Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #28

Potret Cincin di Jari Manis

Gaun pernikahan itu akhirnya kembali ke tanganku.

Setelah membayar sejumlah uang yang dibutuhkan untuk menebusnya, petugas pegadaian menyerahkan sebuah kotak panjang berlapis kain. Di dalamnya gaun putih yang sudah berusia lebih tua dariku terlipat rapi. Beberapa manik di bagian pinggang telah lepas, renda di ujung lengannya sedikit menguning, dan ada beberapa bagian yang harus dijahit kembali. Namun secara keseluruhan, gaun itu masih cantik.

“Masih cantik,” puji Dharma. Sejenak dia terlihat kikuk saat menyadari perkataan itu keluar dari mulutnya. “Maksud aku gaunnya. Seperti bukan gaun lama.”

Tanganku menyentuh bagian renda di pinggangnya. “Ini turun-temurun. Nenek yang pertama memilikinya, kemudian diwariskan ke Ibu.”

Dharma menatap gaun itu sebentar. “Kelak jika kamu menikah, kamu juga akan memakainya?”

Aku mengangkat bahu. “Entahlah.”

“Mengapa demikian?”

“Konsep pernikahan masih belum ada di pikiranku. Sama seperti dulu.” Aku tersenyum tipis dan memandang ke arahnya.

Dharma terdiam, meninggalkan rasa canggung yang menggantung di tengah percakapan kami.

Gaun itu kembali kulipat sebelum kumasukkan ke dalam kotak. Kami meninggalkan pegadaian dengan benda yang selama bertahun-tahun hanya kukenal dari sebuah dokumen pencairan, lalu melanjutkan perjalanan menuju tempat berikutnya.

Di sebuah persimpangan, lalu lintas berhenti. Dari balik kaca mobil, sepasang calon pengantin sedang melakukan pemotretan di halaman sebuah gedung. Perempuan itu berdiri mengenakan gaun putih, sementara laki-laki di sebelahnya merapikan jas sebelum kamera kembali diarahkan kepada mereka. Seorang fotografer sesekali meminta mereka mendekat, lalu tertawa ketika keduanya salah mengambil pose.

Dharma memperhatikan cukup lama.

Aku tahu tatapan itu. “Ada apa, Dharma?”

“Lihat mereka.” Dharma terdiam sejenak. Lalu dia menyandarkan punggungnya ke kursi. “Hanya saja terlintas di pikiranku. Bilamana dulu kita tidak menyerah, kira-kira akankah kita bisa menjadi seperti mereka?”

Kesekian kalinya aku menatap Dharma dengan mulut yang masih membungkam.

Dharma menoleh ke arahku. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat suasana menjadi canggung.” Salah satu kakinya menginjak pedal gas.

“Tidak apa-apa.” Aku menghela napas sejenak. “Aku yang seharusnya meminta maaf, Dharma.” Pada akhirnya aku merasa lambat laun kalimat itu harus aku keluarkan dari mulutku. “Setelah sedikit mengetahui orang seperti apa ibuku, aku menyadari bahwa selama ini aku tidak pernah benar-benar hadir dalam hidupku sendiri. Setiap kali seseorang datang dalam hidupku, aku mendorongnya untuk keluar. Belakangan aku juga memahami bahwa hanya karena aku menolak untuk memproses duka yang timbul semenjak kepergian Ibu, bukan berarti duka itu akan hilang begitu saja.

“Aku rasa kebencian adalah satu-satunya hal paling mudah bagi manusia untuk memproyeksikan perasaan tidak menyenangkan yang sebenarnya lambat laun harus dihadapi,” tukasku.

Dharma menatapku lamat-lamat. Aku dapat merasakan mobil kami mulai melambat. Dharma membanting setir perlahan-lahan untuk berhenti sejenak di bahu jalan.

“Terima kasih, Rat. Mendengarmu mengatakan itu saja sudah membuatku senang.” Dharma tersenyum ke arahku. “Tapi, Rat. Kelak bilamana cinta kembali menemukanmu, aku ingin kamu menunjukkannya kepada orang yang kamu cintai. Alih-alih menyembunyikannya atau justru membuang orang tersebut dari hidupmu. Because we’re alive. Sangat hidup untuk menyemai cinta kepada sekeliling kita.”

