Aku dan Dharma berhenti di pinggir jalan ketika melihat sebuah pemotretan pre-wedding berlangsung di taman kecil di seberang kami. Sudah kedua kalinya aku melewati momen ini dengan Dharma. Sungguh ironi, pikirku.
Seorang fotografer mengarahkan pasangan yang berdiri berdampingan di bawah pohon, sesekali meminta mereka saling menatap, kemudian tertawa. Perempuan itu merapikan rambutnya sebelum kembali merapat kepada pasangannya. Beberapa kali fotografer meminta mereka berjalan menjauh, lalu berbalik ketika cahaya matahari mulai jatuh dari sela-sela dedaunan.
Aku memperhatikan dari kejauhan.
Entah kenapa, pemandangan itu terasa berbeda setelah semua yang terjadi beberapa bulan terakhir. Dulu aku hanya akan melihat komposisi, cahaya, gestur, dan kemungkinan bagaimana sebuah foto bisa dibuat lebih baik. Sekarang, aku justru melihat sesuatu yang lebih sederhana: dua orang yang sedang mencoba menyimpan satu fase kehidupan sebelum semuanya berubah.
“Bagus,” kata Dharma.
Aku mengangguk. “Bagus.”
Tidak lama kemudian, Rianti menghubungiku dan mengajakku pergi bersama. Dharma akan pergi dengan Pram untuk mengurus beberapa hal, sementara aku menemani Rianti mempersiapkan pernikahannya. Aku tidak keberatan. Justru setelah semua hal yang terjadi, aku merasa ingin berada di sampingnya sebanyak mungkin.
Kami mulai dari toko yang menjual berbagai kebutuhan pernikahan. Rianti membawa catatan panjang di ponselnya. Ada begitu banyak hal yang harus dipersiapkan: pakaian, cincin, sepatu, undangan, bunga, hingga berbagai benda kecil yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan olehnya.
“Kenapa menikah ternyata serumit ini?” keluhnya.
Aku tertawa. “Bukannya ini impian masa kecil kamu?”
Rianti hanya mengangguk pelan. Kami kemudian pergi ke tempat fitting gaun. Rianti masuk ke ruang ganti sementara aku menunggunya di luar. Ketika tirai akhirnya terbuka, aku sempat terdiam.
Gaun putih itu jatuh mengikuti tubuhnya. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuatnya terlihat berbeda dari Rianti yang kukenal selama ini. Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya hanya memakai riasan tipis hari itu. Ia berdiri di depan cermin sambil memperhatikan dirinya sendiri.
“Bagaimana?” tanyanya.
“Cantik.” Aku mengangguk.
Rianti tersenyum. Untuk beberapa detik dirinya hanya memandangi bayangannya sendiri. Mungkin dia sedang mencoba membayangkan bagaimana dirinya akan terlihat pada hari pernikahan nanti.
Kemudian dia menoleh kepadaku. “Sekarang kamu.”
Aku mengernyit. “Maksudnya?”
“Coba gaunnya.”
“Untuk apa?”
“Kamu kan yang akan menjadi pendampingku. Maid of honor,” ujarnya.
Aku tertawa kecil, tetapi akhirnya menurut. Ketika keluar dari ruang ganti dengan gaun yang akan aku gunakan sebagai pendamping mempelai, Rianti langsung tertawa.
“Ada apa?”