Sebelum meninggalkan rumah itu, aku kembali menemui Kakek. Lelaki tua itu masih duduk di ruang tengah, di kursi yang sama sejak kami tiba, dengan kedua tangannya bertumpu pada tongkat. Rumah sebesar itu terasa terlalu sunyi untuk dihuni seorang diri. Beberapa foto keluarga tergantung di dinding, sebagian mulai pudar dimakan usia. Aku berdiri di hadapannya dan untuk beberapa saat tidak tahu harus mengatakan apa. Ada begitu banyak hal yang baru saja kuketahui tentang keluargaku, tetapi tidak semuanya membutuhkan jawaban.
“Kakek tidak perlu terus menyalahkan diri sendiri,” ujarku akhirnya.
Kakek mengangkat wajahnya.
“Mungkin dulu banyak hal yang Kakek lakukan tidak bisa dibenarkan. Mungkin ada keputusan yang seharusnya tidak diambil dan berujung menjadi hal yang sekarang kita rasakan. Tapi tidak apa-apa, Ratih rasa jika Ibu masih hidup, Ibu tidak membenci Kakek.”
Aku sendiri tidak pernah benar-benar mengenal Ibu. Yang tersisa dalam kepalaku hanya fragmen-fragmen kecil, suara yang semakin kabur, wajah yang tidak lagi mampu kususun dengan sempurna. Namun semakin banyak orang bercerita tentang perempuan itu, semakin aku merasa bahwa kebencian yang selama ini kupelihara tidak sepenuhnya cocok dengan sosok yang mulai terbentuk di kepalaku.
“Ibu mungkin kecewa. Mungkin marah. Tapi Ratih rasa Ibu bukan orang yang bisa berlama-lama hidup dengan kebencian.” Aku menarik napas cukup panjang. “Ibu lebih memilih kasih sayang daripada kepahitan dalam keluarga.”
Kakek menunduk.
“Mungkin sebagian itu juga diwarisi Ibu dari Kakek.”
Tidak ada jawaban. Hanya gerakan kecil kepala Kakek yang mengangguk, tetapi setidaknya aku merasa bahwa kalimatku berhasil memberikan ruang bagi seseorang untuk berhenti menghukum dirinya sendiri.
Aku berpamitan bersama Rianti dan Dharma. Perjalanan meninggalkan rumah itu berlangsung dalam diam. Rianti duduk di kursi belakang bersamaku, sementara Dharma menyetir. Setelah beberapa menit, Rianti menyandarkan kepala ke jendela. Wajahnya terlihat lelah, tetapi tidak lagi setegang sebelumnya.
“Ibu kamu ada di rumah?” tanya Dharma.
“Seharusnya demikian,” jawab Rianti.
Ketika kami tiba, rumah itu justru tampak seperti sudah lama ditinggalkan. Pintu depannya tidak terkunci. Tidak ada suara televisi, tidak ada suara piring beradu dari dapur, bahkan kipas angin yang biasanya terdengar dari ruang tengah pun mati. Rianti masuk lebih dahulu dan memanggil ibunya beberapa kali. Tidak ada jawaban.
Aku berjalan menyusuri ruang tamu. Di atas sebuah kursi, kulihat tas yang kukenal. Tas Pram.
“Bukankah ini punya Pram?” tanyaku.
Rianti menatap tas itu. Wajahnya berubah. “Aku tahu dia ke mana.”
“Ke mana?”
Rianti tidak menjawab. Ia hanya mengambil ponselnya dan berjalan keluar rumah.
Dharma segera mengikuti kami. Beberapa saat kemudian mobil kembali bergerak menuju pantai yang tidak terlalu jauh dari sana. Jalanan mulai dipenuhi angin asin. Semakin dekat, suara kendaraan perlahan kalah oleh suara laut yang menghantam garis pantai.
Dari kejauhan, kulihat dua sosok berdiri di tepi air. Pram dan Tante Mirda.
Rianti turun sebelum mobil benar-benar berhenti. Ia berlari kecil menghampiri ibunya. Aku menyusul, tetapi tanganku justru menarik lengan Pram begitu sampai di dekat mereka.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku kepada Pram.