Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #25

Potret Rosario dan Bunda Maria

Nama gereja yang aku dan Pram kunjungi hari ini tercetak samar di bagian belakang rosario peninggalan Ibu.

Tulisan tintanya sudah memudar, tetapi masih cukup jelas untuk dibaca. Pagi itu aku dan Pram berangkat ke Depok setelah sarapan seadanya di kios Paman. Rosario tersebut kusimpan di saku tas bersama foto pernikahan, rekening koran, dan beberapa benda lain yang belakangan terasa seperti petunjuk daripada peninggalan.

Gereja itu tidak terlalu besar.

Bangunannya sederhana dengan dinding berwarna putih gading yang mulai menguning dimakan usia. Ketika kami tiba, misa pagi baru saja selesai. Umat perlahan keluar dari dalam gereja sambil bercengkrama. Sebagian besar berusia lanjut.

Aku berdiri sejenak di halaman. Entah kenapa jantungku berdebar lebih cepat.

“Takut?” tanya Pram.

“Sedikit.” Aku mengangguk. “Aku tidak tahu akan menemukan apa di dalam sana.”

Pram tidak menanggapi. Adakalanya dia memang seperti itu. Memberi ruang agar pikiranku bisa menyelesaikan kalimatnya sendiri.

Kami menunggu hingga gereja mulai lengang sebelum menemui pastor yang masih berdiri di dekat altar. Usianya mungkin sudah lebih dari tujuh puluh tahun. Punggungnya sedikit membungkuk. Rambutnya memutih hampir seluruhnya.

Aku memperkenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatanganku. “Maaf, Pastor. Salam kenal saya Ratih dan teman saya, Pram.”

Lelaki tersebut tersenyum. Meninggalkan kerutan di lekuk bibirnya yang terangkat membentuk simpul. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Apakah Pastor mengenal ibu saya?”

Beliau terdiam sejenak sebelum akhirnya menerima foto yang kusodorkan. Matanya menyipit. Lalu kepalanya menyamping sedikit. “Wajahnya terasa tidak asing.”

Aku menunggu.

“Tapi saya sudah tua.” Beliau tersenyum kecil. “Banyak orang datang dan pergi selama puluhan tahun.”

Aku mengangguk. Tidak kecewa. Justru merasa itu masuk akal. Sudah hampir dua puluh tahun. Aku sendiri bahkan kesulitan mengingat wajah Ibu dengan jelas. Bagaimana mungkin berharap orang lain masih mengingatnya?

Kemudian aku mengeluarkan rosario yang kutemukan. “Kalau ini, Pastor?”

Pastor menerima rosario tersebut. Tangannya berhenti. Kali ini lebih lama. Sorot matanya berubah sedikit. “Hm …” Beliau membalik rosario itu. Lalu menatapku lagi. “Mari ikut saya masuk.”

Kami berjalan keluar dari area gereja—lebih tepatnya memasuki area di balik bangunan tersebut. Di belakang kompleks gereja terdapat sebuah sekolah asrama Katolik khusus anak laki-laki. Bangunannya tua tetapi terawat. Pohon-pohon besar menaungi sebagian besar halaman.

Suasana di sana berbeda. Lebih tenang. Lebih sunyi. Sesekali terdengar suara anak-anak berlari dari kejauhan. Pastor berjalan perlahan di depan kami. Aku dan Pram mengekor di belakangnya.

Beberapa biarawan yang berpapasan menyapa beliau dengan hormat. Kami terus berjalan hingga tiba di sebuah bangunan yang lebih tua dibanding yang lain.

Seorang biarawan lanjut usia sedang menyiram tanaman di teras. “Frater Lukas,” panggil Pastor.

Pria itu menoleh. Senyumnya hangat. Pastor kemudian memperkenalkan kami. “Ini Ratih. Dan ini Pram.”

Aku menjabat tangan lelaki yang diperkenalkan oleh Pastor tersebut. Rasa-rasanya usia lelaki itu hanya terpaut beberapa tahun lebih muda dari Pastor.

“Salam kenal.”

Tangannya hangat dan sedikit kasar. Ketika itulah aku menyadari sesuatu. Rosario yang melingkar di pergelangan tangannya sama persis dengan yang kubawa. Bentuk salibnya. Susunan maniknya. Bahkan warna kayunya.

Aku segera mengeluarkan rosario milikku. “Frater ...”

Biarawan itu menatap benda tersebut. Senyumnya perlahan memudar. Lalu dia menatapku. “Kalau boleh tahu, siapa nama lengkap kamu?”

“Ratih Sanggabuana.”

Untuk sesaat tidak ada yang bicara. Wajahnya berubah. Seolah sedang membuka lemari yang sudah lama tidak disentuh lalu menemukan sesuatu yang selama ini disimpannya baik-baik.

“Ratih?” Frater Lukas menegaskan kembali.

Aku mengangguk.

“Ratih kecil sudah sebesar ini sekarang?”

Aku mengernyitkan dahi. Akan tetapi, di dalam dadaku aku bisa merasakan detak jantungku yang berdegup.

“Frater Lukas mengenal saya?”

Dia justru tertawa kecil. “Saya mengenal ibumu lebih tepatnya.”

Aku membeku. “Frater masih ingat dengan ibu saya?”

Lihat selengkapnya