Pagi itu aku pergi ke bank bersama Pram. Pram menginap semalam di rumah Paman. Dia memilih untuk tidur di sofa panjang yang terletak di ruang tamu.
Dharma sudah kembali ke ibu kota sejak kemarin malam karena ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Sebelum pergi, dia sempat mengingatkanku untuk tidak terlalu lama memikirkan suara dari micro cassette yang menyebut nama Sinta. Katanya, semakin sering aku memutarnya di kepala, semakin banyak kemungkinan yang akan kubuat sendiri. Aku tidak membalasnya. Nama itu tetap ikut bersamaku hingga saat ini.
Di dalam tas, rekening koran milik Ibu kusimpan bersama kartu debit yang diberikan Paman. Kertas-kertasnya sudah agak kusut karena beberapa kali kubuka sejak kemarin.
Pram duduk di sebelahku ketika kami menunggu nomor antrean. “Masih kepikiran?”
“Yang mana?”
“Sinta.”
Aku menggeleng. “Sekarang aku lebih penasaran dengan rekening ini.”
“Kalau ternyata tidak ada apa-apa?”
“Berarti kita pindah untuk menelusuri yang lain.”
Nomor antreanku dipanggil. Aku berjalan menuju teller dan menyerahkan rekening koran tersebut. “Saya mau mencetak rekening koran yang lebih lengkap,” kataku. “Kalau bisa, saya juga ingin mengetahui nama pengirim dana yang masuk ke rekening ini.”
Teller memeriksa dokumen yang kuberikan. “Untuk transaksi lama?”
“Iya.”
Dia mengetik sesuatu di komputer. “Perlu beberapa menit, Ibu. Mohon ditunggu.”
Aku mengangguk lalu kembali duduk. Tidak lama kemudian ponselku bergetar. Rianti.
Aku mengangkatnya. “Ada apa?”
“Bagaimana keadaanmu di sana?”
“Baik.”
“Masih di rumah Paman?”
“Iya. Tapi aku sedang di bank bersama Pram.”
“Untuk apa?”
Aku menceritakan soal rekening koran dan kejanggalan jumlah dana yang masuk setiap periode. Rianti mendengarkan sampai selesai sebelum bertanya tentang barang-barang yang kemarin kami sortir dari kamar Ibu. Aku menyebut satu per satu barang yang masih kuingat. Rosario, pager, foto pernikahan yang sudah buram, medali, piagam fotografer, baju pernikahan, sampai beberapa benda yang belum kuketahui kegunaannya.
“Foto pernikahan itu masih ada?” tanya Rianti.
“Ada.”
“Di belakangnya ada tulisan?”