Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #14

Potret Pesta Kembang Api

Aku masih ingat ulang tahunku yang kesepuluh. Paman membawaku ke makam kedua orang tuaku pagi-pagi sekali. Tidak ada kue dan lilin yang menghiasi hari itu. Hanya dua makam yang masih basah setelah dibersihkan dan seikat bunga yang diletakkan Paman di antara keduanya.

Aku berdiri di sampingnya sambil membawa botol air. “Sudah?” tanyaku selepas memastikan air yang mengisi botol di tanganku telah habis dituangkan untuk membasuh tanah makam tersebut.

Paman mengangguk. “Kita makan.” Lelaki itu beranjak dari tempatnya. Aku masih mengingat barang apa saja yang dibawa di tangannya, mencakup baskom kaca untuk meletakkan bunga segar dan sapu ijuk yang dipinjam dari penjaga makam—sama seperti hari-hari lainnya ketika kami mengunjungi makam hingga saat ini.

Aku melihat makam itu sekali lagi sebelum mengikuti langkahnya.

Kami memutuskan untuk berjalan ke tempat yang paman sebutkan tadi karena lokasinya hanya beberapa petak dari permakaman ini. Rumah makan yang kami datangi tidak terlalu ramai. Paman mempersilakanku memilih apa pun yang kumau.

Aku membuka menu cukup lama. Hingga mataku berhenti di sebuah hidangan yang sudah lama ingin aku coba. “Aku boleh pesan ini?”

“Boleh.” Paman mengangguk.

“Yang ini juga?” Hari itu aku benar-benar mengindahkan perintah paman untuk memesan apa pun yang aku mau.

Paman kembali mengangguk.

Aku akhirnya memesan semangkuk makanan berat, lengkap dengan lauk dan minuman. Ketika makanan datang, aku baru sadar Paman hanya memiliki segelas air putih di depannya. “Paman tidak makan?” tanyaku

“Sudah,” ujarnya setelah meneguk air putih hingga menyisakan setengah dari gelas yang sebelumnya penuh itu.

“Makan apa?”

“Di rumah.”

Aku menatapnya. “Kenapa tidak makan di sini?”

Paman tersenyum. “Tidak lapar.”

Aku tidak terlalu memikirkannya saat itu. Tentu saja aku sibuk menghabiskan makanan lezat di depanku yang jarang-jarang bisa bertamu di perutku bilamana tidak ada hari spesial seperti saat ini.

Setelah selesai, kami berjalan keluar. Aku berhenti ketika melihat sebuah butik di seberang jalan. Di balik kaca etalase berdiri sebuah patung perempuan dengan gaun putih panjang. Gaun itu mengembang di bagian bawah. Bagian pinggangnya sederhana, tetapi kainnya jatuh begitu rapi hingga terlihat seperti gaun yang hanya pantas dikenakan pada hari yang sangat penting.

Aku mendekat ke kaca. “Paman.”

“Hm?” timpal Paman dari sampingku.

“Bagus, ya?”

Paman berdiri di belakangku. “Bagus.”

Aku tertegun selama beberapa waktu. Anehnya, aku tidak terlalu memahami mengapa tatapanku terus berpendar ke arah manekin dengan gaun putih itu. Apakah suatu hari aku akan mengenakan gaun yang sama seperti ini? Atau sebenarnya pertanyaan lain yang menghentikan langkahku kala itu.

***

“Ratih!”

Tanganku ditarik. Aku tersadar. Rianti sudah berdiri di depan pintu butik. “Kamu melamun dari tadi.”

Aku melihat sekeliling. Lantas segera menyadari kami berada di butik yang sama dengan yang aku lewati dengan Paman saat itu. Pun aku juga berdiri di depan etalase yang sama—hanya saja tubuhku sekarang tidak lagi setinggi kaca etalase—dengan satu pertanyaan yang silih berganti kian bisa aku temukan apa yang sebenarnya menghentikan langkahku hari itu, Apakah wanita itu juga pernah mengenakan gaun seindah ini saat menikah dengan pria yang dia cintai?

Rianti meraih tanganku dan menarikku agar berjalan menyejajari langkah kakinya. Hari ini kami mengunjungi butik di persimpangan jalan karena Rianti ingin mencari kado ulang tahun untuk anak bosnya. Sebuah gaun, katanya.

Kami berjalan lebih dalam. Hingga langkah Rianti berhenti di bagian pakaian bayi. Membuat langkah kakiku yang beriringan dengannya juga turut terhenti. Tangannya menyentuh sebuah baju kecil berwarna putih.

“Lucu,” gumam Rianti.

Aku melihat ukuran bajunya. Tanganku menyentuh bahan dari baju tersebut. Lembut. Terbuat dari tekstil, pasti Pram tidak akan bisa menggunakannya. Entah mengapa ingatanku ditarik kepada cerita Pram dan alergi baju berbahan tekstil yang dialaminya. Mungkin itu yang disebut sebagai pengkodean dalam ingatan manusia—sebagaimana yang dilakukan oleh domba.

“Kamu mau beli?”

