Panti jompo selalu membuatku bertanya-tanya tentang hal yang sama. Apa yang membuat seorang anak memutuskan menitipkan orang tuanya di tempat seperti ini?
Pertanyaan itu muncul sejak mobil kami memasuki halaman panti. Dari balik kaca, kulihat beberapa orang tua duduk di teras, sebagian berbicara dengan sesama penghuni, sebagian lain hanya menatap halaman. Ada yang menyiram tanaman. Ada yang tertidur di kursi roda. Ada pula yang memegang telepon dengan kedua tangan, seolah sedang menunggu seseorang menghubungi mereka.
Aku tidak tahu apakah anak-anak mereka datang secara berkala. Tidak tahu apakah ada yang masih rutin mengirimkan makanan, pakaian, atau sekadar kabar. Barangkali ada alasan yang tidak pernah bisa diketahui orang luar. Barangkali kehidupan memang membuat seseorang harus memilih antara tinggal dan pergi.
Pram mematikan mesin mobil. “Sudah sampai.”
Aku mengangguk dan mengambil kamera dari kursi belakang. Hari ini kami tidak datang sekadar untuk memotret. Pihak panti sedang mengadakan kegiatan menulis memoar bagi para penghuninya. Mereka menyediakan meja-meja panjang di aula, kertas kosong, pena, dan beberapa foto lama yang boleh digunakan sebagai pemantik ingatan.
Di dalam aula, beberapa orang tua sudah duduk dengan kepala tertunduk di atas lembaran kertas. Ada yang menulis dengan lancar. Ada yang hanya menatap kertas selama beberapa menit sebelum akhirnya membuat satu baris pendek.
Seorang petugas menghampiri kami. Usianya mungkin tidak terpaut jauh di atas kami. Ia mengenakan kemeja sederhana dengan tanda pengenal yang tergantung di dada. “Ratih dan Pram?”
“Iya, benar, Mbak.”
“Saya yang akan menemani kalian hari ini.”
Aku memperhatikannya sebentar. Entah kenapa, melihat seseorang menghabiskan hari-harinya bersama orang-orang tua membuat pikiranku langsung mencari sebuah alasan. Mungkin dia merawat mereka karena mengingat ibunya. Mungkin karena pernah kehilangan seseorang. Mungkin karena memiliki hubungan yang belum selesai dengan keluarganya sendiri.
“Mbak, sudah lama bekerja di sini?” tanyaku.
“Hampir lima tahun.”
“Wah, luar biasa. Betah ya berarti, Mbak?”
Dia tersenyum. “Betah.”
Aku mengangkat kamera. “Boleh saya tahu kenapa?”
Dia tidak langsung menjawab. Matanya beralih ke beberapa penghuni panti yang sedang menulis. “Saya tidak pernah mengenal ibu dan ayah saya.”
Tanganku berhenti di udara. “Tidak pernah?”
Dia menggeleng. “Saya ditinggal di panti asuhan sejak kecil. Jadi saya tumbuh tanpa tahu seperti apa rasanya punya orang tua.” Senyumnya kembali muncul, tipis. “Di sini saya bisa melihat orang-orang tua menjalani hari-hari tua mereka. Kadang saya membantu mereka makan, menyiapkan air hangat untuk mandi, sampai mendengarkan cerita mereka. Rasa-rasanya seperti saya sedang dekat dengan kedua orang tua saya sendiri.” Dia tertawa kecil. “Hanya saja yang berbeda, di sini saya bisa melihat mereka menua. Melihat rambutnya memutih. Melihat tangannya mulai gemetar. Sesuatu yang tidak pernah sempat saya lihat dari orang tua saya.”
Aku menurunkan kamera sebentar. “Boleh saya foto?”
“Eh, boleh.” Dia berdiri di dekat jendela. Cahaya pagi jatuh di sisi wajahnya. Tidak ada pose khusus. Dia hanya berdiri sambil melihat orang-orang tua di dalam aula. Kutekan tombol rana beberapa kali. Klik! Sebuah potret sederhana.
Petugas itu kemudian mengantar kami menemui seorang penghuni yang cukup dikenal. Dahulu wajahnya sering muncul di majalah. Ia pernah menjadi model dan bintang iklan ketika masih muda. Di usia yang sudah jauh berbeda dari foto-foto di masa kejayaannya, perempuan itu duduk di depan cermin sambil menyisir rambutnya.
“Beliau suka menulis memoar,” kata petugas itu.
Perempuan itu menoleh kepada kami. “Wah, adik-adik fotografer?”
“Iya, Nek.”