Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #17

Potret Bunga Liar

Setelah keluar dari gedung tempat acara kencan buta itu, aku berjalan di samping Pram tanpa banyak bicara.

Orang-orang masih berlalu-lalang di sekitar kami. Beberapa peserta yang tadi mengikuti acara berjalan berpasangan, sebagian tertawa, sebagian sibuk melihat ponsel. Aku tidak memperhatikan mereka.

Namanya masih berputar di kepalaku. Dharma.

“Ratih.”

Aku menoleh.

“Kamu tidak apa-apa?”

Aku menggeleng. “Aku pernah membayangkan pertemuan kami berkali-kali setelah hubungan kami berakhir. Dalam bayanganku, mungkin aku akan baik-baik saja. Tapi entah kenapa ternyata rasanya sakit,” ujarku pada Pram.

Pram tidak bertanya lebih jauh. Beberapa langkah kemudian aku teringat sesuatu.

“Kamu pernah mengajak aku ke klub, bukan?”

Dia menoleh. “Mau sekarang?”

Aku mengangguk.

Pram terkekeh. “Baiklah.”

Kami berbelok menuju jalan yang biasa dilewatinya.

“Klub langgananmu?”

“Iya. Hanya untuk pemotretan, ya,” tegas Pram. Kali ini dia menggarisbawahi perkataanku sebelumnya.

***

Klub itu berada di lantai dua sebuah bangunan yang dari luar tampak biasa saja.

Begitu pintu dibuka, suara musik langsung memenuhi telinga. Lampu bergerak di atas kepala. Orang-orang berdiri berkelompok di sekitar meja. Beberapa menari, sebagian berbicara sambil memegang gelas.

Pram tampak jauh lebih santai di tempat itu.

Beberapa orang langsung menyapanya. “Pram!”

Dia mengangkat tangan.

“Lama tidak terlihat.”

Pram menyalami salah satu dari mereka. “Sedang sibuk.” Dia kemudian memperkenalkanku. “Ini Ratih.”

Aku mengangguk. “Halo.”

Salah seorang temannya tersenyum. “Pacar?”

“Bukan,” bantah Pram dengan cepat. Dia hanya tertawa ke arahku.

Aku mengeluarkan kamera. “Kami lagi bikin proyek butuh beberapa hal untuk dipotret.”

“Di sini?”

“Iya.”

Aku mulai mengambil gambar.

Lampu yang bergerak cepat membuat beberapa foto pertama terlalu gelap. Aku mengubah pengaturan kamera, menaikkan ISO, memperlambat sedikit shutter speed, lalu mencoba kembali.

Kali ini wajah-wajah mulai tertangkap. Seorang laki-laki tertawa sambil memegang gelas. Dua perempuan menari. Seseorang duduk sendirian di sudut ruangan. Aku menghampiri beberapa orang yang bersedia diwawancarai.

“Kalau dulu melakukan kenakalan seperti ini, biasanya suara ibu seperti apa yang paling kalian ingat?”

Seorang laki-laki tertawa. “‘Pulang!’”

Yang lain menjawab, “‘Kamu kira rumah ini hotel?’”

Lihat selengkapnya