Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #12

Potret Jantung Ibu

Surat izin dari Matera akhirnya membawa kami ke sebuah rumah sakit yang cukup besar di tengah kota.

Rumah sakit selalu membuatku bingung menentukan apa yang seharusnya kulihat. Orang datang ke tempat ini dengan harapan yang berbeda-beda. Ada yang ingin pulang membawa kabar baik, ada yang hanya ingin memastikan seseorang yang mereka sayangi masih baik-baik saja.

Di satu lorong, seorang keluarga bisa menunggu kelahiran anak pertama mereka. Beberapa pintu setelahnya, keluarga lain mungkin sedang menerima kabar yang tidak pernah mereka siapkan.

Aku dan Pram berdiri di depan meja informasi dengan kamera yang tergantung di leher, beberapa lensa, baterai cadangan, dan setelan pakaian yang masih sama seperti yang kami gunakan di pemotretan sebelumnya.

Seorang dokter yang menerima surat perizinan kami menghampiri kami di lobi. “Ratih dan Pram?”

Aku mengangguk. “Benar, Dok.” Tanganku segera terulur ke arah Dokter tersebut dan disambut dengan jabatan tangannya.

“Saya, Andika, yang menerima surat izin dari rekan-rekan,” ujarnya sembari menjabat erat tanganku kemudian beralih ke tangan Pram. “Nanti saya juga yang akan mengantar dan mendampingi kalian berkeliling, tetapi ada beberapa ruangan yang tidak bisa kalian masuki sembarangan. Jadi nanti ikuti arahan saya saja, ya.”

“Baik, Dokter. Terima kasih banyak sebelumnya,” tukas Pram sembari tersenyum ke arah pria berjas putih yang aku rasa usianya sudah menginjak kepala tiga.

Dokter itu kemudian mengajak kami berjalan menyusuri bangsal.

Aku memperhatikan orang-orang yang kami lewati. Beberapa perempuan hamil duduk di kursi tunggu dengan tangan berada di atas perut masing-masing. Ada suami yang membawa tas besar, ada keluarga yang sibuk mengurus dokumen, dan ada pula yang hanya duduk tanpa berbicara.

“Dokter,” ujarku di tengah perjalanan. “Selama bekerja di sini, kelahiran seperti apa yang paling Dokter ingat?”

Dia terlihat berpikir sejenak. “Sulit memilih satu.”

“Karena terlalu banyak?” Pram mencoba menerka.

“Karena setiap persalinan punya ceritanya sendiri,” lanjut Dokter Andika sembari terus berjalan. “Ada yang datang dengan kondisi baik, lalu semuanya selesai dalam beberapa jam. Ada juga yang harus melalui proses panjang. Tidak jarang juga yang sejak awal sudah tahu akan melahirkan dengan operasi, tetapi ada yang berharap bisa normal hanya saja ternyata kondisinya tidak memungkinkan.”

“Lalu, dengan segala kekompleksan proses persalinan yang ada dan bisa dibilang ini pekerjaan yang penuh risiko, bukan?” ujar Pram sembari melihat ke arah kami untuk meminta validasi atas perkataannya tersebut. “Apa yang membuat Dokter tetap senang mengerjakan ini?” lanjutnya.

Dokter Andika berpikir sebentar. “Pertemuan pertama.”

Aku menoleh. “Maksudnya?”

“Antara orang tua dan anaknya.” Dia tersenyum meninggalkan dua lesung pipit yang baru aku sadari menghias wajahnya. “Bagian itu tidak pernah benar-benar terasa biasa.”

Kami berjalan beberapa meter lagi menyusuri selasar bagian obgin tersebut. Namun, Dokter Andika memperlambat langkahnya ketika suasana di salah satu ruangan memantik perhatian kami bertiga. Pintu ruangan itu tidak tertutup sepenuhnya sehingga kami bisa melihat dari celah tersebut. Di dalamnya ada beberapa orang. Seorang laki-laki duduk di kursi dengan kedua tangan menutup wajahnya. Di sebelahnya seorang perempuan menangis sambil memegang bahu seseorang yang duduk di hadapannya.

Aku langsung memahami bahwa ada sesuatu yang salah. Dokter tidak mengatakan apa-apa. Kami juga tidak bertanya. Tangisan yang terdengar dari dalam ruangan itu bukanlah tangisan kebahagiaan yang sempat beberapa kali kami dengarkan sepanjang menyusuri selasar ini.

Aku menurunkan kamera yang sejak tadi tergantung di tangan. Keluarga itu tidak membutuhkan seorang fotografer. Mereka hanya membutuhkan waktu untuk memahami apa yang baru saja terjadi. Tatapanku tertuju kepada seorang perempuan yang mungkin baru beberapa jam sebelumnya datang dengan harapan membawa pulang seorang anak. Sekarang orang-orang di sekelilingnya hanya bisa duduk dan menemani tangisnya.

Lantas ingatanku kembali ditarik pada ucapan dokter sebelumnya. Setiap persalinan punya ceritanya sendiri. Kalimat itu bisa berarti banyak, termasuk tidak semua cerita berakhir dengan suara tangisan bayi.

“Hal paling berat menjadi seorang dokter adalah ketika kita memahami bahwa bagi sebuah keluarga, ada suatu hari yang tidak akan pernah menjadi sekadar tanggal,” ujar Dokter Andika sembari menatap kami dengan tatapan teduh. “Di setiap bulan berganti atau bahkan tahun, tanggal tersebut akan menjadi sebuah perayaan dari perasaan yang sebenarnya enggan kita rasakan tetapi bagaimanapun harus kita hadapi. Duka.”

Aku mencoba memaknai perkataannya, lalu bergumam pelan. Mengapa duka harus dihadapi?

Kami melanjutkan perjalanan tanpa mengambil gambar. Hingga beberapa menit kemudian langkah kami berhasil mengantarkan kami ke Ruang Perinatologi.

Di balik kaca, bayi-bayi yang baru lahir sedang dirawat. Beberapa tidur. Ada yang bergerak perlahan, menangis, atau bahkan yang hanya berbaring dengan mata tertutup.

“Yang di sana prematur?” tanyaku dengan pandangan tertuju pada salah satu bayi di sudut kiri ruangan.

Dokter mengangguk. “Ada beberapa kelahiran yang kasusnya sedemikian rupa.” Ia kemudian mengajak kami menuju ruang NICU. “Mari.”

Sebelum masuk, kami mengikuti prosedur yang diberikan. Kami mencuci tangan dan memastikan tidak membawa benda yang tidak diperlukan. Di dalam, suasananya jauh lebih tenang. Bayi-bayi prematur berada di dalam inkubator. Ukuran tubuh mereka membuatku tanpa sadar memperlambat langkah.

“Bayi-bayi yang lahir prematur memiliki organ tubuh yang belum berkembang sempurna. Mereka membutuhkan bantuan untuk menjaga suhu tubuh, pernapasan, nutrisi, dan pemantauan kondisi lainnya,” jelas Dokter Andika.

Aku melihat salah satu bayi. “Berapa lama?”

Lihat selengkapnya