Tempat perbaikan barang elektronik itu berada di sebuah deretan toko tua yang nyaris tenggelam di antara bengkel dan toko onderdil. Papan namanya sudah pudar, kacanya dipenuhi debu, dan dari dalam terdengar suara benda-benda kecil yang dibongkar lalu dipasang kembali. Bau timah solder bercampur dengan debu logam memenuhi ruangan.
Micro cassette yang kami temukan di kios Paman diletakkan di atas meja teknisi.
“Masih bisa dibaca?” tanyaku.
Laki-laki di balik meja mengangkat benda kecil itu, membolak-baliknya, kemudian memeriksa bagian ujung kaset dengan kaca pembesar. “Kemungkinan.”
Rianti mengernyitkan dahi. “Kemungkinan?”
“Kasetnya sudah tua. Pitanya bisa saja putus atau suaranya sudah rusak. Tapi kalau kondisinya masih bagus, kita bisa coba pindahkan isinya ke format digital.”
Rianti langsung menoleh kepadaku. Matanya seperti menemukan sesuatu yang sejak kemarin kami cari. “Berapa lama?” tanyanya pada teknisi.
“Beberapa hari.”
Rianti mengangguk. “Bisa lebih cepat?”
Teknisi itu tersenyum. “Kalau mau cepat, bayar lebih.”
Rianti tertawa kecil.
Kami meninggalkan tempat itu dengan tangan kosong, tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa sedang membawa sesuatu pulang. Sebuah harapan.
Di sepanjang trotoar, Rianti berjalan sambil memegang ponselnya. Beberapa kali ia membuka sesuatu, membaca, lalu menutupnya kembali. Sampai akhirnya dia berhenti di depan sebuah kedai kopi kecil. “Ratih.”
Langkahku turut terhenti sejenak. Rianti mengajakku untuk duduk di sebuah bangku yang ada di bahu jalan tersebut.
“Aku akhirnya terpikirkan sesuatu. Tentang bagian terakhir dari pameran. Section Memory of the Dead.”
Aku menatapnya. Sebagian diriku sebenarnya merasa khawatir dengan ide gila apalagi yang akan muncul di kepala Rianti. “Apa itu?”
“Bilamana hal terburuk, kita tidak menemukan suara ibu kamu, mungkin kita bisa mengubah pendekatannya.”
“Menjadi apa?”
“Kumpulan video.”
Aku mengernyit. “Video?”
“Bukan dokumenter biasa. Kita akan buat video sekitar tujuh menit tentang core memories manusia.” Rianti mulai menjelaskan dengan tangannya yang bergerak ke sana ke mari. “Potongan-potongan kecil dari semua pemotretan yang sudah kamu lakukan. Kelahiran, keluarga, anak-anak, orang tua, cinta pertama, kenakalan atau bahkan cukup mengikuti proses di balik persiapan pameran ini. Jadi kita akan memvideokan juga perjalanan kamu mengumpulkan cerita orang-orang di luar sana yang akan hadir sebagai karya dalam pameran. Kita gabungkan semuanya menjadi satu video.”
Aku mengangguk pelan. Sejauh ini ide Rianti masih bisa aku terima sebagai alternatif yang bagus. “Matera menyetujuinya?”
Rianti manggut-manggut. “Aku sudah menyampaikannya, sih. Mereka sepakat. Termasuk dengan profil penyunting video yang akan bekerja bersamamu.”
Seperti yang aku pikirkan, pasti Rianti sudah selangkah di depanku—dia akan memutuskan terlebih dahulu sebelum menanyakan pendapatku. “Siapa?”
“Dharma.”
Aku ternganga mendengar nama itu. Barangkali yang Rianti maksud adalah orang lain. Nama Dharma di dunia ini—atau setidaknya wilayah kami—bukan hanya merujuk ke satu orang yang kukenal. “Dharma siapa?”
“Kekasihmu. Aku sudah cek profilnya. Dia sangat berpengalaman untuk memegang proyek pembuatan video semacam ini.”
Aku mendesah pelan. Dugaanku benar tentang ide Rianti. Setidaknya akan ada satu hal buruk yang menyertai ide cemerlangnya. “Aku sudah putus dengan dia.”
“Benarkah?” Rianti mendelik, sama terkejutnya seperti aku yang mendengar ide buruknya itu. “Kamu belum cerita padaku.”
Suasana lengang sejenak.