Kardus cokelat itu masih berada di depan pintu unitku ketika aku pulang. Bentuknya sudah sedikit berubah karena beberapa kali terkena dorongan pintu, tetapi tetap berada di tempat yang sama. Tidak ada yang mengambilnya.
Baru kali ini aku memperhatikan bahwa tidak ada tulisan yang tertera di bagian atasnya. Barangkali itu alasan kenapa petugas kebersihan tidak mengambilnya. Sebab tidak terdapat tulisan Untuk Dibuang yang ada di permukaan kardus tersebut.
Setelah aku memutuskan bahwa semua benda yang berhubungan dengan Dharma harus keluar dari apartemen ini. Ironisnya, barang-barang yang aku pilah sendiri untuk dibuang itu justru menjadi benda yang paling lama berada di depan pintuku.
Aku membungkuk, mengangkatnya, lalu membawanya masuk. Kardus itu terasa lebih berat daripada yang kuingat. Satu per satu benda kukeluarkan.
Boneka domba yang pernah diberikan Dharma ketika dia akhirnya berhasil membuatku menerima perasaannya setelah berkali-kali mencoba. Pigura berisi foto kami ketika menghadiri sebuah pameran. Scrapbook yang berisi foto, struk, dan tulisan tangannya. Bunga plastik yang sudah mulai berdebu. Kamera analog. Gelang kembar dengan inisial nama kami.
Lalu sebuah jam tangan. Tanganku berhenti ketika menyentuh benda itu. Jam tersebut masih berfungsi. Jarumnya bergerak pelan, seolah tidak pernah tahu bahwa pemiliknya sudah tidak lagi menjadi bagian dari hidupku. Dharma memberikannya pada kencan pertama kami.
Waktu itu dia mengatakan bahwa dirinya menyukai lukisan Salvador Dalí, The Persistence of Memory. Katanya, ada sesuatu yang menarik dari cara Dalí menggambarkan waktu sebagai sesuatu yang tidak benar-benar bisa kita pegang. Jam-jam yang meleleh dalam lukisan itu membuat waktu terlihat seperti benda yang kehilangan bentuknya ketika berada terlalu lama di dalam ingatan.
Aku tidak terlalu memahami maksudnya saat itu. Hingga Pram menjelaskan dengan saksama tentang arti lukisan tersebut ketika kami mengunjungi galeri. Mungkinkah Dharma menyiratkan bahwa saat-saat bersamaku membuat waktu terasa lebih lama? Atau justru lebih cepat? Aku tidak tahu. Aku hanya ingat dia tertawa ketika melihat wajahku yang kebingungan.
“Tidak harus dipahami sekarang,” katanya. “Nanti juga kamu ngerti.”
Mungkin dia benar. Kali ini, aku justru memahami jam tangan itu dengan cara yang berbeda. Waktu memang tidak pernah berhenti. Yang tertinggal hanya benda-benda yang membuat kita mengingat bahwa kita pernah berada di suatu titik tertentu dalam hidup.
Aku memutar jam tersebut di telapak tangan. Jari-jariku justru mengambil ponsel. Nama Dharma muncul di daftar kontak yang sudah lama tidak kusentuh. Aku membuka ruang percakapan kami.
Pesan terakhir yang baru aku kirim padanya saat bersama Rianti tadi masih menggantung di ruang obrolan tersebut. Jariku secara tidak sadar menggulir riwayat percakapan kami. Tidak terlalu jauh. Hanya sampai beberapa percakapan pendek yang semakin lama semakin kehilangan isi, hingga akhirnya berhenti sama sekali.
Aku memberanikan diri untuk memencet tombol panggil. Suara nyaring berdering dari ponsel tersebut. Beberapa kali sampai akhirnya berhenti karena orang di seberang sana sudah tersambung dalam panggilan.
“Halo … Ratih?” sapa Dharma dari seberang sana.
Entah apa yang aku rasakan saat ini. Aku tidak memahaminya. “Dharma, bisa bertemu?”
Lelaki di sana terdiam sejenak. Tidak mau menggantungkan percakapan aku langsung melanjutkan maksud dan tujuan aku mengajaknya bertemu. Lantas dia mengatakan bahwa dirinya belum sempat membuka pesan yang aku kirimkan karena seharian sedang sibuk dengan pekerjaan.
“Bisa. Mari bertemu,” pungkasnya.
***
Kami bertemu dua hari kemudian di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu jauh dari tempat kerjanya. Dharma datang lebih dulu. Dia duduk di dekat jendela, sesekali melihat ponsel sambil menunggu pesananku dibuat.
Ketika melihatku, dia tersenyum kecil. “Cukup lama, ya.”
“Lumayan.” Aku duduk di depannya.