, episodik memory, dan memory of the dead.” Aku melihat bahwa orang-orang di ruangan ini menyimak presentasiku dengan serius.

Lantas aku melanjutkan presentasi ke halaman berikutnya—masuk pada bagian pertama dari storyboard. “Di bagian pertama, prenatal memory, akan menampilkan potret dari janin yang masih ada di rahim seorang ibu. Karya ini akan saya ambil menggunakan bantuan tentunya dari tim ahli medis untuk mengakses teknologi ultrasonografi. Pada pemotretan untuk bagian awal ini agar hasil pencitraan gambar yang didapatkan bisa tertangkap dengan jelas akan memerlukan teknologi USG empat dimensi,” jelasku.

“Meskipun konsep dari pemotretan bagian ini terasa kurang wajar, tetapi tentu mengandung pesan kuat yang selaras dengan filosofi pameran bahwa suara ibu ada di setiap fase perkembangan manusia dan fase paling krusial itu adalah saat masih dalam bentuk janin. Tentang bagaimana suara ibu menjadi suara pertama yang kita dengar saat bahkan belum menapakkan kaki ke dunia.” Aku melanjutkan presentasi tersebut.

Salah seorang dari Matera, Jessica, mengalihkan pandangan dari layar televisi ke arahku. “Aku suka bagian ini. Justru konsep anti-mainstream itulah yang membuatnya unik. Kita bungkus.”

Aku bisa menghela napas lega setelah bagian pertama ini disepakati. Lalu aku melanjutkan ke halaman berikutnya. “Memasuki section berikutnya, peserta pameran akan disambut dengan beberapa karya foto yang menampilkan masa awal kehidupan manusia. Objek-objek yang akan diambil sebagai foto bisa berupa foto bayi yang baru lahir—newborn photoshoot, lalu potret pertama kali seorang bayi merangkak, hingga mampu berjalan. Intinya section terkait dengan infantil memory ini akan mengeksplorasi ingatan yang berkesan bagi seseorang meskipun dirinya sendiri belum memiliki kematangan pikiran untuk mengingat hal tersebut di masa awal kehidupannya. Dan di sinilah suara ibu akan masuk sebagai salah satu hal yang mungkin bisa menghidupkan ingatan tersebut kelak ketika seseorang tumbuh dengan dewasa.”

Infantil memory … aku baru mendengar frasa ini. Unik,” sahut salah seorang dari Matera—orang yang berbeda dari yang sebelumnya memberikan tanggapan pada ide bagian pertamaku—Robby.

Sebutan tersebut sebenarnya hadir dari celetukan Pram tentang konsep amnesia infantil. Lalu aku mulai menjelaskan konsep tersebut kepada orang-orang di ruang rapat. Mulai dari bagaimana fakta bahwa manusia tidak mampu mengingat kenangan di awal masa kehidupannya hingga berusia sekitar empat atau lima tahun. Segera setelah mendengarkan hal tersebut mereka mulai menyadari fakta tersebut, bahwa diri mereka juga tidak begitu mengingat masa-masa tersebut selain dari cerita yang dituturkan oleh kerabat dekat yang mendampingi proses tumbuh kembangnya—salah satunya adalah ibu.

“Menarik. Kita bungkus,” ujar salah satu dari mereka mewakili kesepakatan dari yang lain.

Aku mengangguk mantap. “Baik. Selanjutnya setelah melalui fase awal memori yang mungkin tidak tersimpan dengan baik dalam ingatan kita. Peserta akan dibawa masuk kepada bagian ketiga, episodik memory. Bagian ini adalah fase di mana pelbagai jenis ingatan mulai hidup di kepala kita. Mulai dari ingatan di fase kanak-kanak, remaja, hingga beranjak dewasa dan menjadi orang tua. Semuanya tersimpan. Namun, tentu saja kapasitas ingatan manusia itu terbatas. Bahkan ingatan yang mungkin berkesan tidak selamanya bisa kita rawat dengan baik. Di situlah suara ibu muncul sebagai salah satu pengkodean yang bisa manusia ciptakan untuk kemudian menghidupkan ingatan tersebut di kemudian hari. Suara ibu yang direpresentasikan melalui tuturan, nasihat, atau rupa-rupa lainnya.”

“Tahapan ini mungkin akan menjadi section dengan foto terbanyak yang harus kamu ambil nantinya,” celetuk Jessica menyuratkan permintaan dalam ucapannya padaku.

Lihat selengkapnya