Sudah lama aku tidak pergi ke tempat seperti ini tanpa kamera yang harus digunakan untuk bekerja. Biasanya taman bermain hanya menjadi salah satu latar yang perlu kudatangi, tempat anak-anak berlarian untuk kemudian kuabadikan dalam bingkai. Kali ini Dharma mengajakku datang tanpa rencana. Hanya dua orang dewasa yang mencoba mengingat bagaimana rasanya bersenang-senang.
Kami menaiki beberapa wahana, berjalan menyusuri deretan permainan, lalu berhenti di depan bianglala yang bergerak perlahan. Dari atas, manusia terlihat seperti titik-titik kecil yang bergerak tanpa arah. Aku tertawa ketika Dharma mengeluh karena wahana itu terlalu tinggi. Setelah turun, kami mencoba permainan lain. Aku bahkan sempat memaksanya mengikuti permainan yang sejak tadi menarik perhatianku, meskipun beberapa kali dia menggerutu bahwa seharusnya orang seusia kami sudah tidak melakukan hal-hal seperti itu.
Aku banyak tertawa.
Di tengah riuh suara anak-anak, langkahku tiba-tiba terhenti. Di seberang sana, seorang anak perempuan berlari sambil menggenggam tangan ibunya. Perempuan itu tertawa ketika anaknya menunjuk sesuatu di depan mereka. Tidak ada yang istimewa dari pemandangan tersebut. Justru karena terlalu biasa, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di dalam kepala. Apakah pernah ada satu hari ketika aku berlari tanpa takut, sementara Ibu menggenggam tanganku dari belakang?
Aku mencoba menggali ingatan itu lebih dalam. Alih-alih yang muncul hanya beberapa warna yang tidak utuh, suara yang tidak jelas, dan sebuah tangan yang mungkin milik seseorang.
“Ratih?”
Aku menoleh.
Dharma berdiri beberapa langkah di belakangku. “Ada apa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku kembali berjalan bersamanya. Kami kemudian duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke deretan wahana. Aku menceritakan tentang Rianti. Tentang penyakitnya, kehamilannya, dan rencana pernikahannya bulan depan. Dharma mendengarkan tanpa menyela, sesekali hanya mengangguk ketika aku menjelaskan keadaan Rianti yang semakin membuatku khawatir.
“Pantas saja waktu itu Rianti lebih memilih untuk membuat pas foto sendiri. Alih-alih meminta bantuanku,” ujarku.