Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #15

Potret Putih Abu Kelabu

Aku masih ingat pertama kali membuat Paman dipanggil ke sekolah.

Hari itu adalah Hari Ibu. Aku duduk di bangku kelas sebelas ketika wali kelas kami mengumumkan bahwa seluruh siswa akan memetik bunga matahari dari taman yang sudah kami rawat selama beberapa bulan. Bunga-bunga itu nantinya akan diberikan kepada ibu masing-masing.

Teman-temanku sudah membicarakan apa yang akan mereka lakukan. Beberapa mengatakan bahwa mereka ingin membawanya pulang. Beberapa merencanakan untuk memberikannya langsung kepada ibu saat menjemput di depan gerbang sekolah. Ada pula yang bahkan sudah menyiapkan pita untuk mengikat batangnya.

Aku hanya terdiam.

Di belakang kelas, seseorang bertanya kepadaku, “Ratih, kamu nanti kasih ke siapa?”

Aku mengangkat bahu. “Tidak tahu.”

Pagi itu, seluruh kelas berkumpul di taman. Bunga matahari tumbuh hampir setinggi bahu kami. Kelopaknya kuning, menghadap cahaya pagi. Tanah di sekitarnya masih basah karena baru disiram.

Guru kami memberikan gunting kepada masing-masing siswa. “Ambil secukupnya. Jangan sampai merusak akarnya.”

Aku berdiri di antara mereka. Seorang anak laki-laki di sebelahku mencabut satu bunga sampai ke akarnya.

“Eh, jangan begitu,” tegurku.

Dia menatapku. “Aku mau membawanya ke makam Ibu.”

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Bunga itu berada di tangannya. Tanah masih menempel pada akar-akarnya. “Kalau dipetik, nanti cepat mati,” katanya.

Aku menatap bunga di tangannya. “Kalau dicabut juga akan mati.”

Dia mengangguk. “Makanya akan aku tanam di makam.”

Sejenak suasana hening di antara kami. Hingga pada satu waktu, entah kenapa setelah itu tanganku terasa panas. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku hanya ingat melihat bunga-bunga itu. Kemudian mengambil korek dari saku. Satu nyala kecil setelah aku tekan pemantik. Lalu satu bunga terbakar.

Seseorang berteriak. “Ratih!”

Api menyebar lebih cepat daripada yang kukira. Daun-daun kering terbakar. Batang-batang bunga mulai menghitam. Anak-anak berlari menjauh. Guru datang membawa ember. Aku hanya berdiri di tempat. Lalu melihat warna kuning dari bunga-bunga matahari yang memenuhi taman itu berubah menjadi abu.

Kejadian itu membuatku dipanggil ke kantor kepala sekolah bersama dengan Paman. Aku mendapat hukuman skors selama satu minggu karena anak-anak mengatakan bahwa mereka melihat tindakanku itu disengaja.

Ketika kami keluar dari ruangan kepala sekolah, aku melihat Rianti. Dia berdiri bersama ibunya. Tatapannya bertemu denganku. Aku tidak tahu apakah dia termasuk ke dalam salah satu anak yang marah padaku. Aku hanya tahu dia hendak berjalan ke arahku. Tante Mirda, ibu Rianti, berjalan menghampiriku.

Paman berdiri beberapa langkah di belakang.

Perempuan itu berhenti di depanku. “Ratih.”

Aku menunduk. “Maafkan Ratih, Tante.”

Dia tidak langsung menjawab. “Kamu tahu kenapa kamu melakukan itu?”

Aku menggeleng. “Entahlah. Aku tidak sadar.”

Dia menatapku cukup lama. Kemudian bertanya, “Ratih sedang marah?”

Aku menggeleng.

“Sedih?”

Lihat selengkapnya