Ucapan Dharma seolah membuka sebuah pintu di dalam hatiku. Lekas aku menyadari bahwa cinta ternyata tidak pernah meninggalkan hidupku. Hanya saja mungkin dia menyamar menjadi pelbagai bentuk yang ada kalanya sulit aku kenali. Namun, itu tidak mengubah arti cinta.


“Aku rasa kita tidak pernah gagal dalam hubungan ini,” celetuk Dharma.

Aku tersentak mendengar kalimat itu.

“Hanya saja kita berhenti untuk menjadi pasangan.” Dharma terkekeh. “Buktinya sekarang kita masih bisa duduk dalam satu mobil, pergi ke pegadaian, bahkan masih bisa saling mengejek.”

Aku ikut tertawa kecil. “Berarti sekarang kita bisa menjadi sahabat, mungkin?”

“Ide yang bagus.” Dharma tertawa.

“Lagipula, mungkin kita memang harus mencari cinta lewat jalannya masing-masing.”

Aku mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kabar ibu Dharma. Dharma bercerita singkat tentang perempuan yang selalu dia sebut setiap kali sedang membicarakan rumah. Tidak banyak yang berubah terkait dengan bagaimana Dharma menceritakan ibunya. Sosok yang hangat meskipun harus menghabiskan masa tuanya sendirian di rumah. Ada kalanya Dharma merasa buruk karena harus pergi dari rumah untuk bekerja. Namun, ibunya justru yang meminta Dharma untuk meninggalkan rumah dan tidak perlu menjadikan hal tersebut sebagai masalah.

Setelah itu, giliran aku menanyakan kehidupan percintaannya. “Sekarang, masih sendiri?”

“Hm … Aku rasa untuk sementara demikian.”

“Benarkah? Tidak jadi dengan perempuan yang di kencan buta itu?” Aku menyinggung terkait kejadian beberapa waktu lalu saat tanpa sengaja bertemu Dharma di salah satu agenda pemotretan.

“Doakan yang terbaik saja.” Dharma tersenyum dan membanting setir. Lalu kakinya menginjak pedal gas. Membuat mobil kami kembali ke jalur dan melanjutkan perjalanan.

Pegadaian berikutnya lebih kecil dari tempat sebelumnya. Ruang tunggunya hanya diisi beberapa kursi plastik dan sebuah televisi yang menayangkan berita tanpa suara.

Kami duduk menunggu nomor antrean. Ponselku masih berada di tangan ketika pesan dari penyeranta kembali terlintas di kepala. KM SIAPA?

“Eh, iya. Kemarin malam orang dari penyeranta itu membalas pesan kita. Aku bingung harus menjawab apa. Dan bagaimana cara menggunakan alat ini?” tanyaku seraya menyodorkan penyeranta itu kepada Dharma.

Dharma melihat ke layar kecil pada penyeranta tersebut. “Agar lebih cepat, aku rasa tidak ada salahnya meminta lokasinya.”

“Bukankah dari pembicaraan terakhir, kita merasa itu terlalu terkesan seperti penculik?”

“Perhalus saja. Bilang ‘kita harus bertemu’” ujar Dharma.

Aku menghela napas. “Baiklah. Setidaknya ajarkan bagaimana cara berkirim pesan dengan alat ini.”

Dharma kemudian mengambil ponselku dan menjelaskan cara mengirim pesan melalui penyeranta. Dia membalikkan alat tersebut, lalu menunjukkan beberapa kode numerik yang ditulis di atas kertas putih dan menempel di punggung penyeranta tersebut. “Ini adalah nomor penyeranta dari orang yang akan menerima pesan kita. Tapi kita harus menggunakan layanan pihak ketiga.”

Dharma mengeluarkan ponselnya, lalu memencet beberapa tombol angka yang berbeda dengan angka yang tertera di punggung penyeranta tersebut. Lalu dia mengarahkan layar ponselnya ke hadapanku. “Kamu perlu menghubungi penyedia layanan melalui nomor ini untuk membantu berkirim pesan lewat penyeranta.” Kemudian Dharma menekan tombol panggil.

“Bilamana operator di ujung sana sudah mengangkat, sebutkan terlebih dahulu nomor penyeranta dari penerima pesan. Kemudian lanjutkan dengan menyebut pesan apa yang akan kamu kirim. Harus singkat.”

Aku mencoba memikirkan matang-matang. “Kita harus bertemu,” ujarku. “Apakah seperti itu sudah cukup singkat?”

Lihat selengkapnya