Laundry koin itu tidak terlalu ramai hari ini. Hanya ada dua orang yang sedang menunggu mesin cuci mereka selesai dan seorang anak kecil yang berlari-lari di antara deretan kursi plastik. Aku memasukkan pakaian ke dalam salah satu mesin, menuangkan deterjen, lalu menutup pintunya.
Mesin cuci mulai berputar. Air perlahan memenuhi tabung, membasahi pakaian yang tadi kususun asal. Beberapa detik kemudian, busa putih mulai muncul dan bergerak mengikuti putaran mesin.
Aku duduk di kursi tepat di depannya. Buku pemberian Paman ada di pangkuanku. Sejak mendapatkannya, baru sekarang aku punya cukup keberanian untuk membacanya lagi.
Halaman-halamannya sudah menguning. Beberapa sudut dilipat. Tulisan tangan Ibu muncul di sela-sela paragraf, sebagian menggunakan pensil, sebagian menggunakan pulpen. Ada bagian yang diberi garis bawah, ada yang diberi tanda bintang, dan ada pula catatan pendek yang hanya terdiri dari beberapa kata.
Panduan membantu Ratih melewati menstruasi. Aku berhenti di halaman itu cukup lama. Tanggal di bagian atasnya menunjukkan bahwa tulisan ini telah dibuat semenjak aku masih berusia empat menuju lima tahun. Di bawahnya terdapat catatan mengenai apa yang harus dilakukan ketika aku merasa sakit, makanan yang sebaiknya disiapkan, sampai hal-hal kecil yang mungkin membuatku lebih nyaman.
Halaman berikutnya berisi daftar makanan yang harus kuhindari. Ada catatan tentang makanan pedas, makanan yang terlalu berminyak, makanan laut tertentu, dan beberapa kalimat tentang apa yang harus dilakukan jika aku sudah terlanjur memakannya. Kerang termasuk salah satunya.
Aku tersenyum kecil ketika mengingat berapa kali Paman memarahiku karena tetap memakan sesuatu yang sudah dilarang.
Lalu ada bagian lain. Panduan menanggapi kenakalan Ratih.
Aku membaca beberapa baris. Di sana tertulis beberapa kemungkinan kenakalan yang mungkin kulakukan dan bagaimana orang dewasa seharusnya meresponsnya. Tidak semuanya terjadi. Sebagian bahkan terdengar seperti kemungkinan-kemungkinan yang dibuat seseorang yang sedang berusaha mempersiapkan diri menjadi ibu.
Ada pula bagian yang membuatku tertawa kecil. Panduan menahan amarah kepada Ratih. Aku bisa membayangkan wajah Paman ketika membaca bagian tersebut. Mungkin Ibu pernah memintanya untuk tidak langsung memarahiku ketika aku melakukan kesalahan. Barangkali Ibu khawatir Paman terlalu keras.
Aku membalik halaman. Kemudian menemukan bagian lain yang membuat tanganku berhenti. Panduan mengambil uang biaya hidup Ratih. Aku membaca halaman itu lebih pelan.
Ada catatan tentang rekening yang harus digunakan. Berbeda dengan bagian sebelumnya, justru bagian ini membuatku bingung. Lalu sebuah kalimat membuatku mengerutkan dahi. Rekening akan terisi setiap satu bulan sekali. Aku membaca ulang.
“Dari mana uang itu berasal?” gumamku Selama ini aku selalu mengira biaya hidupku berasal dari Paman. Setidaknya itulah yang kupahami sejak kecil. Paman yang bekerja, membayar sekolah, dan membelikan makanan.
Tetapi kalau begitu, rekening itu milik siapa? Siapa yang mengirimnya?
Aku menutup buku sebentar. Putaran mesin cuci di depanku masih bergerak. Pakaian-pakaian di dalamnya berputar, tenggelam, lalu muncul kembali di balik lapisan busa.
“Kalau terus dilihat, bajunya juga tidak bakal mengering dengan sendirinya.”
Aku menoleh. Pram berdiri di samping kursiku sambil membawa dua es krim.
“Dari mana?” tanyaku. Seolah pertemuan dengan Pram secara tidak sengaja di tempat cuci adalah hal yang lumrah.
“Dari minimarket.” Dia menyerahkan salah satu es krim kepadaku. “Minum. Kamu kelihatan seperti orang yang sedang membaca buku dengan terlalu serius untuk dibaca di laundry.”
Aku menerima es krim itu. “Apa yang kamu lakukan di sini?”
“Sekadar lewat. Tidak sengaja.”