Ada kalanya seorang anak perempuan ingin pergi sejauh mungkin dari hidupnya sendiri.
Bukan karena ia membenci rumahnya. Bukan pula karena ia ingin meninggalkan orang-orang yang mencintainya. Hanya saja, ada hari-hari ketika masalah datang terlalu rapat, membuat ruang untuk bernapas terasa semakin sempit. Pada hari seperti itu, pergi menjadi cara paling sederhana untuk tetap waras. Pergi ke tempat yang tidak mengenal namanya, mengenakan pakaian yang tidak biasa dipakainya, mengambil gambar wajah sendiri dari sudut yang belum pernah dilihatnya, lalu berpura-pura bahwa hidupnya sedang baik-baik saja.
Mungkin itu sebabnya aku tidak terlalu terkejut ketika Rianti mengirimkan sebuah artikel kepadaku pagi itu. Judulnya membesar di layar ponsel. Pameran Merekah: Eskapisme Anak Perempuan Sulung. Aku membacanya sambil setengah berbaring di sofa. “Ini apa?”
“Baca yang benar,” pintah Rianti.
Aku menggulir kembali ke atas. Artikel tersebut membahas sebuah pameran yang mengangkat kehidupan anak perempuan sulung, tentang bagaimana mereka sering tumbuh menjadi tempat bersandar sebelum sempat belajar bersandar kepada orang lain. Ada tulisan tentang tanggung jawab, keluarga, ekspektasi, dan cara sebagian perempuan melarikan diri untuk menemukan dirinya sendiri.
Hari itu Rianti datang dengan pakaian yang jauh lebih rapi dari biasanya. Rambutnya ditata dengan teliti, wajahnya dipoles dengan riasan yang membuat matanya terlihat lebih hidup. Bahkan parfum yang dikenakannya bisa tercium ketika ia baru saja masuk ke dalam apartemen.
Aku menatapnya dari ujung kepala sampai kaki. “Kamu mau menikah, kah?”
“Tidak.” Rianti menatapku aneh. Dia tahu bahwa aku sedang bercanda. “Aku hanya ingin berfoto hari ini. Sekalian saja.”
“Kalau hanya ingin foto, mengapa tidak meminta aku saja?”
Dia tertawa. “Karena kalau kamu yang memotret, aku takut hasilnya terlalu jujur.”
Aku mengangkat alis. “Maksudnya?”
“Sudahlah. Sekalian saja mumpung kita juga hari ini ke studio foto. Aku ingin menyunting hasil fotoku nanti yang pasti akan kamu tertawakan kalau kamu yang memotret.”
“Itu bukan salahku,” elakku.
Kami tertawa kecil sebelum akhirnya berangkat.
Tujuan kami adalah sebuah studio foto yang alamatnya tertera di belakang foto pernikahan Ayah dan Ibu. Tempat itu masih berdiri, meskipun papan namanya telah berganti dan interiornya sudah direnovasi. Dari luar, sulit membayangkan bahwa hampir dua puluh tahun lalu sepasang pengantin pernah berdiri di tempat yang sama.
Aku membawa foto pernikahan yang telah kami temukan di kamar Ibu.
Begitu masuk, seorang karyawan menyambut kami. “Selamat siang.”
“Siang. Saya ingin menanyakan sesuatu.” Aku mengeluarkan foto tersebut dari dalam map. “Apakah foto ini bisa direstorasi?”
Karyawan itu menerima foto dari tanganku dengan hati-hati. “Bisa dicoba.”
“Dan ...” Aku berhenti sejenak. “Apakah masih mungkin ada kaset atau negatif dari hasil pemotretan ini?”
Ia terlihat berpikir. “Kaset?”
“Dulu kan biasanya hasil pemotretan disimpan dalam bentuk negatif atau kaset?”
“Kalau arsip lama, kami harus cek dulu. Tapi akan saya coba carikan.”
Aku mengangguk. Lalu muncul pertanyaan lain yang sebenarnya sejak awal sudah kuketahui jawabannya. “Bapak masih ingat klien yang ada di foto ini?”
Ia melihat foto tersebut lagi. Lalu tertawa kecil. “Waduh ini sudah sangat lama, Mbak. Tentu saja tidak.”
Aku ikut tersenyum. Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja tidak mungkin seseorang mengingat semua orang yang pernah datang ke tempat ini selama hampir dua puluh tahun.
Foto itu kemudian dibawa ke meja kerja. Sementara karyawan tersebut mulai memindai dan membersihkan gambar, Rianti sudah lebih dulu dipanggil fotografer untuk masuk ke ruang pemotretan.
Aku menunggu di luar.
“Boleh saya tanya sesuatu?” tanyaku kepada karyawan tersebut.
“Tentu.”
“Sudah lama bekerja di sini?”
“Lumayan. Hampir sepuluh tahun.”
“Hal paling susah dari pekerjaan ini apa?”
Tangannya masih sibuk memperbaiki noda kecil di bagian sudut foto. “Banyak.” Ia tersenyum. “Orang biasanya datang ke studio ingin terlihat bahagia.”
Aku mengernyitkan dahi. “Bukankah itu memang tujuan foto?” Sejauh aku bekerja di dunia fotografer—sama seperti yang dia tekuni—aku merasa sebagian besar orang memang ingin dipotret ketika momen bahagia.
“Iya.” Ia memperbesar gambar di layar. “Tapi ada juga yang datang karena mereka tahu sebentar lagi tidak akan punya kesempatan untuk berfoto lagi.”
Aku terdiam. “Maksudnya?”
“Pernah ada keluarga yang membawa seseorang yang sedang sakit keras. Mereka ingin foto bersama sebelum kondisinya memburuk.” Tangannya berhenti sebentar. “Yang paling menyedihkan itu ketika kita tahu foto tersebut mungkin menjadi foto terakhir mereka sebagai sebuah keluarga yang utuh.”