Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #27

Potret Temaram

Babak baru dari perjalanan menemukan suara Ibu ternyata tidak dimulai dengan sebuah rekaman.

Dimulai dari hal-hal yang masih menggantung. Nama yang belum kukenal. Barang-barang yang belum kembali ke tempatnya. Uang yang selama bertahun-tahun masuk ke rekening tanpa pernah kutanyakan dari mana asalnya. Orang-orang yang mengaku pernah mengenal Ibu jauh sebelum aku cukup besar untuk mengingatnya. Lantas sekarang barang-barang yang bahkan setelah meninggal pun masih seperti sedang menunggu untuk ditebus.

Malam itu meja apartemenku dipenuhi dokumen. Paman memberikannya beberapa hari lalu, bersamaan dengan rekening koran dan berkas-berkas lain yang selama ini disimpan di kios. Sebagian besar sudah menguning. Sudut-sudutnya terlipat dan beberapa tulisan mulai sulit dibaca.

Satu per satu kubuka. Surat gadai. Aku membaca nama barang yang tercatat di dalamnya: gaun pernikahan, perhiasan, dan kamera analog. Tiga barang dari tiga tempat berbeda.

Gaun pernikahan digadaikan di sebuah pegadaian swasta yang menerima segala bentuk barang bernilai guna untuk diuangkan. Perhiasan tercatat di pegadaian milik pemerintah. Sementara kamera analog berada di tangan seseorang secara perseorangan. Bentuk dokumennya bahkan tidak seperti surat gadai biasa. Lebih menyerupai perjanjian antara dua orang.

Aku membaca tanggalnya berulang kali. Beberapa tahun sebelum Ibu meninggal. Tidak ada keterangan mengapa barang-barang itu digadaikan. Hanya nama barang, tanggal, jumlah pinjaman, dan batas waktu penebusan.

Laptop kubuka. Aku mulai menghitung. Nilai pinjaman lama itu tidak bisa begitu saja digunakan untuk memperkirakan jumlah yang harus kubayar sekarang. Ada bunga, biaya penyimpanan, dan beberapa ketentuan lain yang harus diperiksa langsung. Tetapi berdasarkan angka yang tertulis, gaun dan perhiasan itu kemungkinan membutuhkan sekitar lima juta rupiah untuk dicairkan.

Kamera tidak memiliki angka yang jelas. Hanya ada satu kalimat mengenai kesepakatan pembayaran. Aku menyandarkan tubuh ke kursi. “Mengapa Ibu menggadaikan kamera?” Pertanyaan itu keluar sendiri.

Penyeranta di meja tiba-tiba berbunyi. Aku menoleh. Layar kecilnya menyala. Satu pesan masuk. KM SIAPA?

Aku menatapnya beberapa detik hingga ponselku berdering. Mengalihkan perhatianku sejenak dari penyeranta sehingga belum memutuskan untuk membalas. Nama Dharma muncul pada layar ponsel.

“Ada apa?”

“Tidak boleh hanya menanyakan kabar?”

“Boleh.”

“Bagaimana beberapa hari terakhir?”

Aku menatap tumpukan dokumen di depanku. “Banyak yang aku temukan.”

“Sebanyak apa?”

Aku tersenyum tipis. “Oh iya, Pram kemarin mengambil video bagus di gereja.”

“Benarkah?” jawab Dharma dengan nada yang aku rasa cukup ketus.

“Iya. Tenang saja, Pram sudah mempelajari bagaimana gaya pengambilan videomu. Kami ketemu biarawan yang masih kenal Ibu.”

Dharma terdiam sebentar. “Lalu?”

“Dia mengingat cukup banyak hal tentang Ibu.”

Aku menceritakan semuanya. Tentang asrama, tentang Ibu yang datang setiap dua minggu, tentang anak-anak laki-laki yang sering dilihatnya dari balkon, tentang foto-foto yang ternyata diambil Ibu, sampai kamera tua dan boneka dinosaurus yang diberikan kepadaku.

Dharma mendengarkan tanpa menyela. Setelah selesai, aku menceritakan kejadian pagi tadi. Soal perempuan yang mengaku sebagai kakak Ibu.

Lihat selengkapnya