Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #22

Potret Riasan Terakhir

“Sudah membuat janji?” Aku bertanya ketika Pram menghentikan motornya di depan sebuah bangunan sederhana yang berada di antara deretan rumah dan toko kecil.

“Sudah,” jawabnya. “Kemarin aku sudah menghubungi beliau.”

Pram memeriksa ponselnya sekali lagi sebelum memasukkannya ke saku. Hari itu kami memang sengaja datang untuk menemui seorang perias jenazah yang sebelumnya sudah dihubungi. Dari beberapa orang yang kami temui untuk kebutuhan pameran, kali ini Pram mengatakan bahwa ia ingin mengangkat cerita tentang seseorang yang pekerjaannya justru membuatnya terus mengingat orang yang telah meninggal.

Kami masuk setelah mengetuk pintu. Seorang perempuan menyambut kami. Usianya mungkin sekitar empat puluhan. Ia mengenakan pakaian sederhana dan rambutnya diikat ke belakang. Setelah memperkenalkan diri, Pram kembali menjelaskan tentang proyek yang sedang kami kerjakan dan meminta izin untuk mengambil beberapa gambar selama percakapan berlangsung.

Perempuan itu mengangguk. “Jadi kalian yang kemarin menghubungi saya?”

“Iya, Kak,” jawab Pram. “Ini Ratih.”

Aku mengangguk. “Senang bertemu.”

“Senang bertemu juga.”

Kami kemudian masuk ke ruangan tempat ia biasa bekerja. Ruangan itu tidak terlalu besar. Sebuah meja panjang berada di tengah, dikelilingi beberapa kursi. Di atasnya terdapat kuas, spons, kapas, bedak, botol-botol kecil, dan berbagai perlengkapan lain yang tersusun cukup rapi. Sebuah cermin besar menempel di salah satu dinding. Tidak ada yang terlihat menyeramkan. Justru terasa seperti ruang rias biasa. Hanya saja, orang-orang yang datang ke ruangan ini tidak akan kembali melihat orang yang mereka cintai seperti sebelumnya.

Pram mulai mengambil beberapa gambar. Aku memperhatikan perempuan itu ketika dia menjelaskan satu per satu perlengkapan yang biasa digunakan.

“Awalnya saya tidak pernah kepikiran bekerja seperti ini,” katanya. “Saya juga tidak tahu pekerjaan ini akan menjadi sesuatu yang saya jalani hingga saat ini.”

“Lalu mengapa akhirnya memilih menjadi perias jenazah?” tanyaku.

Perempuan itu terdiam sebentar. “Ibu saya.”

Jawabannya membuatku ikut diam.

Perempuan itu kemudian bercerita bahwa beberapa tahun lalu, ibunya meninggal dunia. Keluarganya tidak memiliki cukup biaya untuk menggunakan jasa funeral director. Pada hari terakhir kehidupan ibunya, dialah yang membersihkan dan merias wajah sang ibu.

“Waktu itu saya hanya melakukan apa yang saya bisa.” Tangannya mengambil sebuah kuas dari atas meja. “Saya pikir setelah selesai, semuanya juga selesai. Ternyata tidak.” Ia meletakkan kembali kuas tersebut. “Setelah itu saya mulai bekerja sebagai perias jenazah.”

Lihat selengkapnya