Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #8

Potret Musim Semi

Pada waktu-waktu bunga bermekaran di seluruh pekarangan rumah sekitar belasan tahun lalu—saat usiaku kurang lebih sepuluh tahun. Aku masih memiliki Winter di pekarangan sebagai teman bermainku setiap pulang sekolah.

Meskipun yang aku ketahui bahwa negara kita hanya memiliki dua musim, tetapi kala bunga bermekaran di pekarangan rumah, aku menganggap itu sebagai musim semi. Musim yang menjadi salah satu dari sedikit hal yang bisa membuat halaman rumah kami terlihat seperti tempat yang layak disebut rumah.

Bunga-bunga bermekaran di sela-sela rerumputan yang tumbuh tidak beraturan. Ada beberapa pot yang sudah pecah di bagian bawah tetapi masih digunakan Paman untuk menanam tanaman entah apa. Sebagian besar bunga yang tumbuh di sana juga bukan hasil dari tangan manusia yang sengaja menanamnya. Barangkali benih-benihnya terbawa angin, burung, atau berasal dari bunga yang sudah mati pada musim sebelumnya.

Di antara semuanya, bunga krisan adalah yang paling banyak. Aku tidak tahu siapa yang pertama kali menanamnya. Paman pernah bilang mungkin salah satu pelanggan kios yang memberikannya beberapa tahun lalu. Mungkin juga berasal dari seseorang yang sudah tidak lagi membutuhkannya. Bagaimanapun, hampir semua benda di rumah kami memiliki cerita semacam itu.

Sesuatu datang. Seseorang tidak lagi menginginkannya. Lalu Paman menerimanya. Aku tidak pernah bertanya terlalu banyak.

Hari itu sepulang sekolah, aku melihat beberapa bunga krisan mulai mengering. Sebagian kelopaknya sudah berubah kecokelatan dan jatuh satu per satu ke tanah. Aku berjalan menuju kios setelah mengganti seragam sekolah dengan kaus dan celana pendek yang biasa kugunakan bermain bersama Winter.

Domba itu sedang berada di halaman belakang. Winter sedang sibuk mengunyah rumput ketika aku datang menghampirinya. “Jangan makan bunga Paman,” tegurku.

Winter mengangkat kepalanya. Entah mengapa aku selalu merasa dia memahami apa yang kukatakan. “Serius. Jangan.”

Dia kembali menundukkan kepala. Aku menghela napas. “Bandelnya.”

Dari dalam kios, Paman memanggil namaku. “Ratih!”

Aku menoleh.

“Bantu Paman sebentar!”

Aku segera berlari masuk.

Kios itu sedang cukup ramai. Beberapa orang berdiri mengelilingi rak-rak berisi barang yang entah sejak kapan berada di sana. Ada radio tua, piring porselen dengan motif yang sudah pudar, koper kulit, kamera analog, jam dinding, buku-buku bekas, pakaian, mainan, hingga benda-benda yang bahkan aku tidak tahu kegunaannya.

Paman selalu bilang setiap barang memiliki cerita. Aku justru sering berpikir mungkin beberapa barang hanya ingin segera dilupakan.

“Ini taruh di belakang,” ujar Paman sambil menyodorkan sebuah kardus kepadaku.

Aku membawanya ke sudut kios. Setelah itu aku kembali membantu memindahkan beberapa barang dari meja depan. Hingga mataku menemukan sebuah foto yang tergeletak di antara tumpukan kertas. Aku mengambilnya. Foto bunga krisan.

Bunganya masih terlihat cantik di dalam foto tersebut meskipun kertasnya sudah menguning. Ada bercak cokelat di bagian sudut. Beberapa bagian permukaannya terkelupas seperti pernah terkena air. Aku membalik foto itu. Tidak ada tulisan apapun. “Paman, ini punya siapa?”

Paman hanya melirik sekilas. “Barang loak.”

“Boleh Ratih buang?”

“Kalau tidak ada yang beli, terserah.”

Aku mengangkat bahu. Kemudian berjalan keluar kios. Di halaman belakang, aku melihat tempat sampah besar yang biasanya digunakan untuk membuang kardus, kertas, dan barang-barang kecil yang benar-benar tidak bisa dijual.

Aku sudah mengangkat tangan untuk menjatuhkan foto itu ketika sebuah suara terdengar dari belakang.

“Jangan dibuang.”

Aku menoleh. Seorang anak perempuan berdiri beberapa langkah dariku. Usianya mungkin tidak jauh berbeda denganku. Rambutnya dikuncir rendah, tetapi beberapa bagian terurai menutupi wajah. Dia mengenakan kaus putih yang sedikit kebesaran dengan rok berwarna biru tua. Di tangannya terdapat sebuah tas kain yang tampak kosong. Dia menunjuk foto di tanganku.

“Kenapa?”

Aku mengerutkan dahi. “Kenapa apa?”

“Kenapa mau dibuang?”

“Karena sudah jelek.”

Dia mendekat. “Memangnya kalau jelek harus dibuang?”

Aku menatapnya. Pertanyaan macam apa itu? “Iya.”

Dia mengambil napas panjang. “Aku mau beli.”

Aku menatap foto itu lagi.

“Kamu mau beli ini?”

Dia mengangguk. Namun, aku menggeleng. “Tidak dijual.”

“Katanya barang di sini dijual?”

Aku menunjuk ke arah kios. “Yang itu barang Paman, dijual. Ini punya Ratih, tidak dijual.”

“Kalau punya kamu kenapa tadi mau dibuang?”

Aku tidak bisa menjawab. Anak perempuan itu mengulurkan tangannya.

“Kalau begitu kasih ke aku.”

“Tidak..”

“Kenapa?”

“Pokoknya tidak.”

Dia memasang wajah kesal. Aku memasukkan foto itu ke saku celanaku.

“Kalau mau beli barang, masuk saja ke kios.”

Dia menatapku beberapa saat sebelum akhirnya mengikuti langkahku. “Memangnya kamu jual apa?”

Aku mengangkat bahu. “Macam-macam.”

Dia masuk ke dalam kios. Matanya langsung bergerak ke segala arah. Aku berdiri di belakangnya. Dia berjalan perlahan melewati rak-rak yang penuh barang. Tangannya beberapa kali hendak menyentuh sesuatu, tetapi kemudian mengurungkan niat.

“Ini semua palsu?”

Aku mengernyit. “Maksudmu?”

Dia menunjuk sebuah tas. “Ini merek terkenal.”

Aku mengangguk. “Terus?”

“Tapi aku rasa ini KW.”

Aku menatapnya. “Kenapa?”

Dia terkekeh kecil. “Pamanmu jual barang palsu?”

Aku merasa darahku naik ke kepala. “Jaga mulutmu.”

Dia menoleh. “Aku cuma bilang kenyataan.”

“Kalau enggak suka, keluar.”

Dia terdiam. Aku bisa melihat matanya bergerak ke seluruh ruangan. Wajahnya yang sejak tadi murung semakin terlihat seperti orang yang sedang mencari sesuatu.

“Kamu mencari apa?” tanyaku akhirnya.

Dia tidak menjawab. Tangannya terus berpindah dari satu rak ke rak lainnya. “Alat lukis.”

Aku mengernyit. “Untuk apa?”

“Melukis.”

Lihat selengkapnya