Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #10

Potret Wortel Merah Jingga

Beberapa hari setelah pertemuanku dengan Pram di galeri, aku menepati janji yang sebelumnya aku buat bersama Rianti.

Akhir pekan itu aku pergi ke rumah ibunya. Sebenarnya aku sudah beberapa kali berkunjung ke sana. Tetapi setiap kali datang, selalu ada perasaan aneh yang sulit kujelaskan.

Rianti berjalan beberapa langkah lebih dahulu dariku. Dia membuka pagar kecil di depan rumah, kemudian melangkah masuk tanpa mengetuk. “Ibuk!” serunya dari bingkai pintu. Tidak ada jawaban. “Bu?”

Rianti menoleh ke belakang. Aku masih berdiri di pekarangan. “Ayo, Rat,” ajaknya.

Aku mengikutinya. Begitu masuk ke teras, terdengar suara benda-benda bergeser dari dalam rumah.

“Rianti?” Suara seorang perempuan terdengar panik.

“Iya, Bu,” jawab Rianti dengan sumringah.

Beberapa detik kemudian seorang perempuan paruh baya muncul dari balik pintu. Tante Mirda. Rambutnya diikat seadanya. Tangannya masih basah, seolah baru saja mencuci sesuatu. Wajahnya berubah ketika melihat Rianti. “Kok tidak bilang kalau mau pulang?”

Rianti tertawa kecil. “Kan memang sengaja.”

Tante Mirda menghela napas. “Ibu belum siap-siap.” Dia melihat ke sekeliling rumah. “Rumah juga belum dibereskan.”

Rianti mengangkat bahu. “Memangnya aku datang buat inspeksi rumah?”

Tante Mirda terkekeh. “Ya enggak begitu.” Lalu dia merentangkan kedua tangannya dan Rianti berjalan mendekat ke arahnya. Mereka berpelukan. Terlihat sangat hangat.

Tante Mirda kemudian baru menyadari bahwa Rianti tidak datang sendirian. Tatapannya beralih kepadaku. “Ratih?”

Aku tersenyum dan sedikit menundukkan kepala. “Halo, Tante.”

Tante Mirda langsung tersenyum dan merentangkan kedua tangan ke arahku. Aku mendekat—sama seperti yang dilakukan Rianti—lalu memeluknya.

“Ya ampun, Tante tidak tahu. Kalau tahu kalian datang, pasti Tante masak lebih banyak.”

“Aman saja, Tante. Tidak perlu repot-repot.”

“Sudah. Kalian masuk dulu,” ujar Tante Mirda mempersilakan.

Kami mengikuti Tante Mirda ke dalam rumah. Aku kembali melihat ruangan yang sudah beberapa kali kudatangi sejak dulu. Tidak banyak yang berubah.

Ruang tamunya tidak besar. Sebuah sofa tua berada di tengah ruangan dengan meja kecil di depannya. Di atas meja terdapat beberapa buku, majalah seni, dan gelas yang belum sempat dipindahkan. Beberapa foto keluarga dipajang dalam bingkai sederhana di dinding. Ada foto Rianti ketika masih kecil, foto dirinya bersama ibunya, dan beberapa foto yang menampilkan mereka berdua dalam usia yang berbeda.

Aku selalu merasa rumah ini penuh dengan sesuatu yang tidak dimiliki rumahku. Barang-barang di dalamnya tidak terasa seperti benda yang sekadar memenuhi ruangan. Masing-masing seolah masih memiliki hubungan dengan orang yang tinggal di sana. Kursi yang mungkin selalu digunakan Tante Mirda ketika membaca. Lalu, cangkir dengan gagang yang sudah sedikit pudar. Kemudian, taplak meja yang warnanya mulai memudar. Dan foto-foto yang membuat waktu seolah tidak pernah benar-benar pergi dari rumah ini.

Aku berjalan mengikuti Rianti menuju bagian belakang rumah. Pintu kayu di ujung lorong terbuka menuju halaman kecil. Aku langsung berhenti. Terakhir kali datang ke sini aku masih mengingat bagaimana perkebunan di belakang rumah ini ditumbuhi berbagai sayur dengan subur.

Aku melihat deretan tanaman yang memenuhi sebagian besar tanah di halaman. Wortel. Hampir semuanya wortel. Daunnya tumbuh menjulang dari tanah dengan warna hijau yang seragam. Beberapa bagian tanah bahkan sudah dipenuhi tanaman baru yang masih kecil.

“Ibu yang menanam semuanya.”

“Wortel sebanyak ini?”

“Dia suka tanaman wortel.”

Aku tertawa kecil. “Bukannya kamu yang suka?”

“Justru karena aku yang suka.” Rianti mencabut satu wortel yang bagian atasnya sudah terlihat cukup besar. Dia mengusap tanah yang menempel di permukaannya. “Dari kecil aku suka wortel.”

“Masih?”

Dia tersenyum. “Masih. Katanya aku harus banyak makan wortel.”

“Mengapa?”

“Agar penglihatanku bagus.”

Aku tersenyum tipis. “Lalu?”

Rianti menatapku seolah pertanyaanku terlalu jelas. “Jadi kurator seni.”

Aku mengangguk. “Tentu saja.” Perkataan tersebut membuatku teringat bahwa yang Rianti inginkan saat tumbuh dewasa adalah menjadi kurator seni. Pameran yang akan kami selenggarakan itulah yang akan menjadi perantara untuk mengantarkan mimpinya terwujud.

Lihat selengkapnya