Aku, Dharma, dan Rianti—yang mengabarkan bahwa dirinya bisa ikut beberapa jam sebelum kami berangkat—menunggu di parkiran rumah susun sejak matahari belum terlalu tinggi. Bangunan-bangunan yang mengelilingi tempat itu membuat udara terasa pengap, sementara suara kendaraan dari jalan raya terdengar bersahutan dari balik pagar. Dharma duduk di kursi pengemudi, sesekali melihat jam di dasbor. Rianti berdiri di samping mobil sambil memainkan ponselnya. Aku sendiri beberapa kali melirik ke arah pintu masuk rumah susun, menunggu sosok yang sejak beberapa hari terakhir terasa semakin dekat sekaligus semakin asing dalam hidupku.
Malika seharusnya turun beberapa menit lagi.
Tiba-tiba mesin mobil Dharma mengeluarkan suara kasar. Ia mencoba menyalakannya kembali, tetapi mesin hanya menggeram sebentar sebelum mati.
“Ada apa?” tanyaku.
“Entah. Sepertinya ada yang bermasalah.”
Dharma keluar dari mobil, lalu membuka kap mesin. Aku ikut turun dan berdiri di sampingnya. Beberapa bagian mesin diperiksa satu per satu. Tangannya bergerak membuka kabel dan memeriksa sambungan yang entah bagaimana masih bisa kupahami dari kebiasaanku membantu Paman memperbaiki barang-barang di kios.
“Coba sini,” kataku.
Dharma bergeser. Aku memeriksa bagian yang menurutku longgar, lalu meminta sebuah kunci pas darinya. Beberapa menit kemudian, setelah sambungan dikencangkan dan mesin kembali dinyalakan, suara mobil itu terdengar normal.
“Bisa?” tanya Dharma.
“Coba hidupkan.”
Mesin menyala. Dharma tertawa kecil. “Ternyata fotografer juga bisa jadi montir.”
“Jangan terlalu senang. Bisa jadi tadi cuma beruntung.”
Ketika menutup kap mesin, kulihat Rianti dan Bibi berdiri agak jauh dari kami. Rianti sedang mengatakan sesuatu kepada Bibi. Suaranya terlalu pelan untuk kudengar seluruhnya. Hanya satu kata yang sempat tertangkap. “Bahaya.”
Aku berjalan mendekat. “Apa yang bahaya?”
Rianti langsung menoleh. “Hah?”
“Tadi aku mendengar kamu bilang bahaya.”
Dia tersenyum canggung. “Oh, mengemudikan mobil yang sempat mogok itu berbahaya.”
Aku memandangnya beberapa detik. “Hanya itu?”
“Iya.”
Bibi tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum tipis sebelum masuk ke mobil.
Perjalanan menuju rumah Paman berlangsung lebih sunyi dari biasanya. Dharma mengemudi di depan, Rianti duduk di sebelahnya, sedangkan aku bersama Malika di kursi belakang. Sesekali Malika melihat keluar jendela. Tangannya berkali-kali merapikan rambut yang jatuh di bahu.
“Bibi takut?” tanyaku.
Bibi terdiam sebentar. “Sedikit.” Kemudian dia mengangguk. “Sudah terlalu lama.” Ia menarik napas panjang. “Meski begitu Bibi lebih merasa ada beberapa hal lain yang lebih menakutkan daripada bertemu orang yang pernah membencimu.”
Aku menunggu.
“Bibi lebih takut meninggal sebelum sempat meminta maaf.”