Tiga bulan sebelum pameran, aku mulai belajar bahwa tidak semua perjalanan harus terus dipaksa bergerak.
Setelah begitu banyak nama, tempat, benda, dan cerita yang membawaku semakin dekat kepada sosok Ibu, aku memutuskan untuk berhenti sejenak. Tidak untuk menyerah, hanya memberi ruang bagi kepala untuk mengendapkan semua yang telah aku temukan sejauh ini. Suara Ibu masih menjadi sesuatu yang ingin kutemukan, tetapi untuk sementara aku tidak ingin lagi mengejar sesuatu yang mungkin justru semakin menjauh setiap kali dipaksa untuk didekati.
Sebagai gantinya, pertemuanku dengan Dharma menjadi lebih sering. Kami menghabiskan banyak waktu di depan layar, menyusun potongan-potongan gambar dan video dari perjalananku selama beberapa waktu ke belakang menjadi karya pamungkas yang akan menjadi penutup pameran nantinya.
Dharma bekerja dengan teliti, memindahkan satu adegan ke adegan lain, sementara aku duduk di sampingnya dengan beberapa lembar catatan yang penuh coretan. Wajah-wajah yang pernah kami temui muncul bergantian di layar: perempuan yang bekerja di lampu merah, anak-anak di taman bermain, ibu yang baru melahirkan, penghuni panti jompo, para lelaki di klub malam, hingga lorong-lorong rumah sakit yang sempat kami datangi. Semuanya seperti membawa sepotong kecil dari kehidupan mereka untuk kemudian ditinggalkan di dalam film pendek yang sedang kami susun.
“Kalau sampai akhir kita tidak menemukan suara Ibu, bagaimana?” tanyaku.
Dharma menghentikan jemarinya di atas tetikus. “Kita tetap memiliki film ini. Bukankah begitu?”
“Aku tahu. Tapi rasanya seperti ada bagian yang hilang.” Tentu saja sebenarnya film yang kami susun ini sudah disepakati oleh Matera sebagai ganti dari suara ibuku.
“Memang mungkin hilang.”
Kutatap layar yang masih membekukan wajah seorang ibu dengan bayinya. “Lalu?”
“Tapi aku yakin kamu bisa mencari cara supaya yang hilang itu tetap terasa ada.”
Jawaban Dharma sederhana, tetapi aku tidak membantah. Barangkali sebuah pameran tidak selalu harus memberikan semua jawaban kepada orang yang datang melihatnya. Ada hal-hal yang justru menjadi lebih berarti karena tidak pernah dijelaskan.
Di waktu yang sama, Pram dan Rianti mulai mengambil cuti dari pekerjaan. Rianti harus menjalani pengobatan sekaligus mempersiapkan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan akan datang secepat ini. Untuk sementara waktu, mereka akan tinggal di apartemen Pram. Unit itu mulai mereka isi sedikit demi sedikit. Ada beberapa perabot baru, beberapa barang bayi, dan daftar panjang urusan yang harus diselesaikan sebelum pernikahan. Pram pun lebih sering berada di apartemen bersamanya.
Detik berikutnya, Dharma mengajakku pergi ke suatu tempat. “Ratih, mau ke taman bermain denganku?” tawarnya.
Kutatap wajahnya seolah baru saja mendengar ajakan yang tidak masuk akal. “Kita?”
“Kamu bilang sudah lama tidak berlibur.”
Memang sudah lama. Selama beberapa bulan terakhir, hidupku dipenuhi kamera, rumah sakit, panti, galeri, kios loak, suara-suara dari kaset, dan nama-nama yang satu per satu mengubah cara pandangku terhadap Ibu. Aku bahkan hampir lupa bagaimana rasanya pergi ke suatu tempat tanpa membawa tujuan.