Taman bermain itu tidak terlalu besar. Di tengahnya terdapat beberapa permainan yang sudah cukup tua: ayunan dengan cat yang mulai mengelupas, perosotan berwarna cerah, jungkat-jungkit dengan pegangan besi, dan hamparan pasir di bawahnya yang biasa disebut sebagai sandbox.
Pram berdiri di sampingku sambil memeriksa baterai. “Kita mulai dari mana?”
Aku mengeluarkan kamera dan menunjuk ke arah ayunan. “Dari sana.”
Kami berpencar. Aku mengambil beberapa foto anak-anak yang sedang bermain. Ada yang berlari mengejar temannya, ada yang menunggu giliran bermain perosotan, ada pula yang duduk di pinggir sandbox sambil mengumpulkan pasir ke dalam ember kecil.
Pram lebih banyak mengambil foto dari sisi yang berlawanan. Sesekali kami saling menunjukkan hasil foto.
“Yang ini bagus,” kata Pram.
Aku melihat layar kameranya. Seorang anak sedang meluncur dari perosotan dengan mulut terbuka lebar. Rambutnya terangkat karena angin. “Bagus,” ujarku memuji.
“Yang ini?” Dia menunjukkan foto lain. Seorang perempuan dewasa sedang membantu seorang anak menaiki tangga perosotan.
Aku mengangguk. “Ambil lagi kalau mereka turun.”
Di tengah kesibukan itu, seorang perempuan yang tampaknya bertanggung jawab terhadap kelompok bermain yang sedang berada di taman menghampiri kami.
“Dari Matera?”
Aku mengangguk. “Eh, iya, Bu.” Seperti biasanya aku mengulurkan tangan dan menjabat orang tersebut. Beliau memperkenalkan diri sebagai Bu Rini.
Dia tersenyum. “Silakan. Anak-anak juga sudah diberi tahu.”
Aku balas memperkenalkan diriku dan Pram, lalu berbincang sebentar mengenai proyek yang sedang kami kerjakan. Kemudian aku bertanya tentang kelompok bermain yang dibawanya. “Mereka biasanya datang berapa kali?”
“Kalau cuaca bagus, hampir setiap minggu,” jawabnya sembari mengajak kami untuk duduk di salah satu kursi kosong.
“Kenapa memilih taman ini?”
Perempuan itu memandang ke arah taman. “Karena tempat ini aman.”
Aku melihat ke sekeliling. Tidak ada pagar yang terlalu tinggi. Permainan di dalamnya juga tidak terlihat baru. Beberapa cat bahkan sudah mengelupas di bagian besi. “Aman?”
Dia menunjuk ke arah sandbox yang berada tidak jauh dari kami. “Lihat itu?”
Aku mengangguk.
“Untuk orang dewasa, mungkin hanya kotak berisi pasir. Namun, bagi anak-anak, itu tempat mereka belajar jatuh.”
Aku kembali melihat ke arah sandbox. “Belajar jatuh?”
Bu Rini mengangguk. “Anak-anak itu tidak selalu tahu bagaimana caranya menjaga diri. Mereka lari, memanjat, melompat, lalu jatuh.” Dia tersenyum kecil. “Makanya ada sandbox. Jika mereka jatuh, pasirnya membantu menahan tubuh mereka.”
Aku mengangguk pelan. “Jadi bukan supaya mereka tidak pernah jatuh?”
“Tidak mungkin.” Dia tertawa. “Anak-anak pasti akan jatuh. Tugas kita bukan membuat mereka tidak pernah jatuh.” Dia memandang beberapa anak yang sedang bermain. “Tugas kita memastikan ketika mereka jatuh, ada tempat yang cukup aman untuk menampung mereka.”
“Seperti penjaga?” celetukku.
“Kurang lebih demikian.” Dia tersenyum. “Terkadang saya merasa orang dewasa juga seperti itu. Kita tidak bisa selalu hadir untuk memegang tangan anak-anak. Suatu hari mereka harus berlari sendiri. Tapi setidaknya mereka tahu ada tempat untuk kembali kalau mereka jatuh.”
Aku menatapnya. “Makanya memilih taman ini?”
“Iya.” Tangan Bu Rini menunjuk anak-anak yang sedang bermain. “Mereka boleh berlari sejauh yang mereka mau. Boleh mencoba sesuatu yang baru. Boleh jatuh.” Dia berhenti sebentar. “Asalkan ketika mereka menoleh, mereka tahu ada seseorang yang masih melihat.”
Pram tiba-tiba mendengus pelan. “Seharusnya kita rekam yang Ibu katakan tadi,” ujarnya sembari membuka tasku dan mengambil perekam suara yang masih baru. Lalu Pram meminta izin kepada Bu Rini agar berkenan mengulang kembali perkataannya dan menjelaskan kenapa itu bisa membantu proyek kami. Terlihat aneh. Namun, begitulah Pram dengan ide-idenya.
Dari arah perosotan terdengar suara anak-anak yang tertawa. Seorang anak perempuan berlari melewati kami sambil membawa sekop plastik. “Ibu!”
Bu Rini menoleh tepat setelah menuntaskan ucapannya untuk rekaman suara yang diminta oleh Pram. “Apa?”
Anak itu menghampiri kami dan menunjukkan sebuah batu kecil yang ada di tangannya. “Lihat! Bagus, bukan?”
“Bagus sekali,” puji Bu Rini sembari menangkupkan kedua tangannya di bawah tangan mungil anak tersebut.
Anak itu kembali berlari. Perempuan itu tertawa. “Begitulah anak-anak. Itu yang membuat saya bahagia bisa mengelola tempat bermain ini.”
“Kalau boleh tahu, apakah ibu punya anak?”
Bu Rini menatapku dan tertegun sejenak. Aku bisa melihat perubahan raut wajahnya menjadi sendu sehingga membuatku merasa buruk telah melontarkan pertanyaan yang terkesan lancang itu. Ketika aku hendak meminta maaf, dia menahanku dengan perkataan, “Tidak apa-apa. Saya senang bisa bercerita tentang hal ini.”
“Saya belum pernah mempunyai anak. Pun saya belum menikah hingga saat ini. Namun, berada di sini untuk menjaga mereka membuat saya bisa mewujudkan mimpi tersebut. Menjadi seorang ibu,” jelasnya dengan kedua mata yang menahan tangis. “Bagi saya menjadi seorang ibu tidak harus tentang memiliki seorang anak yang berasal dari rahim kita sendiri. Ketika seseorang memanggil kita dengan sebutan ibu, itu artinya dia menganggap bahwa kita telah memberikan cinta yang tulus kepadanya.”