Seekor Domba dengan Duka di Kepalanya

Noor Cholis Hakim
Chapter #33

Potret Dahan Tua

Dharma meninggalkan kami setelah memastikan Rianti sudah cukup baik untuk duduk sendiri. Dari balik kaca gedung rumah sakit, aku melihatnya berjalan menjauh menuju lorong, sesekali menoleh seperti ingin memastikan keduanya baik-baik saja sebelum benar-benar pergi. Taman rumah sakit sore itu tidak banyak berubah dari yang aku lihat sebelumnya. Beberapa kursi besi berjajar di bawah pohon, suara kendaraan terdengar samar dari jalan raya, dan udara membawa bau tanah yang baru saja disiram.

Rianti duduk di sampingku dengan kedua tangan bertumpu di pangkuan. Wajahnya tampak lebih tenang dibandingkan ketika pertama kali ditemukan pingsan, tetapi ada sesuatu yang membuat diriku merasa ketenangan itu hanya lapisan tipis yang mudah robek.

“Ini ada hubungannya sama waktu itu?” tanyaku. “Waktu kamu pertama kali meminta aku mengerjakan proyek ini?”

Rianti tidak segera menjawab. Matanya mengarah ke pucuk pohon di hadapan mereka. Beberapa daun bergerak tertiup angin, sementara satu-dua helai yang sudah menguning terlepas dan jatuh di antara rerumputan. “Ada.”

Ratih menunggu.

“Hanya saja aku tidak mau jika nanti aku meninggalkanmu, kamu akan berakhir membenciku, Rat. Sama seperti bagaimana kamu mendorong ingatan tentang ibumu.”

Kalimat itu terdengar begitu biasa, tetapi justru karena itulah aku merasa tenggorokanku mengeras. “Maksud kamu?”

“Aku ingin kamu punya hati yang lebih lapang sebelum semuanya terlambat.” Rianti tersenyum kecil, meskipun matanya tidak ikut tersenyum. “Makanya aku ingin kamu bertemu banyak orang. Melihat macam-macam cara orang mencintai, kehilangan, mengingat, bahkan melupakan. Aku pikir mungkin dari situ kamu bisa mengerti kalau satu orang bisa punya banyak alasan untuk melakukan sesuatu.”

Aku terdiam. Sebagian dari diriku mencoba memproses apa yang terjadi saat ini.

“Barangkali duka adalah buah tangan dari cinta, Rat. Aku ingin kita saling mengasihi sebelum akhirnya berpisah,” lanjutnya.

Aku menundukkan kepala. “Siapa yang menghamilimu?”

Rianti menggeleng. “Aku belum tahu.”

Lihat selengkapnya