Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #9

Potret Seorang Ballerina

Apa yang sebenarnya aku inginkan dari kehidupan yang singkat ini?

Pertanyaan itu terus mengikuti perjalanan pulangku malam itu, bahkan setelah aku turun dari taksi dan berjalan melewati lorong panjang menuju unit apartemen.

Begitu tiba di depan pintu, aku melihat sesuatu yang langsung mengingatkanku pada keputusan yang kubuat beberapa hari sebelumnya. Sebuah kardus. Masih berada di sana. Petugas kebersihan belum mengambilnya. Kardus itu tergeletak tepat di samping pintu unitku. Aku menatapnya sepersekian detik. Lalu aku segera memasukkan kunci ke lubang pintu dan membiarkan kardus itu tetap berada di sana.

“Mungkin besok akan ada yang mengambil,” gumamku pelan.

Aku masuk ke dalam unit. Ruangan masih sama seperti ketika kutinggalkan pagi tadi. Beberapa kardus kosong masih berada di sudut ruangan. Lemari pakaian sedikit terbuka. Meja kerja dipenuhi kamera, kabel, dan beberapa lembar catatan yang belum sempat kurapikan.

Aku meletakkan tas di sofa. Kemudian menyalakan televisi. Aku tidak benar-benar mencari sesuatu untuk ditonton. Hanya ingin suara memenuhi ruangan. Sebuah kebetulan, salah satu stasiun televisi sedang menayangkan Happy Old Year. Aku mengenali film itu sejak adegan pertama. Film yang sudah beberapa kali kutonton, tetapi entah mengapa malam itu aku membiarkannya terus berjalan.

Hingga sebuah kalimat yang sudah pernah kudengar sebelumnya membuat tanganku berhenti ketika hendak mengambil segelas air. “Ketika barang yang kamu miliki dan pegang sudah tidak mendatangkan kesenangan, maka waktunya untuk dibuang dan mengucap terima kasih.”

Aku menatap layar. Kalimat itu terdengar sederhana. Hampir terlalu sederhana. Tetapi mungkin justru karena itu ia terasa mengganggu. Ingatanku kembali ditarik ke kardus yang beberapa hari lalu aku bawa ke depan pintu. Barang-barang dari Dharma. Semuanya sudah tidak ada di unit ini. Tetapi anehnya, perasaan yang ingin kubuang bersamanya masih ada.

Tubuhku terbanting ke sofa, lalu tanganku mengambil remote dan mengecilkan volume televisi. Aku segera membuang jauh-jauh pikiran tentang Dharma dengan meneguk segelas air di tanganku.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk. Dari Pram rupanya. “Besok ada waktu?”

Aku memutar otak untuk mencoba mengingat tentang jadwalku besok. Sejauh ini masih kosong. Lalu tanganku mengetik balasan singkat. “Ada. Kenapa?”

Beberapa detik kemudian pesan berikutnya masuk. “Mau ke galeri? Sekalian riset untuk proyek kita.”

Aku menatap pesan itu. Barangkali ini menjadi salah satu inisiatif Pram untuk menebus kesalahannya karena tidak menghadiri rapat tadi siang atau alih-alih ini hanya modusnya agar aku mau menemani dia menyalurkan kegemaran barunya itu. “Galeri mana?” balasku.

“Galeria Sophilia. Jam 10.”

Aku berpikir sejenak. Di balik apapun alasan Pram mengajakku ke galeri. Namun, boleh jadi ini memang yang aku butuhkan untuk riset sebelum membuat pameranku sendiri. Aku mengetik satu kata. “Baiklah.”

***

Keesokan harinya, aku bertemu Pram di depan Galeria Sophilia. Seperti biasa, dia mengenakan pakaian rajut kesukaannya.  Aku menarik ingatanku sejenak tentang pakaian rajut yang Pram gunakan hari ini—dia pernah menggunakannya tetapi sedikit memodifikasi pakaian itu dengan tambahan aksesoris berupa rajutan bunga di bagian dada kiri. Aku tidak mengatakan apa-apa tentang itu.

Pram melambaikan tangan dengan senyum merekah di wajahnya. Aku hanya menatapnya dan mengisyaratkan pandangan untuk segera mengajak pria itu masuk.

Begitu melewati pintu masuk, suasana di dalam galeri langsung membuat langkahku melambat. Aku selalu menyukai museum dan galeri. Lukisan-lukisan menggantung. Patung-patung berdiri tegak. Beberapa pengunjung berjalan sambil membaca keterangan karya, sementara sebagian lainnya mungkin mencoba menginterpretasikan maksud karya tersebut dengan pemikirannya sendiri.

Aku sering berpikir bahwa galeri adalah tempat yang aneh. Di luar sana, manusia berlomba-lomba membuat sesuatu terlihat berguna. Di sini, benda-benda yang tidak bisa melakukan apa-apa selain dilihat justru diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Mungkin itu juga yang menjadi alasan kenapa aku suka dengan galeri.

“Rat.”

Aku menoleh.

Pram sudah berjalan beberapa langkah di depanku. “Ayo.”

Aku mengikutinya. Kami berjalan melewati beberapa lukisan hingga Pram berhenti di depan salah satu karya yang menampilkan seorang ballerina.

“Degas,” katanya.

Aku memandang lukisan itu. “Edgar Degas?”

Pram mengangguk. “Dia banyak membuat karya tentang ballerina.”

Aku memperhatikan sosok perempuan dalam lukisan itu. Gerak tubuhnya terlihat ringan dan anggun, hampir seperti tidak membutuhkan usaha untuk berada di sana. Namun semakin lama aku melihatnya, semakin aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. “Pram.”

“Kenapa?”

“Menurutmu dia sedang bahagia?”

Pram ikut memperhatikan lukisan itu. “Siapa?”

“Ballerinanya.”

Dia mengangkat bahu. “Tidak tahu. Mengapa menanyakan hal semacam itu?” Pram hendak mengolok-olok pertanyaanku tadi. Namun, aku membalasnya dengan tatapan serius.

“Dia sedang berdansa berarti sedang bahagia?” celetuk Pram.

Aku kembali melihat lukisan tersebut. “Belum tentu. Bagaimana kalau dia sebenarnya sedang kesakitan?”

Lihat selengkapnya