Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #23

Potret Ruas-Ruas Kamar Ibu

Kios Paman sore itu lebih ramai dari biasanya, meskipun yang datang sebenarnya hanya tiga orang.

Pram berdiri di samping motor sambil memperhatikan tumpukan barang yang memenuhi teras. Dharma baru saja turun dari mobil dan masih memegang kameranya. Mereka berdua saling melihat beberapa detik sebelum akhirnya Pram mengulurkan tangan.

“Pram.”

“Dharma.”

Jabat tangan mereka singkat.

“Ratih sering cerita tentang kamu,” kata Pram.

Dharma menoleh kepadaku.

Aku mendengus ke arah Pram. “Pram, jangan mulai.”

Dharma tersenyum tipis. Pram ikut tertawa kecil. Setelah itu tidak ada lagi yang dikatakan. Rianti seharusnya ikut datang, tetapi sejak pagi mengabari bahwa ada sesuatu yang harus diurus. Jadi hari itu hanya kami bertiga.

Aku membuka pintu kios dan mengajak mereka masuk. “Kamarnya di belakang.”

Dharma mengangguk sambil memeriksa kameranya. Pram mengambil beberapa barang yang menghalangi jalan.

Kamar Ibu masih seperti terakhir kali kulihat. Bedanya, kali ini aku tidak datang untuk berdiri di ambang pintu. Aku masuk.

Debu beterbangan ketika pintu dibuka lebih lebar. Bau kayu tua bercampur dengan aroma pakaian yang terlalu lama disimpan memenuhi ruangan. Sebagian barang masih berada di tempatnya, sebagian lain sudah dipindahkan Paman ke dalam kardus-kardus besar.

Dharma memasang kamera di salah satu sudut ruangan. “Kalau ada yang ingin kamu ceritakan, bilang saja,” katanya. “Aku rekam dari sini.”

Aku mengangguk.

Pram mendekat ke salah satu lemari. “Mulai dari mana?”

“Yang ada identitasnya. Yang punya nama, tulisan, cap, atau sesuatu yang bisa menunjukkan asalnya. Atau sesuatu yang terasa unik untuk disimpan dan dicari tahu lebih lanjut,” tukasku.

Pram mengangguk.

Kami mulai memilah tumpukan-tumpukan barang. Sebuah rosario tua dengan ukiran nama gereja di belakangnya. Guci kecil yang tampaknya merupakan buah tangan dari seseorang. Aku segera mengetahui itu merupakan pemberian ketika ada sebuah kertas putih yang mulai memudar dengan tulisan ‘Nandita Laksmi, Redaksi Jaya Pos’ ditempel pada bagian bawah guci tersebut. Tanganku sempat membuka ponsel dan mencari nama itu di internet. Aku menemukan sebuah profil dari seorang mantan reporter yang sepertinya sudah berhenti berkarir lima tahun—tidak ada publikasi berita baru yang dia tulis semenjak itu. Lantas satu nama terlintas di pikiranku, Linda, rekan kerja Rianti yang memegang bagian publisitas di kantornya. Mungkin dia bisa mencarikanku kontak perempuan bernama Laksmi itu, pikirku.

Lalu aku meneruskan penyortiran barang kembali dan memutuskan akan menghubungi Linda melalui Rianti nanti. Aku menemukan sebuah penyeranta—alat komunikasi lama. Hampir sama dengan guci sebelumnya. Secarik kertas yang lebih kecil juga ditempel pada punggungnya. Kertas itu berisikan beberapa deret numerikal yang sulit aku pahami.

“Apa yang kamu temukan?” tanya Dharma sembari melongok dari belakangku.

“Penyeranta. Juga sebuah tulisan di belakangnya. Ini apa, ya?”

Dharma mengambilnya dari tanganku. Dia mencoba mempelajari benda tersebut.

Aku kembali ke pekerjaanku. Membiarkan Dharma mencari cara untuk mengaktifkan benda tersebut. Beberapa benda kecil yang memiliki cap nama toko atau perusahaan. Hingga aku berhenti sejenak pada sebuah foto pernikahan Ibu dan Ayah yang warnanya sudah memudar. Wajah mereka bahkan tidak terlihat jelas. Aku hanya bisa mengenali Ibu dari bentuk tubuh dan gaun yang dikenakannya.

Foto itu membuatku berhenti cukup lama.

“Masih kelihatan?” Pram melongok dari belakangku.

Aku memperhatikan foto tersebut. “Sedikit.” Aku menyimpannya ke dalam tumpukan.

Barang-barang lainnya kami pisahkan. Beberapa tumpuk pakaian. Alat makan. Perhiasan. Akta kematian. Alat-alat kebersihan yang Ibu gunakan untuk bekerja—penyedia jasa untuk membersihkan tempat tinggal orang yang sudah meninggal. Kemudian tanganku kembali berhenti di atas beberapa helai pakaian bayi. Sejenak aku mengira itu adalah pakaian bayi yang aku gunakan saat dulu kecil, membayangkan bagaimana kelembutan pakaian tersebut menyentuh kulitku yang masih rentan. Aku tertawa pelan saat melihat label yang terkait di bagian leher pakaian, Male. Mungkin Ibu dan Ayah mengira jenis kelaminku laki-laki saat berada di rahim.

Namun pikiran itu terhalau setelah aku menemukan label di setiap helai bagian dalam pakaian yang menunjukkan nominal harga dan tanggal pembelian barang. Aku mencoba menghitung—mencari selisih dari tahun kelahiranku—barang tersebut dibeli sekitar dua tahun lebih sebelum aku lahir. Lantas aku bergumam bahwa apakah Ibu dan Ayah jauh lebih dulu mempersiapkan baju-baju ini bahkan sebelum aku ada?

Lalu fokusku teralih pada beberapa medali dan piagam fotografer yang terselip di bagian bawah lemari. Aku mengangkat salah satunya. “Fotografer?”

Paman tidak pernah mengatakan Ibu suka memotret. Tapi melihat medali dan piagam itu membuat cerita tersebut terasa sedikit berbeda. Rupanya sebelum menjadi seseorang yang hanya kukenal sebagai ibu, dia pernah memiliki kehidupan yang tidak pernah sempat diceritakan.

Di laci paling bawah, aku menemukan sebuah jam tangan. Bentuknya sederhana. Tali kulitnya sudah mengeras. Aku memakainya di pergelangan tangan. Terlalu longgar.

“Yang itu disimpan?” tanya Pram.

Aku mengangguk. “Yang ini untuk aku.”

Aku tidak menyangka membereskan kamar Ibu akan terasa seperti membongkar seseorang. Setiap benda membuatku menemukan bagian yang tidak kukenal.

Pintu diketuk. Paman berdiri di sana sambil membawa beberapa kardus. “Ratih.”

Aku menoleh.

Micro cassette-nya sudah selesai.”

Dadaku seperti tersentak kecil. “Sudah?”

Paman mengangguk. “Sudah direstorasi. Semuanya bisa diputar.”

Aku langsung berdiri dan menghampirinya. Aku mengangkat kardus yang disodorkan oleh Paman dan membawanya masuk ke dalam kamar.

“Pram,” ujarku membuat lelaki itu menoleh. “Boleh bantu?”

Pram menerima kardus tersebut.

Lihat selengkapnya