Rianti mengangkat bahu, lalu terkekeh ke arahku. “Tidak. Untuk siapa pula aku membeli baju bayi. Lucu saja. Mungil.”

Aku ikut terkekeh. Dulu, ketika kami masih kecil, Rianti pernah mengatakan ingin menikah dan punya keluarga. Aku menatap kedua matanya lamat-lamat yang masih memandang ke arah tumpukan baju bayi tersebut. Mengingat kembali bahwa Rianti sudah tidak pernah menceritakan tentang impian masa kecilnya itu semenjak usia kami menginjak masa-masa sekolah menengah atas.

“Rianti, apakah menikah dan berkeluarga masih menjadi impianmu sekarang?”

Tangannya berhenti di atas pakaian bayi. “Kenapa demikian?”

“Hanya saja itu yang kamu katakan saat pertama kali kita bertemu.”

Rianti tertawa kecil setelah mengingat kembali masa-masa itu. Dia meletakkan kembali baju di tangannya. “Entahlah. Aku kadang sudah hampir lupa itu pernah masuk ke dalam impian masa kecilku.”

Aku mengernyitkan dahi “Bisa lupa?”

“Bisa.” Dia berjalan lagi. “Aku dulu juga mau jadi banyak hal. Mau punya rumah besar, mau punya anak, mau keliling dunia bersama dengan keluarga yang kelak aku bangun.” Dia tersenyum. “Sekarang memikirkan apa yang ada di depan mata rasa-rasanya lebih penting.”

Aku mengikuti langkahnya sembari memahami bahwa ada sesuatu yang berubah ketika seseorang tumbuh dewasa. Bukan hanya tubuh yang bertambah besar. Namun, boleh jadi ada impian-impian yang perlahan menjadi lebih kecil, tertutup oleh hari-hari yang terus berjalan.

“Mungkin itu yang terjadi saat kita mengalami pendewasaan, jiwa muda kita perlahan turut memudar,” lanjut Rianti sebelum akhirnya benar-benar melangkah meninggalkan sudut pakaian bayi tersebut.

Tiba-tiba aku bertanya-tanya tentang impian orang lain. Tentang impian yang sudah hampir dilupakan—mungkin aku juga pernah mengalami hal tersebut. Dan untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan muncul tentang seseorang yang bahkan tidak pernah sempat kutanyakan. Apakah wanita yang melahirkanku itu pernah memiliki impian semasa kecilnya?

Lagi-lagi, aku tidak tahu.

***

Pesta ulang tahun itu diadakan di sebuah ballroom hotel.

Begitu masuk, aku langsung melihat meja-meja panjang yang dipenuhi makanan. Balon memenuhi langit-langit. Ada dekorasi besar berbentuk istana di belakang panggung, lengkap dengan karakter-karakter kartun yang tersenyum.

Anak-anak berlarian mengenakan pakaian terbaik mereka. Beberapa orang dewasa berdiri sambil memegang ponsel, merekam hampir setiap gerakan anak-anak. Aku mengeluarkan kamera.

Pram sudah lebih dulu mengambil gambar. “Ramai,” ujarnya. Di antara puluhan orang menggunakan setelan formal seperti jas, kali ini Pram juga membaur—meskipun tidak melupakan pakaian rajut dengan gaya turtleneck sebagai dalaman yang dia gunakan agar bahan tekstil tidak langsung bersentuhan dengan kulitnya

Aku mengangguk.

Kami mulai memotret. Kue ulang tahun setinggi beberapa tingkat. Hadiah yang dibungkus dengan pita. Anak-anak yang bermain. Orang tua yang sibuk memanggil anaknya untuk berfoto.

Aku mengambil gambar dari beberapa sudut. Kemudian pintu ballroom terbuka. Sekelompok anak masuk bersama beberapa orang dewasa. Mereka mengenakan pakaian yang seragam. Aku mengenali logo kecil di bagian dada mereka. Panti asuhan. Mereka duduk di salah satu sisi ruangan.

Beberapa saat kemudian, pembawa acara memanggil mereka ke depan. “Sebagai rasa syukur atas perayaan ulang tahun Silvia, adik-adik dari Panti Asuhan ini kami undang untuk turut merayakannya bersama …”

Tepuk tangan terdengar. Anak-anak itu berdiri satu per satu. Beberapa merekahkan senyuman sembari menyelidik ke setiap sudut ruangan—mengagumi interiornya. Beberapa menundukkan kepala—mereka yang usianya sedikit lebih besar yang aku rasa melakukan hal tersebut. Sementara sisanya terlihat sibuk melihat meja makanan.

Aku menurunkan kamera. Entah kenapa adegan itu terasa lebih sulit dipotret daripada anak-anak yang tadi berlari mengelilingi ruangan. Di satu sisi ada anak yang baru saja mendapatkan hadiah yang bahkan mungkin belum sempat dibukanya. Di sisi lain ada anak-anak yang datang untuk menerima sesuatu yang diberikan atas nama ulang tahun orang lain. Akhirnya aku tidak mengambil gambar. Ponselku tiba-tiba mati. Aku menekan tombolnya beberapa kali. Tidak menyala.

“Baterai habis?” Pram bertanya.

Lihat selengkapnya