Sudah hampir sepekan sejak malam ketika Pram mengatakan bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan. Sejak saat itu, ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Tidak terlalu besar untuk bisa disebut sebagai perubahan, tetapi cukup untuk membuatku menyadarinya. Pesannya menjadi lebih singkat. Tawanya tidak lagi muncul sesering sebelumnya. Bahkan ketika kami sedang mengerjakan pemotretan, Pram lebih banyak sibuk dengan kameranya daripada mengajakku berbicara seperti biasanya. Setiap kali kutanyakan keadaannya, jawabannya selalu sama. “Tidak apa-apa.”
Aku mulai curiga bahwa kalimat itu adalah cara paling mudah seseorang menyembunyikan sesuatu.
Pagi itu, sebuah nama kembali muncul dari tumpukan arsip yang sedang kubuka. Penulis kolom surat kabar yang pernah mewawancarai Ibu. Orang yang selama ini hanya kukenal sebagai nama di balik sebuah artikel dan sebuah bingkisan yang aku temukan di kamar Ibu.
Dengan bantuan Lindah, perempuan dari bagian publisitas di perusahaan Rianti, akhirnya sebuah pertemuan berhasil diatur. Penulis tersebut bersedia menerima kami, tetapi meminta agar pertemuan dilakukan di rumahnya. Kali ini Dharma dan Rianti ikut.
Rumahnya berada di sebuah gang yang tidak terlalu ramai. Dari luar, tidak ada yang istimewa. Bangunannya sederhana dengan cat yang mulai pudar di beberapa bagian. Namun begitu pintu dibuka, suasananya berubah. Rak-rak buku memenuhi hampir seluruh dinding ruang tamu. Buku-buku lama berdiri berdempetan dengan tumpukan surat kabar, majalah, dan beberapa map yang sudah menguning. Di atas lemari terdapat piala, plakat, dan beberapa penghargaan jurnalistik yang diletakkan tanpa susunan khusus.
Perempuan paruh baya itu menyambut kami dengan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku. “Ratih?”
Aku mengangguk. “Iya, Ibu.”
Dia tersenyum. “Mari masuk. Silakan duduk.” Perempuan tersebut memandang kami sejenak. “Saya Laksmi.”
Kemudian aku memperkenalkan Rianti dan Dharma yang datang bersamaku hari itu.
Kami duduk berhadapan. Pertanyaannya datang satu demi satu, mulai dari proyek pameran, alasan aku mencari suara Ibu, sampai bagaimana aku bisa mengetahui bahwa dia pernah melakukan wawancara dengan Ibu.
Aku menjawab sebisanya.
Setelah percakapan cukup panjang, akhirnya aku mengeluarkan sebuah foto lama yang kubawa sebagai penanda.
“Ibu masih mengingat wawancara ini?”
Dia mengambil foto itu dan memperhatikannya. “Sudah lama sekali. Wawancara dengan ibumu ini adalah salah satu yang aku lakukan di awal karirku. Berita tentangnya membuatku berhasil mendapatkan salah satu kolom di edisi koran mingguan terlaris kami.” Lantas Bu Laksmi beranjak sejenak untuk membuka salah satu laci yang terlihat berisi beberapa tumpukan koran. Kemudian dia kembali dengan satu bendel koran di tangannya.
“Saya mengingat jelas wajahnya,” tukas Bu Laksmi sembari membuka koran di tangannya hingga berhenti di salah satu halaman. Telunjuknya bertengger di salah satu kolom pada halaman tersebut.
Aku mendapati foto Ibu yang saat itu masih cukup muda dipotret menggunakan kemeja kotak-kotak dengan rambut panjangnya terkuncir. Dia menghadap ke arah kamera dengan sebuah senyuman merekah di wajahnya. Terdapat satu kalimat yang menjadi judul dari artikel tersebut. Kisah Trauma Cleaner dan Jejak Peristiwa yang Tersisa di Sebuah Ruangan.
Aku menahan napas. Itulah sebutan untuk pekerjaan yang dilakukan Ibu. “Ketika melakukan wawancara dengan narasumber, apakah Ibu Laksmi biasanya merekam wawancara tersebut?”
Bu Laksmi mengangguk mantap. “Saya selalu melakukannya. Bahkan untuk wawancara yang hanya memakan waktu singkat saja. Itu membantu saya untuk menyusun artikel agar tidak ada bagian yang terlewat.”
Aku merasa secercah harapan muncul dari balik dadaku. “Apakah Ibu masih menyimpan rekaman suara dari wawancara itu?”
Dia terdiam sebentar, lalu menatap ke arah rak-rak buku di belakangnya. “Saya tidak yakin. Namun, saya akan coba bantu cari.” Bu Laksmi berdiri dan mulai memeriksa beberapa kardus di bawah rak. “Kalau kasetnya belum rusak atau hilang, mungkin masih ada.”
Rianti segera mengeluarkan kartu namanya dari dompet. “Kalau nanti ketemu, Ibu bisa kirim ke kantor saya.”
Penulis itu menerima kartu tersebut.
Aku menoleh kepada Rianti. “Kenapa ke kantor?”
“Nanti aku bantu kurasi dulu.”
Rianti menatapku.
Dharma ikut mengeluarkan kartu namanya. “Kalau lebih dekat, bisa ke saya. Saya bisa bantu sortir.”
Rianti menoleh kepadanya. “Boleh juga.”
Aku hanya mengangguk.
Setelah beberapa saat mencari, penulis itu belum menemukan apa yang kami cari. Dia berjanji akan menghubungi kami jika rekaman tersebut ditemukan.
Saat kami bersiap pulang, Rianti tiba-tiba bertanya kepadaku, “Rat, bagaimana kabar Pram?”
Aku mengerutkan dahi. “Tidak tahu. Mengapa tanya soal Pram?”
“Hanya saja aku jarang melihat kalian berdua belakangan ini.”