Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #11

Potret Lensa Pertama

Pagi itu, aku dan Pram pergi ke sebuah birth center di sisi lain kota. Pram sudah mengurus perizinan kepada pengurus tempat tersebut agar kami bisa melakukan pemotretan.

Rianti meminta kami mulai mengerjakan proyek terlebih dahulu sambil berjalan. Setelah perdebatan dengan pihak Matera mengenai bagian penutup pameran, ia mengatakan kami tidak perlu menunggu sampai semua konsep selesai. Mungkin dengan mulai memotret, kami justru akan menemukan sesuatu yang selama ini tidak kami pikirkan.

Aku tidak sepenuhnya yakin. Tetapi aku juga tidak memiliki alasan untuk menolak.

“Jadi hari ini kita mulai dari mana?” tanyaku ketika kami berjalan menuju pintu masuk.

“Dari apa yang ada di depan mata.”

Aku menoleh kepada Pram. “Jawabanmu terdengar seperti orang yang enggak punya rencana.”

“Memang.”

Aku mendengus pelan.

Begitu masuk, suasana tempat itu terasa berbeda dari rumah sakit pada umumnya—terlepas memang sebenarnya ini bukan rumah sakit seperti yang biasanya kami kenal. Tidak ada bau obat yang terlalu menyengat maupun suara langkah kaki yang terburu-buru. Tempat itu justru terasa seperti rumah yang dipenuhi orang-orang yang sedang menunggu sesuatu. Sesuatu yang belum mereka kenal.

Beberapa perempuan hamil duduk di ruang tunggu. Ada yang membaca buku, berbincang dengan pasangannya, mengusap perut, atau sekadar duduk sambil memandangi halaman di luar jendela. Seorang perempuan sedang melakukan latihan pernapasan. Di sudut lain, seorang ibu hamil tertawa ketika suaminya mencoba mengikuti gerakannya meskipun terlihat kesulitan.

Aku mengeluarkan kamera. Pram juga melakukan hal yang sama. Kami mulai bekerja.

Aku mengambil beberapa foto dari kejauhan terlebih dahulu. Tidak ingin mengganggu aktivitas mereka. Aku menggunakan lensa dengan focal length yang cukup panjang agar bisa mendapatkan detail tanpa harus berdiri terlalu dekat.

Beberapa kali aku mengganti sudut pengambilan gambar. Aku memperhatikan cahaya yang masuk melalui jendela, mencari arah yang paling lembut untuk menangkap wajah mereka.

Ada sesuatu yang menarik dari cara orang-orang itu menyentuh perut mereka. Gerakannya hampir selalu sama. Tangan berada di atas perut. Seolah sedang memastikan seseorang masih ada di sana. Aku mengambil satu foto. Kemudian satu lagi. Dan satu lagi.

“Ratih,” ujar Pram. “Yang itu bagus.” Pandangannya mengarah ke seseorang.

Aku mengikuti arah pandang Pram. Seorang perempuan sedang duduk sendirian di dekat jendela. Perutnya sudah cukup besar. Dia sedang membaca sesuatu sambil sesekali tersenyum kecil.

Aku mengangkat kamera. Lalu, menekan tombol rana.

Klik! Suara kecil itu terdengar di antara percakapan orang-orang. Aku melihat hasilnya melalui layar kamera. Cahaya dari jendela jatuh tepat di sisi wajahnya. Bayangannya tidak terlalu keras. Aku suka hasilnya. Belum sempat mengambil foto berikutnya, seorang perempuan lain mendekati kami.

“Maaf.”

Aku menurunkan kamera. “Iya?”

Perempuan itu tersenyum. “Boleh minta difoto?”

Aku memperhatikannya. Dia terlihat masih sangat muda. Rambutnya dikuncir sederhana. Wajahnya tidak menunjukkan banyak tanda kelelahan. Perutnya sudah terlihat jelas, tetapi dari cara dia berjalan dan berbicara, aku sempat mengira dia hanya beberapa tahun lebih tua dariku.

“Tentu,” jawabku.

“Namanya siapa?” tanya Pram dengan ramah tamah.

“Sarah.” Dia menunjuk kamera di tanganku. “Boleh pakai itu?”

Aku mengangguk. “Boleh.”

Sarah berdiri di dekat jendela. Aku meminta dia tidak perlu berpose terlalu kaku. “Lakukan saja seperti biasanya. Natural.”

“Seperti biasanya bagaimana?”

“Interaksi dengan bayinya.”

Sarah tertawa. “Bayinya belum bisa diajak ngobrol.”

“Tidak apa-apa.” Aku mengangkat kamera. “Anggap saja dia sedang mendengarkan.”

Sarah meletakkan kedua tangannya di atas perut. Aku mengatur aperture sedikit lebih lebar untuk memisahkan wajahnya dari latar belakang. Cahaya dari jendela cukup untuk membuatku tidak perlu menaikkan ISO terlalu tinggi.

Aku mengatur fokus pada matanya. “Lihat ke bawah.”

Sarah menunduk. Klik!

Aku meminta dia mengusap perutnya. Klik!

Kemudian tersenyum. Klik!

Sarah mencoba beberapa pose. Ada yang memegang perutnya dengan kedua tangan, ada yang menatap ke arah jendela, dan ada pula ketika dia berbicara pelan kepada bayi yang ada di dalam kandungannya. Aku tidak tahu apa yang dia katakan dan memutuskan untuk tidak bertanya.

Pada satu titik, Sarah memejamkan mata sambil tersenyum. Cahaya jatuh di wajahnya dengan lembut. Aku kembali menekan tombol rana. Klik!

Aku melihat hasilnya di layar.

“Bagus,” ujar Pram dari sampingku.

Sarah menghampiri kami. “Boleh lihat?”

Aku menyerahkan kamera.

Dia melihat beberapa hasil foto. “Bagus,” pujinya dengan senyuman merekah. “Terima kasih.” Dia tersenyum. “Boleh satu lagi?”

“Boleh.”

Sarah kembali ke tempat semula. Kali ini dia duduk. Aku memintanya memeluk perutnya sendiri. Lalu, dia melakukannya.

Aku menekan tombol rana beberapa kali. Klik! Klik! Klik!

Setelah selesai, Pram menghampiri Sarah. “Usia kehamilannya berapa?”

Lihat selengkapnya