Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #18

Potret Kakak Beradik

Sampai di akhir pekan, sebagaimana janji yang telah aku buat bersama dengan Rianti beberapa hari yang lalu. Kami mengunjungi tempat lama dalam ingatanku. Kios loak Paman—yang tentu saja menjadi satu dengan rumah lama kami.

Rianti berjalan di sampingku ketika kami melewati gang sempit menuju halaman rumah. Papan kayu yang menjadi penanda kios masih menggantung miring. Rak-rak tua masih memenuhi teras. Beberapa kipas angin, radio, kamera analog, piringan hitam, dan barang-barang yang tidak lagi kukenal fungsinya masih tertumpuk di tempat masing-masing.

Paman sedang duduk di bangku kayu sambil membersihkan sebuah radio tua. Begitu melihat kami, tangannya berhenti. “Wah.” Paman tersenyum. “Sudah lama tidak bertemu. Kenapa baru ke mari?” tanya Paman kepada Rianti.

Rianti tertawa. “Paman,” serunya sembari memeluk Paman. “Masih ingat Rianti, bukan?”

“Kalau lupa, berarti aku sudah tua sekali.”

“Paman memang sudah tua,” celetuk Rianti.

Paman terkekeh. “Mulutmu masih sama.”

Rianti menatap sekeliling. “Masih seperti dulu.” Matanya menyelidik ke sekitar, menatap tumpukan barang-barang loak yang memenuhi rak berderet di ruangan tersebut. “Yang berubah cuma barangnya. Silih berganti, masuk dan keluar.”

Paman melirikku. “Paman tidak memasakkan kalian apa-apa.”

Aku mengangguk dan memegang punggungnya. “Tidak apa-apa, Paman.” Lalu senyum tipis yang entah kenapa sangat berat untuk aku lakukan hari ini terukir di wajahku.

Untuk beberapa menit, suasananya terasa seperti tidak ada tahun-tahun yang terlewat. Rianti berjalan menyusuri rak-rak kios. Hampir sama dalam ingatanku ketika kami masih kecil dan Rianti sering berkunjung ke mari—setelah mengenalku di usia sepuluh tahun kala itu.

“Ini masih ada?” Tangan Rianti mengambil sebuah kamera polaroid tua. “Paman belum menjualnya?”

“Belum ada yang cocok,” jawab Paman sembari mengenakan kacamata yang sedari tadi tersampir di lehernya.

“Padahal dulu saya suka sekali melihat ini,” ujar Rianti. Kedua tangannya memainkan kamera polaroid tersebut. Dia mendekatkan salah satu matanya ke kamera sementara mata yang satunya menyipit.

“Bukan hanya melihat. Kamu dulu hampir membawanya pulang.”

Rianti tertawa. “Paman masih ingat?”

“Banyak yang saya ingat.”

Rianti meletakkan kamera itu kembali di tempat semula. Kemudian dirinya menemukan sebuah radio kecil. “Ini juga masih ada.” Rianti menatap ke arahku dan Paman dengan sumringah. “Paman memang tidak pernah buang barang, ya?”

Paman tersenyum tipis. “Kalau masih bisa disimpan, mengapa harus dibuang?”

Rianti mengangguk. Tidak ada yang menanggapinya lebih jauh. Aku tahu kebiasaan Paman. Benda-benda yang berada di kios itu bukan sekadar barang dagangan. Sebagian besar pernah menjadi milik seseorang. Sebagian datang dalam keadaan rusak. Sementara sisanya boleh jadi ditinggalkan begitu saja.

Paman membersihkannya, memperbaikinya, lalu menyimpannya sampai seseorang datang dan merasa benda itu layak dibawa pulang. Tentu saja karena itu dirinya selalu kesulitan membuang sesuatu.

Setelah bernostalgia cukup lama, Rianti akhirnya kembali menghampiri kami yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam rumah. Paman menyiapkan dua cangkir teh untuk menghangatkan perut kami.

“Sebenarnya kedatangan kami ke sini hendak mencari sesuatu, Paman,” ujar Rianti sembari mengambil posisi duduk di kursi kosong tepat di sebelahku.

Paman mengangkat alis. “Apakah itu?”

“Entahlah. Apapun yang bisa menghidupkan kenangan tentang …” Suara Rianti tercekat, sebelum menuntaskan kalimat tersebut, dia memandang ke arahku dan mendekap tanganku. “Ibu Ratih.”

Paman tertegun sejenak. Lalu aku bisa merasakan bahwa dia berusaha mengingat apa yang pernah aku ceritakan padanya terakhir kali mengunjungi rumah ini tentang pameran tunggalku yang ditawarkan oleh Rianti. “Oh, untuk proyek kalian?” Kemudian Paman menatap ke arahku, “Kamu jadi mengambilnya, ya?”

Aku tidak menjawab.

“Benar, Paman. Proyek itu sebenarnya membutuhkan rekaman suara ibu. Kehadiran suara ibu Ratih selaku seniman di balik pameran itu adalah satu hal yang paling diharapkan oleh stakeholder di balik pameran ini. Tentunya itu juga akan menambahkan sentuhan personal yang lebih dalam dari pameran pertama Ratih. Bukankah begitu, Rat?”

Aku menatapnya. “Kita tidak akan menemukan itu di sini, Ti. Percayalah.” Pandanganku akhirnya berlabuh kepada kedua mata Paman, “Bukankah kita memang tidak memiliki rekaman suara wanita itu, Paman?”

Paman terdiam sejenak. Lalu kepalanya menggeleng pelan. “Aku belum pernah memeriksa semua barang yang ada di sini.”

Jawaban Paman terasa menggantung. Aku pikir dari sekian banyak barang yang ada, Paman selalu memeriksanya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk melakukan transaksi dengan penjual.

“Tidak ada salahnya untuk mencoba mencari, bukan?” Rianti tersenyum padaku. “Bilamana memang tidak menemukan rekaman suara. Matera juga sudah mengatakan itu tidak masalah, asalkan ada kenangan tentang ibu dalam diri kamu yang setidaknya terpantik setelah kita mencari di rumah ini.”

Kesekian kalinya aku merasa terdesak. Aku memahami bahwa tidak ada jalan mundur setelah hari di mana aku memutuskan untuk menerima tawaran ini dari Rianti. “Aku tahu kios ini,” ujarku dengan penuh percaya diri setelah mendapati atap genting yang bocor sudah Paman perbaiki. Membuatku yakin bahwa Paman juga sudah melakukan apa yang aku pintahkan saat berkunjung kemarin, termasuk membersihkan kamar wanita itu.

Rianti beranjak dari tempat duduknya dan mengambil tanganku. “Ayo kita cari dulu.”

Aku menatapnya. Dia tidak melepaskan, membuat tubuhku ikut ditarik untuk berdiri dari kursi.

Lihat selengkapnya