Jogja menyambut kami dengan udara yang terasa berbeda dari kota tempat kami berangkat. Setelah berjam-jam duduk di dalam mobil, punggungku terasa kaku dan mataku berat, tetapi ada sesuatu dalam perjalanan ini yang membuatku tidak benar-benar bisa memejamkan mata. Jalanan yang kami lewati terasa seperti bagian dari cerita yang belum pernah kukenal, meskipun nama kota ini sudah beberapa kali muncul dalam percakapan Paman. Di sinilah sebagian masa lalu keluargaku pernah berlangsung. Di sini pula mungkin ada bagian dari Ibu yang selama ini tidak pernah sampai kepadaku.
“Ratih.”
Aku menoleh ke arah Bibi yang duduk di depan.
“Ayah belum bisa ditemui sekarang. Masih cuci darah.”
Paman mengangguk dari kursi pengemudi.
“Kalau begitu kita ke Sinta dulu.”
Bibi membuka ponselnya, melihat catatan alamat yang diberikan Paman sebelum kami berangkat. Rumah itu tidak lagi sama dengan yang pernah ditempati Sinta bertahun-tahun lalu. Kami berhenti di depan sebuah rumah yang lebih sederhana, dengan halaman kecil dan beberapa tanaman dalam pot.
Seorang perempuan membuka pintu setelah kami mengetuk.
Ia memandang Paman terlebih dahulu, kemudian Bibi, lalu akhirnya berhenti cukup lama ketika melihatku. “Ratih, ya?”
Aku mengangguk.
Perempuan itu tersenyum samar. “Masuklah.”
Rumahnya tidak besar. Ruang tamunya hanya berisi sebuah sofa, meja kayu, rak buku dan beberapa tanaman yang diletakkan dekat jendela. Tidak banyak barang yang memenuhi ruangan. Bahkan beberapa dinding tampak sengaja dibiarkan kosong.
Aku mengeluarkan micro cassette dari tas. “Boleh saya putar?”
Sinta mengangguk.
Dharma sudah membantu menyiapkan alat pemutar yang kami bawa. Ketika suara dari kaset itu mulai terdengar, Sinta yang semula duduk santai perlahan menegakkan tubuh.
Suaranya di masa muda memenuhi ruangan. Suara yang hingga saat ini belum terdapat kelanjutannya setelah Sinta menyebut nama lengkap Ibu. Sinta menutup mulutnya dengan tangan. Beberapa detik kemudian, ia menarik napas panjang. “Masih ada,” katanya pelan.
Aku menatapnya. “Apa yang terjadi saat itu?”
“Itu adalah ketika kita mengikuti audisi untuk bergabung ke komunitas penyiar radio di sekolah. Ajeng merekam suaraku, tetapi aku rasa saat itu perekam suaranya rusak dan hanya menangkap awalan dari skrip siaran yang aku baca,” jelasnya.
“Apakah ada rekaman suara lain?”
Sinta melihat sekeliling rumahnya. “Beberapa tahun terakhir saya mencoba hidup lebih sederhana. Saya membuang banyak barang. Foto, buku lama, pakaian, kaset-kaset yang sudah tidak pernah saya putar lagi.” Ia tersenyum kecil. “Awalnya terasa melegakan.” Sinta menunduk. “Waktu itu saya pikir saya harus berhenti menyimpan benda-benda yang membuat saya sedih.” Ia terdiam cukup lama. “Padahal ternyata membuang bendanya tidak membuat sesuatu dalam diri saya merasa sudah tuntas.”
Aku menatap micro cassette di meja.
“Suara Ajeng sering membuat saya sedih,” lanjutnya. “Suatu hari saya dengarkan lagi. Setelah itu, setiap kali mendengar suaranya, saya teringat hari-hari terakhir kami bertemu—sebelum Ajeng meninggalkan kota dengan Mas Matius dan ibunya. Dia tidak banyak bicara. Setelah itu dia pergi.”
“Kalau begitu, adakah dalam ingatan Tante yang bisa mendeskripsikan bagaimana suara ibuku?”
Sinta tersenyum. Pertanyaan itu rupanya lebih sulit daripada yang kukira. Ia memejamkan mata sebentar. “Suara Ajeng itu tidak keras. Tetapi khas, serak-serak basah. Kalau dia sedang berbicara tentang sesuatu yang dia sukai, suaranya bisa berubah. Lebih cepat. Seperti orang yang takut kehabisan waktu.” Sinta tergelak dalam ingatannya. “Dia juga punya kebiasaan tertawa sebelum menyelesaikan kalimatnya.”
Entah kenapa, deskripsi sederhana itu membuat sesuatu bergerak di dalam kepalaku. Sebuah tawa yang tidak bisa kuingat. Suara yang mungkin pernah kudengar pada masa-masa ketika ingatanku belum sempurna.
Sinta kemudian bangkit dan mengajakku ke ruang belakang. “Ada sesuatu yang mungkin bisa membantu.” Ia mengambil sebuah buku kenangan dari dalam lemari.
Buku itu sudah menguning di bagian tepinya. Beberapa halaman berisi tulisan tangan dan foto-foto masa sekolah. Ia membuka halaman demi halaman sampai menemukan sebuah foto. Ibu. Masih muda. Rambutnya lebih panjang. Wajahnya belum memiliki garis-garis yang selama ini hanya kukenal melalui foto pernikahan yang sudah usang. Di sampingnya ada beberapa perempuan lain.
Aku mengambil napas. “Ini Ibu?”
Sinta mengangguk.
Aku memotret foto tersebut dengan ponsel.
“Kalau suatu hari Tante menemukan kaset lain atau kepingan lain tentang ibuku. Tolong kabari Ratih, boleh?”