Pagi selalu meninggalkan sesuatu di kaca jendela apartemenku.
Embun menempel tipis di permukaannya, membentuk titik-titik kecil yang saling berdekatan. Beberapa perlahan turun mengikuti gravitasi, meninggalkan garis bening yang baru terlihat ketika cahaya matahari mengenai kaca.
Aku berdiri di depannya sambil mengikat rambut. Dari balik kaca, kota belum sepenuhnya bangun. Aku baru saja hendak mengambil jaket ketika kulit lenganku terasa gatal. Lalu kepalaku menunduk, melihat kedua lenganku. Beberapa ruam merah muncul di kulit. Aku menggaruknya pelan.
Kemudian aku mencoba mengingat kembali apa yang aku makan semalam. Sate kerang di angkringan bersama dengan Pram. Ruam itu menjawab pertanyaanku semalam tentang kenapa aku seperti baru pertama kali makan kerang, tidak lain tidak bukan adalah selama ini aku menghindarinya karena alergi. Sekarang tubuhku sepertinya sedang mengingatkan bahwa keputusan itu mungkin tidak terlalu bijaksana.
Aku mengambil ponsel dan menelepon Paman. “Paman.”
“Iya?” Suara Paman terdengar lirih dari ujung sana.
“Kulit Ratih muncul ruam-ruam. Kalau ruam begini biasanya harus diapakan, ya?”
“Ruam?”
“Iya. Aku kemarin makan sate kerang.”
Paman terdiam beberapa detik. “Kenapa kamu makan?”
“Aku lupa bahwa aku alergi.”
“Jangan digaruk.”
“Lalu?”
“Kalau makin parah, periksa. Untuk sekarang, jangan makan yang aneh-aneh dulu. Paman saja tidak pernah memberi kamu makan kerang.”
Aku tertawa kecil. Dalam ingatanku memang Paman tidak pernah memberiku menu kerang. Mungkin hal yang sama pernah terjadi padaku sebelum Paman akhirnya memahami kondisi alergi yang aku alami ini.
Kami berbicara sebentar sebelum akhirnya aku menutup telepon. Paman memberikan satu merek salep yang bisa aku tebus di apotek terdekat untuk meredakan kemerahan dan gatal yang muncul akibat reaksi alergi ini.
Di kaca, embun sudah mulai menghilang. Aku mengambil tas dan keluar.
***
Pram sudah menungguku di depan toko bunga. Dia mengenakan pakaian rajut seperti biasanya.
“Kamu telat,” ujarnya sambil mendengus.
Aku menggaruk tengkuk kepalaku. “Hanya lima menit.”
“Enam,” tegas Pram.
Aku melihat jam. “Ck… Tidak perlu dipermasalahkan.”
Pram terkekeh. Lalu tangannya meraih tas kamera yang tersampir di pundakku untuk dipindahkan ke pundaknya.
Hari ini kami akan menghadiri sebuah acara kencan buta. Tentu saja bukan untuk mencari pasangan. Melainkan sebagaimana hari-hari biasanya, kami datang untuk mengambil gambar tentang orang-orang yang mungkin sedang mengalami sesuatu yang dikenal sebagai cinta pertama. Salah satu fase penting yang akan menghiasi bagian episodik memori dalam pameranku.
Sebelum berangkat, panitia meminta setiap peserta membawa satu bunga untuk diberikan kepada orang yang nantinya mereka temui. Karena itu kami berhenti di toko bunga.
“Kamu pilih yang mana?” tanyaku.
Pram menunjuk beberapa bunga. “Yang ini.”
Aku mengambil bunga itu. “Ini?”
Pram mengangguk.
Kami mengitari beberapa rak di toko bunga tersebut. Hingga kedua tangan kami hampir penuh dengan beberapa tangkai bunga dengan jenis yang beragam. Lalu, akhirnya kami mengambil salah satu tempat di sudut ruangan untuk merangkai bunga-bunga tersebut menjadi buket kecil bersama.
Aku memotong batang terlalu pendek. “Waduh.”
Pram melihatnya. “Gagal.”
“Diam,” jawabku ketus.
Dia tertawa.
Aku mengambil bunga lain untuk menutup bagian yang kosong. “Kamu pernah memberikan bunga untuk seseorang?” tanyaku sekembalinya ke tempat duduk.
“Pernah.”
“Pacar?”
Tangan Pram sibuk mengikat beberapa tangkai bunga pilihannya. “Bukan.”
“Lalu?”
“Tidak jadi dikasih.”
Aku menoleh. “Mengapa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku tertawa. “Tentu saja. Tipikal laki-laki yang suka main ke klub. Siapa tahu cinta kamu tipe cinta satu malam.”